Right Here - 10

415 72 10
                                        

Aku menarik napas panjang sebelum menatap kedua anak itu bergantian. Dadaku terasa sesak—bukan karena aku tak ingin bicara, tapi karena aku tak tahu harus mulai dari mana. Ada sesuatu yang harus keluar, sesuatu yang sudah terlalu lama kutunda, namun tetap saja lidahku terasa berat.

"Tita..." panggilku pelan.

Jelita menatapku dengan mata bening yang penuh kebingungan. "Mama sama Papa tuh... gimana sih?" suaranya kecil, seperti takut menyentuh sesuatu yang rapuh.

Vanya, duduk di sebelahku, ikut memandang dengan wajah serius yang tak seharusnya dimiliki anak seusianya.

Aku meraih tangan kecil mereka, menggenggamnya erat seolah itu bisa membuat kata-kata lebih mudah keluar. "Kalian tahu, kan... kalau sayang itu ada banyak macamnya?" tanyaku lembut.

Mereka mengangguk pelan. Tanpa suara, tanpa keyakinan. Hanya mengikuti.

"Kadang," lanjutku, "orang dewasa bisa sayang... tapi nggak selalu cocok buat tinggal bareng terus." Suaraku goyah sedikit. "Kayak Mama sama Papa. Kami berdua sayang sama Tita. Itu nggak akan pernah berubah. Tapi sebagai pasangan... kami nggak cocok lagi."

Jelita menunduk. Bahunya naik turun halus. "Pasangan itu kayak Papa sama Deli? Cewek sama cowok gitu kan?"

Pertanyaan itu menamparku pelan—bukan karena salah, tapi karena ia mengatakannya sangat jujur.

Aku mengangguk pelan. "Iya. Papa sama Deli itu teman baik yang sekarang jadi pasangan. Sedangkan Mama... Mama belum punya pasangan."

"Oh." Ia mengangguk, tapi aku bisa lihat dari matanya bahwa ia hanya memahami separuhnya.

"Jadi gini lho, Tita. Papa Tita itu punya pacar, namanya Deli. Ya kan, Tan?" sahut Vanya sambil sedikit menjulurkan leher ke arah Jelita.

Aku tidak bisa menahan tawa kecil. "Iya, kurang lebih begitu." Meski pada akhirnya, tawa itu terdengar lebih seperti upaya menenangkan diri sendiri.

Aku sadar, pembicaraan seperti ini seharusnya lewat Aro juga. Tapi situasinya datang begitu cepat, begitu tak terduga, dan rasanya Jelita perlu mendengar langsung dariku sebelum pertanyaan—atau komentar polos Vanya—membuat segala sesuatunya makin membingungkan.

"Terus..." Jelita mendongak. "Mama sama Om Damar berteman baik... terus nanti jadi pasangan juga?"

Dari sebelahku, Vanya menjawab mantap, "Iya dong."

Aku terhenyak, lalu tersenyum tipis. "Belum tentu, Sayang. Tapi... Mama temenan baik sama Om Damar, itu betul."

Jelita menatapku lagi. Lebih dalam kali ini. "Mama happy?"

Sebuah pertanyaan sederhana. Tapi rasanya seperti membuka pintu yang selama ini kukunci rapat.

Pertanyaan itu... pertanyaan yang ia dengar dariku setiap hari ketika kami berdua saja. Saat aku bertanya padanya apakah ia bahagia—mungkin karena aku sendiri ingin percaya bahwa kebahagiaan itu masih ada.

Aku tersenyum pelan, menelan ketegangan di dadaku. "Happy dong." Jawabku mantap, atau setidaknya berusaha terdengar mantap.

Vanya memiringkan kepala. "Kalau Mama Jelita sama Papa Jelita udah nggak jadi pasangan... berarti Tante boleh pacaran sama Papaku dong?"

Aku hampir tertawa. Hampir menangis. Hampir keduanya sekaligus. Dunia memang aneh dilihat dari ketinggian anak-anak.

"Yang kayak begitu... nggak sesederhana itu, Nya." Aku mengusap rambutnya.

Jelita mengangkat wajah. Matanya mulai berkaca-kaca. "Tapi Mama... Mama sayang Papa?"

Pertanyaan itu menusuk, bukan karena aku tak punya jawabannya, tapi karena jawabannya tak lagi seperti dulu.

Right HereTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang