"Aku jemput atau kamu jemput Jelita?" tanyaku pada Aro.
Dua hari lagi dia dan Deli akan berangkat ke Melbourne. Kali ini mereka akan tinggal sekitar tiga bulan—bahkan mungkin lebih. Selain harus mengurus pembaruan izin usaha restorannya, Aro juga sedang dalam proses mengajukan izin penjualan minuman keras karena restorannya akan mulai menjual alkohol.
"Bebas. Hari Jumat juga ini. Inget, dia les lagi di rumah Vanya," ujarnya.
Aku sebenarnya bisa menjemput Jelita, tapi mungkin tidak bisa mengantarnya ke tempat les. Di saat seperti ini, aku merindukan Gede, sopir kami dulu. Sejak aku dan Aro berpisah, kami memutuskan untuk tidak melanjutkan jasanya. Aku merasa tidak memerlukannya lagi, dan Aro juga jarang berada di Bali. Aku pun tidak lagi memakai jasa Mbok Iluh karena merasa masih bisa mengurus semuanya sendiri.
Tapi kali ini, sepertinya aku mulai kewalahan. Jadwal les Jelita membuatku berpikir untuk memakai jasa Gede lagi. Kalau Aro tidak harus ke Melbourne, mungkin aku masih bisa meminta bantuannya untuk antar-jemput Jelita khusus di hari Senin, Rabu dan Jumat.
"Aku panggil Gede lagi kali ya, buat antar-jemput Tita kalau kamu udah di Melbourne," ucapku.
"Boleh. Kenapa nggak? Tapi kalau aku balik, Gede kita berhentiin lagi gitu?" tanya Aro.
Aro ada benarnya. Tidak etis rasanya hanya memanfaatkan tenaga Gede selama tiga bulan. Aku bahkan tidak tahu dia sekarang bekerja di mana.
"Aku coba telepon dulu. Pakai aja jasanya Gede lagi, toh bagian dari child support juga kan," ujar Aro ketika aku masih berpikir. "Terus nanti dia bisa bantu juga di Twelve Roses." Sepertinya Aro bisa membaca pikiranku.
"Boleh deh. Tapi kalau nggak keberatan, boleh aku pakai juga buat antar aku sama Jelita belanja?" tanyaku sambil bercanda.
"Boleh. Kenapa harus nanya? Nggak masalah," jawab Aro, cukup serius. "Nggak usah dipikirin. Pasti ada jalan, gampang kok."
"Bagi dua ya. Aku yang bayarin bulanan Iluh, kamu bulanan Gede," putusku.
Aro tertawa. "Iluh mau kamu panggil juga?"
"Ho'oh. Emang dia mau tinggal sama siapa kalau gitu?"
"Ya udah, bebas. Aku ikut aja," tutupnya.
**
Mobil Damar memasuki carport rumahku. Sengaja tidak kuminta parkir di pinggir jalan supaya tidak mengganggu tetangga atau orang yang lewat. Syukurlah masih muat meski ada mobil dan motor matic-ku di sana. Begitu mobil berhenti, Vanya langsung turun dan mencari Jelita yang berdiri di sebelahku. Damar ikut keluar sambil menenteng berbagai barang. Aku berjalan ke arah gerbang untuk menutupnya sebelum membantu Damar.
"Nggak usah, aku aja," ujarnya datar. "Ini kalau aku masuk, suami kamu nggak marah?"
Mataku membulat kemudian mengernyitkan alisku, "Suami?" tanyaku kemudian.
Damar mengangguk. "Papa Tita?"
Aku tertawa pelan. "Tita!" panggilku. Aku tahu Jelita dan Vanya sudah masuk ke dalam rumah. "Bantuin Om Damar bawa ini," lanjutku. Jelita dan Vanya keluar lagi, Vanya mengambil tas pink-nya, sementara Jelita membawa paper bag yang kuyakini berisi makanan atau snack untuk playdate hari ini.
Saat itu aku baru ingat—aku belum menjelaskan statusku pada Damar. Wajar saja kalau dia bingung. Tadi dia sempat menyebut kata "mantan istri," tentu saja dia menganggap aku masih bersuami.
"Tempo hari waktu kita janjian, aku bilang 'it's a date' atau 'playdate'. Dan kamu pilih yang pertama. Kamu nggak dengar penolakan dari aku kan?" tanyaku sambil tersenyum kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Right Here
Fiksi UmumSudah berapa tahun kami berpisah? 5 tahun betul? Selama itu aku merasa bebas hingga pertemuanku dengan pria berbuntut ini. Pertemuan ini, tidak seperti pertemuanku dengan yang sebelumnya. Berbeda. Aku seperti jatuh cinta. Kali ini dengan tepat. Semo...
