Begitu aku menutup pintu rumah Aro dan langkahku menjauh dari terasnya, dunia terasa bergeser sedikit demi sedikit—pelan, tapi menyakitkan. Siang itu menyala begitu terang, terlalu terang, seperti matahari sedang bersekongkol dengan panas dadaku yang sejak tadi kutahan keras-keras. Atau mungkin memang hanya aku yang sedang penuh oleh emosi yang tak punya tempat untuk jatuh.
Aku membiarkan Jelita masuk lebih dulu ke mobil, lalu menyusul duduk di kursi depan. Begitu tubuhku menyentuh sandaran, semua tenaga seolah menguap dari pori-pori. Nafasku coba kutata, tapi tetap saja bergetar tak terkontrol—seperti seseorang yang baru saja kehilangan pegangan.
Lalu ponselku bergetar.
Nama itu muncul.
Damar.
Tanpa sempat berpikir, aku mengangkatnya. Dan seketika, suaranya langsung membungkusku—hangat, stabil, menenangkan. Seperti seseorang yang datang membawa selimut ke malam yang terlalu panjang.
"Hai, sayang. Kamu udah di jalan pulang, kan?" suaranya pelan, hangat, seolah membelai ruang yang retak di dalam diriku.
Entah sejak kapan panggilan itu terasa begitu... menenangkan.
Keteganganku retak perlahan. Aku menyandarkan kepala ke jok dan membiarkan suaranya merembes jauh ke sudut-sudut dalam yang tadi aku seluruhkan rapat-rapat.
"Iya," jawabku nyaris berbisik. "Baru pulang dari rumah Aro. Jemput Jelita. Sekalian pamitan sebelum dia ke Melbourne besok."
Damar diam. Tapi itu bukan diam yang membuatku terasa sendirian. Itu diam yang memberi ruang. Diam yang menunggu. Diam yang menyodorkan tempat aman tanpa berkata apa-apa.
"Kamu oke?" tanyanya akhirnya.
Pertanyaan sederhana. Tapi caranya menanyakannya... seperti dia benar-benar siap menampung apa pun yang mungkin tumpah dariku. Bahkan kalau isinya berantakan.
Aku menarik napas panjang, tapi keluarnya gemetar. "Aku capek. Banget." Kutatap jarum jam di dasbor. Padahal baru pukul sepuluh pagi. Tapi rasanya matahari tepat berada di atas kepala, tapi dadaku seperti ditutup awan gelap yang tidak mau pergi.
"Can I come?" tanya Damar, suaranya turun, lembut. "Kalau kamu mau, aku ke rumah sekarang. Kita bisa ngobrol, atau diam aja. Aku cuma mau ada buat kamu. Nyanya lagi di rumah Ibuku, jadi aku bebas hari ini."
Aku menutup mata kuat-kuat. Kalimat itu saja sudah cukup membuat tenggorokanku panas. Selama bertahun-tahun, tak ada yang pernah menawarkan kehadiran dengan cara sesederhana dan setulus itu.
"Ngerepotin nggak? Kalau nggak, sini datang kerumah. Temenin aku," ucapku akhirnya. Jujur. Rawan. Tanpa topeng.
Dari seberang, aku bisa mendengar hembusan napasnya berubah—seperti senyum kecil yang tidak butuh dilihat untuk terasa.
"Oke. Aku berangkat setelah kamu sampai rumah."
Lalu, sebelum telepon terputus, suaranya turun satu nada lagi. Lebih dekat. Lebih hangat. Seperti bisikan yang berpindah melalui kabel. "Wi, kalau kamu butuh aku malam ini, aku ada. Beneran ada."
Tidak lama setelah percakapan kami di telepon. Kudengar suara gerbangku seperti terbuka. Aku membuka pintu bahkan sebelum Damar sempat mengetuk.
Ia berdiri di ambang dengan jaket hitam dan wajah yang—entah bagaimana—selalu berhasil membuat hatiku terasa kurang terlindungi. Begitu melihatku, matanya langsung melembut, seperti ia sedang memastikan bahwa aku benar-benar ada di depannya.
"Kamu," Ia menarik napas pelan. "Keliatan capek banget."
Aku hanya mengangguk. Tak ada energi untuk berpura-pura kuat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Right Here
Fiksi UmumSudah berapa tahun kami berpisah? 5 tahun betul? Selama itu aku merasa bebas hingga pertemuanku dengan pria berbuntut ini. Pertemuan ini, tidak seperti pertemuanku dengan yang sebelumnya. Berbeda. Aku seperti jatuh cinta. Kali ini dengan tepat. Semo...
