Play date.
Kedengarannya menyenangkan... setidaknya bagi orang lain.
Untukku? Entahlah. Sejak Jelita lahir, dunia sosialisasiku semakin mengecil. Sepulang kerja, aku hanya ingin pulang ke rumah dan menutup pintu. Menonton bersama Jelita, mencoba resep baru, membantu PR-nya, bersih-bersih, jalan-jalan sore, ke pantai. Semua dengan Jelita. Hidupku ya Jelita. Dan aku nyaman dengan itu.
"Kapan, Ma?" tanya Jelita lagi.
Jelita tidak pernah bosan menanyakan hal yang sama, kapan bisa main dengan Vanya. Padahal hampir tiap hari mereka bertemu di sekolah. Anak-anak memang aneh—atau justru jujur? Mereka ingin yang mereka inginkan, tanpa ragu.
"Mama belum tanya Papanya Vanya, Tita. Nanti malam Mama coba telepon lagi, ya," jawabku.
Itu bohong. Aku tahu itu. Sudah beberapa malam aku pura-pura menelpon Damar, lalu memberi alasan yang sama pada Jelita—sekolah, acara keluarga, kegiatan agama—apa pun untuk menunda pertemuan.
"Tapi Tita tanya Nyanya, katanya nggak ke mana-mana. Selalu di rumah." Jelita menyipitkan mata padaku. "Mama bohong, ya?" Jemarinya menusuk pinggulku, kecil tapi menusuk rasa bersalahku lebih dalam.
Belum sempat aku menjawab, Jelita sudah berlari mengambil ponselku.
"Video call Papa Vanya," pintanya tegas.
Aku menghela nafas kemudian mengabari Damar cepat melalui chat Whatsapp kalau kemarin-kemarin aku sedikit berbohong pada Jelita.
Damar:
Kenapa? Gak mau ketemu aku juga ya?
Me:
Bukan. Capek banget kerjaan di kantor.
Kebohongan kecil lainnya.
Damar:
Ya udah, kita aja yg ke sana.
Mataku membesar. Jelita masih berteriak-teriak di ruang tamu, meminta aku menelpon Damar sekarang juga. Aku menunduk ke arahnya.
"Sebentar, nak. Sekarang Mama telpon," ujarku, lalu kabur sebentar ke taman belakang.
Begitu telepon tersambung, aku langsung bicara, bahkan tanpa memberi kesempatan Damar bernapas.
"Jangan ke sini."
Damar tertawa pelan. "Halo juga."
Aku terpaksa ikut tertawa. "Halo, Damar. Tapi serius, jangan ke sini. Rumahku berantakan banget."
Tawanya kali ini lebih keras. "Terus kenapa? Kita nggak ada rencana menilai rumah kamu."
Aku mendengus. "Ya nggak enak aja. Rumah kamu oke banget, rumahku ya begini-begini aja. Kasihan anak-anak. Di sini nggak ada kegiatan apa-apa..."
"Wi." Suaranya lembut, tapi cukup tegas menghentikanku. "Kita ke rumah kamu bukan buat lihat rumah. Kita mau ketemu kalian. Mau hang out. Mau main sama anak-anak. Mau lesehan juga nggak apa-apa kok."
Aku terdiam sejenak, membiarkan kata-katanya meresap. Ada sesuatu yang tiba-tiba mengetuk dadaku.
"Kamu nggak masak juga nggak apa-apa," lanjutnya. "Aku sama Vanya yang bawa makanan."
"Ok, fine. Tapi jangan ledekin rumahku."
"Enggak, Wi." Dia tertawa kecil. "So... Saturday?"
"Saturday it is," jawabku. "Makanan aku aja yang siapin. Kalian cukup bawa diri."
"Is it a date... atau play date anak-anak?"
Pipiku langsung panas. "Maybe both?" jawabku lirih.
KAMU SEDANG MEMBACA
Right Here
Narrativa generaleSudah berapa tahun kami berpisah? 5 tahun betul? Selama itu aku merasa bebas hingga pertemuanku dengan pria berbuntut ini. Pertemuan ini, tidak seperti pertemuanku dengan yang sebelumnya. Berbeda. Aku seperti jatuh cinta. Kali ini dengan tepat. Semo...
