"Ini ciri-ciri kita mau tahu lebih jauh dari biasanya, deh," ujar Damar sambil terkekeh, membolak-balik daging yang mendesis di atas kompor arang. Asap tipis naik perlahan, wangi bumbunya menguar dan menyelip di antara percakapan kami.
Aku mengangguk kecil. "Damar 101 dan Juwita 101," gumamku sambil memutar sepotong daging di grill, seolah kami ini dua anak muda yang baru belajar mengenal dunia. Padahal usia kami sudah hampir menyentuh kepala empat.
"Dari mana mulainya?" tanya Damar pelan, suaranya sedikit tenggelam oleh suara bara yang berletup. "Aku dulu berarti, ya?"
"Boleh," jawabku, kali ini sambil meniup daging panas yang baru kuambil.
"Tebak dulu. Aku lulusan apa?"
Aku menatapnya sekilas, mencibir manja. "Teknik mesin? Kayaknya semua orang juga yakin itu jawabannya."
"Salah," ujarnya cepat, senyumnya nakal. "Hukum."
Aku sampai berhenti mengunyah. "Serius? Kamu... lulus?"
Damar tertawa lepas, tawa yang selalu terasa hangat. "Lulus lah. Jangan meremehkan aku, Wi," katanya sambil menyambar daging panas tanpa ragu.
"Kok bisa-bisanya jadi buka bengkel?" tanyaku tak percaya.
Damar mengangkat bahu, matanya masih fokus pada api kecil di bawah grill. "Hobi kali ya. Aku jatuh cinta sama dunia otomotif sejak SMA. Balap liar, gabung tim orang, kemudian mulai dipakai otaknya buat modif-modif. Dari situ mulai dapat uang, dapat pengalaman, dapat mimpi." Ia berhenti sejenak, matanya memandangi daging yang sedang matang. "Sampai akhirnya aku bilang ke diri sendiri, suatu hari aku harus punya bengkel sendiri."
"Tercapai," ujarku, tersenyum bangga tanpa sadar.
Damar mengangguk, tapi senyumnya tidak sepenuhnya kembali. Ada sesuatu yang redup di sana. "Tapi jalannya nggak mulus. Banyak banget yang harus dilewatin. Berantem sama orang tua, kehilangan, ketipu, rugi besar, hutang... semuanya ada."
"Kenapa harus berantem sama orang tua?"
"Kamu tahu sendiri," katanya lirih. "Kalau orang tua kerja di dunia hukum, mereka selalu berharap anaknya ikut jejak itu."
Aku mengangguk pelan. "Kalau orang tuanya pengacara, anaknya disuruh jadi pengacara. Kalau hakim, ya hakim."
"Nah itu. Bapak aku pensiunan jaksa. Ibu aku notaris, masih kerja sampai sekarang. Tinggal nunggu masa pensiun. Komplet, kan?" Ia tertawa, tapi ada getirnya.
"Terus mereka nggak protes waktu kamu milih otomotif?"
"Protes. Jelas." Damar tersenyum tipis. "Tapi ada adikku yang nerusin jejak mereka. Jadi beban buat aku agak berkurang."
Lalu ia memandangku, matanya kembali hangat. "Sekarang giliran aku tanya."
"Tanya aja. Aku open book."
Ia mulai mengulik cerita keluargaku—tentang orang tuaku yang berujung pisah, Mamaku yang berada di Bandung, kakak laki-lakiku juga di Bandung bersama keluarga kecilnya, tidak lupa Papaku yang saat ini di Jakarta karena bisnisnya, kemudian tentang Aro. Tentang pernikahanku yang gagal, tentang hubungan yang seharusnya hangat tapi lama-lama terasa seperti dua burung dalam sangkar berbeda.
"Kita cerai karena sadar... menikah bukan buat kita," jelasku. "Pernikahan malah bikin kami makin jauh. Tapi kalau cuma jadi teman, kami hampir nggak pernah bertengkar."
Damar mengerutkan kening. "Tapi akhir-akhir ini kalian ribut terus."
Aku tertawa kecil. "Karena ada kamu."
Damar tidak menertawakan balik. Untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya benar-benar serius. "Tapi kita nggak perlu izin Aro untuk... melangkah lebih jauh, kan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Right Here
Narrativa generaleSudah berapa tahun kami berpisah? 5 tahun betul? Selama itu aku merasa bebas hingga pertemuanku dengan pria berbuntut ini. Pertemuan ini, tidak seperti pertemuanku dengan yang sebelumnya. Berbeda. Aku seperti jatuh cinta. Kali ini dengan tepat. Semo...
