Right Here - 9

379 72 8
                                        

"Maaf..."

Hanya itu yang sanggup keluar dari mulutku saat aku dan Damar duduk berdampingan di kursi belakang rumah. Angin siang ini menyentuh kulit, tapi hawa canggung yang mengambang di antara kami jauh lebih terasa.

Di dalam rumah, Aro masih duduk di sofa bersama Jelita dan Vanya. Kedua anak itu tampak asyik menonton televisi setelah seharian berenang. Vanya mendapat izin dari Damar untuk menginap sampai Senin, dan sore ini rencananya Damar akan pulang sebentar untuk mengambil perlengkapan sekolah putrinya. Aku tidak keberatan—yang penting tugas sekolah mereka untuk Senin selesai.

"Nggak apa-apa. Kan sudah konsekuensi..." jawab Damar pelan.

Aku melirik ke dalam rumah. Bagaimana caranya membuat Aro pulang tanpa menambah kekacauan suasana seperti sekarang?

"Gimana kalau kita makan siang di luar?" usulku. "Kita berdua, plus the girls."

Damar mengernyit. "Yakin?"

"Aku nggak enak sama kamu," kataku. "Dan aku yakin kamu belum sarapan."

"Udah kok," bantahnya.

"Jangan bohong. Perut kamu bunyi dua kali," godaku sambil terkekeh, lalu menggandeng tangannya masuk ke dalam.

"Oke, anak-anak!" panggilku. Jelita dan Vanya menoleh, diikuti Aro. "Kita makan siang di luar hari ini." Mendengar hal itu, mereka berdua langsung melonjak kecil dan berlari ke kamar untuk ganti baju. Aro juga bersiap berdiri.

"You are not coming, Aro," ucapku datar.

Ia menatapku seperti aku baru saja bilang hal paling absurd di dunia. "Ya jelas aku ikut. Tita ikut, kan?"

"Tita memang ikut. Tapi kamu nggak aku ajak." Suaraku kali ini tegas dan dingin. "Damar, tunggu di sini ya. Aku mau siap-siap. Setelah makan, kita mampir ke rumah kamu ambil keperluan Nyanya buat nginap sampai Senin."

Damar hanya tersenyum kecil, mengangguk. Tatapannya bertemu sesaat dengan mata Aro yang semakin mengeras sebelum ia kembali duduk di sofa.

Baru aku hendak masuk kamar, Aro mendorongku sedikit dan menutup pintu dari dalam. "Apa sih?" seruku.

"I don't like him," katanya singkat.

"So? Kamu nggak punya hak melarang aku dekat dengan siapa pun."

"Tapi aku punya hak untuk melarang Tita ketemu siapa pun. Aku larang dia ketemu Damar. Kamu silakan mau dekat sama siapa saja, itu urusanmu. Tapi kalau Tita, aku masih berhak." Nada suaranya keras dan penuh klaim.

Aku menatapnya tajam. Ada banyak kalimat yang ingin kulontarkan, tapi percuma. Kami tidak akan sepaham hari ini. Dengan napas berat, aku berbalik, masuk ke kamar mandi dan bersiap.

"Kamu mau di sini terserah. Tapi aku pergi sama Damar," ucapku ketika hendak membuka pintu. "Tita ikut aku." Aku tak menoleh lagi.

**

Di dalam mobil Damar, Jelita dan Vanya berceloteh tanpa jeda di kursi belakang. Aku tidak benar-benar menangkap apa yang mereka bahas—mungkin soal kartun terbaru atau Zootopia 2 yang masih mereka tunggu-tunggu.

"Nyanya kemarin minta izin kalau filmnya sudah keluar," jelas Damar ketika melihatku menatap ke belakang.

"Oh..." gumamku.

Tangan Damar meraih tanganku pelan. Genggamannya hangat, stabil. Ia tetap menatap ke depan, tapi senyum kecil terlihat di bibirnya—membuat dadaku sedikit menghangat juga.

Kami memilih restoran ramah anak di Denpasar, tidak jauh dari rumahnya. Karena tidak reservasi, kami mendapat meja di tengah ruangan. Tidak ada pemandangan istimewa, tapi cukup untuk makan tenang bersama anak-anak.

Right HereTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang