Right Here - 5

436 64 8
                                        

"Mana Tita?" Tanya Aro begitu aku sampai dirumahnya. Tidak tampak scooter kuning Deli di garasi, mungkin sedang belanja keluar.

"Kan uda kubilang nginap dirumah temannya dari kemarin pulang sekolah, sebentar jam 3 sore baru kujemput." Jawabku sembari meletakkan kotak makan yang aku beli untuk kami bertiga. "Deli mana?" Tanyaku.

Aro membuka kotak makan dan langsung memasukkan ke dalam microwave. "Belanja ke Pepito katanya."

"Ro, misalnya nih ya.." Aku menghela nafas pelan, "Aku travelling terus untuk keperluan kerja dalam waktu yang lumayan lama, apa nggak apa-apa ya untuk Jelita?"

Wajah Aro langsung berubah, "Travelling terus maksudnya?" Sambil meletakkan kembali kotak makan yang kubawakan. "Terus Jelita?"

"Jelita bisa sama kamu atau sama Neneknya kan? Tapi bukan itu poin-nya.."

"Nggak, begitu kita cerai, kamu yang minta hak asuh Jelita sepenuhnya sama kamu and I'm fine with that. Sekarang kamu minta Jelita dititip di aku atau Ibuku ketika kamu travelling?" Tanya Aro dengan suara cukup keras. "Tau gitu dari awal Jelita ikut aku, tinggal di Melbourne, sekolah di Melbourne biar sekalian kamu bisa bebas ngejar mimpi-mimpi kamu yang kemarin-kemarin ketunda."

Aku menghela nafas, ingin berdebat tapi aku tau hasilnya akan seperti apa. "Bukan gitu.."

"Ya terus?"

"Aku ambil promosipun, Jelita masih akan tetap sama aku kok. Hidup sama aku, belajar sama aku, cuma akan ada sesekali aku akan pergi keluar kota untuk kerja." Jawabku pelan.

"Ya jangan diambil promosinya. Kurang uang apa gimana sih? Segitunya banget ngejar promosi."

Aku menggelengkan kepalaku, emosiku tersulut. "Aku nggak kekurangan uang, ya wajar dong aku pengen kehidupanku sama Jelita lebih baik."

"Kurang baik apasih kehidupan kalian? Child support yang tiap bulan ku kasih itu apa kurang? Kamu kerja, antar jemput Jelita, jalan-jalan juga naik mobil kan? Bukan gerobak kan? Rumah juga udah lunas. Rumah itu pakai atap kok," Cerocos Aro.

"Sometimes you have to let go your old dream to pursue new dream, Wi." Ucap Aro sambil menuju pintu belakang.

Aku mengambil tasku menuju pintu keluar. Memilih pulang dan menenangkan pikiranku. Those dreams are not old. Itu masih menjadi mimpiku. Bahkan hingga saat ini.

"Tuh, malah pergi kalau aku uda tampar pakai kenyataan. Stop being selfish-lah, Wi. Kamu bukan bajang* lagi. Ada anak yang harus kamu pikir. Masak iya, kamu travelling sebulan lamanya terus kamu titip anak-mu sama orang lain."

Aku menoleh, "Apa ibu kamu orang lain? Apa kamu orang lain? Kalian kan masih ada hubungan darah sama Jelita. Aku titip ke Deli baru orang lain namanya."

"Kenapa bawa-bawa Deli sih.." Bisik Aro sambil mendengus.

"Kamu bebas ngejar mimpi kamu sampai punya restoran di luar negeri, terus aku nggak bisa ngejar mimpiku?" Tanyaku balik.

"Here we go again, mau sampai kapan kamu kayak gini? Kalau memang ingin kejar mimpi, please go a head. Silahkan. Hak asuk Jelita sama aku.

**

Ponselku terus berdengung di dalam tas. Mungkin Aro yang menelpon, mungkin juga hotel. Kubiarkan sampai akhirnya berhenti. Tapi tidak lama, kembali berdengung.

Kuparkirkan mobilku di sisi jalan. Ku buka tasku, nama Damar muncul sebanyak 12 kali. Tentu saja, ini sudah pukul 4 sore dan Jelita masih dirumah Vanya.

"Damar." Panggilku begitu suara halo terdengar dari seberang.

"Aku kira kamu jemput lebih awal?" Ujar Damar.

Right HereTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang