Besok paginya, udara rumah terasa lebih berat dari biasanya. Entah karena tidurku tidak tenang, atau karena aku tahu apa yang akan terjadi hari ini. Jelita dan Vanya sedang sarapan di meja makan, sementara aku mondar-mandir memastikan semua perlengkapan anak-anak sebelum berangkat sekolah sudah siap. Tidak lupa memastikan rumah cukup rapi untuk menghindari alasan Aro mengomentari hal-hal kecil.
Pagi ini, Damar yang akan menjemput dan mengantar mereka sekolah. Aku juga ijin terlambat kerja karena Aro yang akan datang untuk membahas sesuatu yang sangat penting.
Sialan.
Bel rumahku berbunyi. Jantungku langsung naik ke tenggorokan. Mungkin itu Damar. Setengah berlari untuk keluar dan melihat siapa yang datang.
Aku membuka pintu dan Aro berdiri di sana. Tidak biasanya dia membunyikan bel. Biasanya dia akan masuk sembarangan dan tidak pernah ijin padaku.
Tatapannya tajam, tapi matanya tampak lelah. Rambutnya sedikit acak seperti seseorang yang tidak tidur nyenyak semalaman.
"Kita bisa ngomong di dalam?" tanyanya datar.
Aku hanya mengangguk dan mempersilakannya masuk. Aku langsung mengajak dua anak itu untuk naik ke kamar Jelita, mencoba pengertian pada mereka untuk mengecek sekali lagi perlengkapan sekolah agar tidak ada yang tertinggal, tapi anak-anak selalu punya radar yang aneh: makin orang dewasa ingin menutupi sesuatu, makin mereka penasaran.
Aku dan Aro duduk di ruang tamu. Suasana hening beberapa detik, sampai Aro akhirnya membuka suara.
"Aku cuma mau jelasin satu hal, Wi," katanya pelan tapi tegang. "Aku nggak mau Jelita tumbuh dengan bayangan kalau kita pecah. Dia terlalu kecil."
"Aro, anak kecil nggak butuh bayangan palsu. Mereka butuh kejujuran yang lembut." jawabku sama pelannya. Mencoba mengontrol emosi dan situasi kami pagi ini.
Aro menghela napas panjang. "Aku cuma... nggak mau dia pikir kita gagal."
"Kita memang gagal," sahutku lembut. "Tapi bukan sama dia."
Rahangnya mengeras. "Aku nggak sanggup kalau laki-laki lain masuk ke hidup kalian," ucapnya akhirnya. Suaranya pecah sedikit. "Apalagi kalau dia bisa bikin Jelita dekat sama dia."
Aku menatapnya lama. "Ini bukan tentang Damar. Ini tentang kamu yang belum mau nerima, kan?"
Aro memalingkan wajah, frustrasi. "Wi, kita pernah punya apa-apa. Kamu serius mau tinggalin semuanya begitu aja?"
"Tinggalin apa, Ro?" bisikku. "Semua itu udah kamu tinggalin duluan."
Aro terdiam.
Tapi sebelum ia sempat membalas, terdengar suara langkah kecil di tangga.
Aku menoleh.
Jelita berdiri di anak tangga ketiga, memegang salah satu buku pelajarannya. Mata bulatnya tampak gelisah. Di belakangnya, Vanya berdiri setengah bersembunyi, menatapku dan Aro bergantian.
"Ma..." suara Jelita pelan, tapi jelas. "Mama sama Papa berantem, ya?"
Aro langsung bangkit. "Sayang, turun sini. Papa jelasin."
Jelita menggeleng cepat, matanya mulai berkaca-kaca. "Papa marah sama Mama?"
"Papa nggak marah," jawab Aro. Tapi nada suaranya terlalu tinggi, terlalu defensif. "Papa cuma..."
"Papa nggak mau Mama sama Om Damar, ya?" suara Jelita bergetar.
Aku dan Aro sama-sama membeku.
Vanya memegang lengan Jelita pelan, seolah melindungi. "Jelita takut?" tanyanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Right Here
Fiksi UmumSudah berapa tahun kami berpisah? 5 tahun betul? Selama itu aku merasa bebas hingga pertemuanku dengan pria berbuntut ini. Pertemuan ini, tidak seperti pertemuanku dengan yang sebelumnya. Berbeda. Aku seperti jatuh cinta. Kali ini dengan tepat. Semo...
