Mungkin kalau aku diberi pilihan, aku akan memilih untuk tidak pernah bertemu siapa pun lagi. Biarkan aku hidup hanya berdua dengan Jelita. Tanpa siapa pun. Tanpa Aro, tanpa Damar, tanpa drama yang merusak hari-hariku.
Tapi tentu saja itu mimpi kosong dan tentu itu akan sangat menyedihkan untukku.
Aro akan selalu ada di sekelilingku karena Jelita. Damar pun tetap akan hadir lewat Vanya, karena bagaimanapun mereka semua adalah lingkaran yang tidak bisa kutinggalkan.
Dan aku? Aku tidak punya celah untuk menghindar. Tidak benar-benar.
Daripada pusing memikirkan hidup pribadiku yang berantakan, aku memilih tenggelam dalam pekerjaanku. Setidaknya, di sana semuanya terasa jelas: target, angka, dan hasil. Tidak ada perasaan yang rumit, tidak ada luka yang menuntut penjelasan.
Aku menyelesaikan satu sales call di sebuah travel agent ketika Jenny, staff di sana, bertanya, "Mbak Juwi, kontrak kerja sama yang terbaru sudah selesai ditandatangani, kan?"
"Sudah dong," jawabku sambil tersenyum. "Cuma aku lupa bawa. Nanti Tati yang bawain, asistenku yang baru."
Jenny terkekeh. "Baru lagi, Mbak?"
"Iya, biasa. Sales kan cepat banget keluar-masuknya." Aku ikut tertawa kecil sebelum pamit. "Aku lanjut dulu ya. Datangin tamu banyak-banyak dong buat aku."
Aku sengaja memadatkan jadwal sales call agar bisa keluar lebih awal dan menjemput Jelita. Pak Darwin, general managerku, sudah kumintai izin, dan seperti biasa dia tidak keberatan—targetku selalu aman.
Aku mengedarkan pandanganku untuk mencari parkir. Tentu tidak dapat. Jam pulang sekolah memang selalu ramai dan aku jarang mendapatkan parkir kalau Jelita pulang di jam normal dan tidak ada kegiatan sepulang sekolah. Dan hari ini sebenarnya jadwal Aro yang menjemput, tapi karena kami sedang tidak bicara—tidak dalam keadaan baik-baik saja—dan aku juga tidak tau jelas mengenai keberangkatannya, aku memilih datang menjemput daripada Jelita yang jadi korban kekakuan kami.
Akhirnya aku parkir di pinggir jalan dan mengenakan ID parent pick-up. Salah satu kelebihan sekolah yang aku dan Aro pilih untuk putri kami. Keamanan yang luar biasa. Hanya tiga orang yang punya ID itu. Aku, Aro, dan Deli. Di sekolah, ID ini penanda siapa yang sudah mengantar dan menjemput Jelita.
"Bu, mau jemput ya?" sapa sekuriti di pintu masuk.
Aku mengangguk dan menyerahkan ID-ku untuk di scan. Dia menatap tablet di tangannya, lalu menoleh padaku dengan ragu.
"Bu... Jelita sudah pulang. Yang jemput tadi Pak Aro. Baru lima menit lalu."
"Oh... dijemput papanya, ya?" Aku memaksakan senyum. "Baik, Pak. Terima kasih."
Sambil berjalan kembali ke mobil, aku men-dial nomor Aro. Tidak diangkat. Mungkin sedang berkendara.
Tak lama kemudian, skuter kuning Deli melewati gerbang exit sekolah ini. Di atasnya, Aro dan Jelita sama-sama menggunakan helm dengan senyum lebar seperti sedang berdiskusi sesuatu. Mereka terlihat... biasa. Seolah tidak ada yang berubah. Seolah dunia tidak sedang berantakan bagiku.
Aku menghela napas panjang. Bagaimanapun panasnya hubungan kami, Aro tidak pernah lalai sebagai ayah. Dan di bagian itu, aku selalu bisa menaruh kepercayaan.
Sebuah SUV hitam berhenti di sebelahku. Kacanya turun, memperlihatkan Damar dengan kacamata hitam dan senyumnya yang tipis.
"Hei," sapanya.
Aku membalas, "Hei. Mau jemput Nyanya?"
Dia mengangguk. "Jelita mana?"
"Sudah dijemput papanya," jawabku pelan. "Kamu parkir di sini aja. Aku mau balik, di dalam penuh."
KAMU SEDANG MEMBACA
Right Here
Fiksi UmumSudah berapa tahun kami berpisah? 5 tahun betul? Selama itu aku merasa bebas hingga pertemuanku dengan pria berbuntut ini. Pertemuan ini, tidak seperti pertemuanku dengan yang sebelumnya. Berbeda. Aku seperti jatuh cinta. Kali ini dengan tepat. Semo...
