Right Here - 13

347 72 5
                                        

Damar beberapa minggu terakhir terasa berbeda. Intens. Dekat. Seperti ada ruang baru yang terbuka di antara kami tanpa kami sadari kapan tepatnya terjadi. Chat-nya semakin sering masuk—bukan lagi sekadar kabar atau kerjaan, tapi hal-hal kecil yang seharusnya tidak membuatku deg-degan... tapi nyatanya membuatku menunggu ponselku bergetar.

Udah makan?
Lagi di kantor kah?
Kamu suka kopi hitam atau latte? Aku nemu tempat enak.

Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu... lucu sekali bagaimana rasanya bisa berubah jadi sesuatu yang kutunggu. Aku yang biasanya keras, tiba-tiba terasa seperti remaja baru belajar jatuh cinta.

Telepon pun mulai intens. Kadang lima menit. Kadang tiga puluh menit. Kadang Damar cuma diam mendengarkan napasku dan bilang ia suka kedengarannya. Kadang ia cerita hal-hal kecil tentang harinya—tentang Nyanya, tentang klien, tentang bengkelnya. Kadang aku dan Damar menemani Jelita dan Vanya yang mengoceh tentang hari mereka di sekolah. Semua melalu telpon hari dimana kami belum bisa bertemu.

Dan lebih aneh lagi, aku mulai cerita balik. Tentang lelahku. Tentang aku. Tentang hal-hal yang bahkan Aro tidak pernah dengar saat kami masih bersama.

Hari itu, kami makan siang di rumahku. Vanya dan Jelita duduk di ruang tengah, sibuk membangun istana dari balok kayu. Dari kejauhan terdengar suara tawa Tita yang pecah, jelas sekali ia sedang sangat bahagia.

Tiba-tiba, ditengah kunyahan terakhir makan siangnya, Damar bertanya pelan, suaranya rendah dan hati-hati.

"Ini kita kapan bisa ngedate berdua? Tanpa anak-anak."

Aku terdiam sepersekian detik. Pertanyaan yang sudah lama berputar di kepala, tapi selalu kutahan untuk tidak jadi kenyataan.

"Kapan ya..." aku menarik napas, menimbang. "Kamu bisa titip Nyanya sama Bu Mang. Sementara aku titip ke Aro, malah jadi panjang. Titip ke mamanya Aro, nanti makin rame urusannya." jawabku. Walaupun aku tau kalau Tante Hanna, mantan Ibu Mertuaku tidak mungkin menolak ketika aku menitipkan Jelita dirumahnya. Yang ramai, tentu saja Aro dan segala komennya.

Damar hanya tersenyum—yang dia lakukan saat ia sebenarnya memikirkan sesuatu lebih dalam dari apa yang ia ucapkan. "Ya sudah, tunggu aja. Akan ada waktunya kita berdua."

Jawabannya sederhana. Tapi cara ia mengucapkannya membuatku ingin percaya.

"Gimana kalau Sabtu ini?" tanyaku tiba-tiba. Spontan. Berani. Dan mungkin sedikit bodoh.

Damar tertawa kecil, matanya memandangku lama. "Boleh, dinner romantis atau casual?"

Aku mendecih. "Ih, romantis-romantis. Kita udah tua tau."

Ia tertawa lebih keras kali ini. "Justru itu. Tua tuh pantasnya romantis. Terencana. Intentional."

Aku menggeleng sambil tersenyum.

"Mauri?" tanya Damar lembut. "Sabtu ini aku jemput?"

Aku mengangguk kecil. "Aku coba bilang ke Aro untuk titip Tita sebentar. Harusnya nggak masalah. Dia juga belum berangkat ke Melbourne."

"Hmm, ide bagus." Damar menunduk sebentar, jarinya mengetuk meja. Lalu ia menatapku lagi, kali ini lebih serius. "Tapi kalau dia nggak mau, kalau Aro bikin ribut, kamu bawa Jelita ke rumahku aja."

Aku menelan ludah. "Nggak apa-apa?" tanyaku ragu.

"Iya nggak masalah," jawabnya mantap. "Tita bisa main sama Nyanya, dan Bu Mang ada buat jaga mereka juga. Kamu nggak perlu bingung atau takut. Aku tau kamu butuh keluar sebentar. Kamu butuh, hidup lagi."

Ada sesuatu di dadaku yang bergerak. Sesuatu yang sudah lama membatu, seperti kini mencoba bernafas kembali.

Di ruang tengah, Tita tertawa keras karena sesuatu yang dibuat Vanya roboh. Damar menoleh ke arah suara itu, dan aku melihat sorot matanya melembut.

Right HereTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang