Right Here - 15

384 67 8
                                        

Jelita keluar dari kamar dengan rambut acak-acakan, piyama masih melekat di tubuh mungilnya, dan boneka kelinci kesayangannya tergantung di pelukan. Matanya masih setengah tertutup, seperti baru ditarik keluar dari mimpi panjang.

Pemandangan yang membuatku dan Aro berhenti sejenak dari pembicaraan yang menuju serius.

"Mama..." panggilnya pelan ketika melihatku.

Aku hampir tertawa melihat penampilannya. "Kamu kayak habis kesetrum," godaku, menahan tawa.

Aro yang duduk di meja makan ikut menoleh dan tertawa. "Kamu tidur ngapain sih, nak?"

Jelita hanya mengangkat bahu, lalu merayap naik ke kursi meja makan. Boneka kelincinya tetap digenggam erat, wajahnya masih kusut seperti awan pagi yang belum bercerai.

Aku yang tak tahan melihat tingkahnya akhirnya menarik tangannya pelan. "Ayo, kita cuci muka dulu. Sikat gigi, sisiran, baru sarapan."

Ia mengangguk lemas, seperti boneka kain yang digerakkan pelan-pelan. Tapi setelah selesai, pipinya tampak lebih segar, rambutnya rapi, dan matanya sudah terbuka sepenuhnya.

"Ayo makan!" serunya semangat, mengangkat sendok dan garpunya seperti seseorang yang siap berperang.

Aro—yang sedari tadi berkutat di dapur—menyuapkan nasi goreng ke piring Jelita. Ia menawari aku, tapi kutolak sambil menunjuk dua risoles yang barusan jadi sarapanku. Sesekali aku melirik interaksi mereka. Ada sesuatu yang hangat dan sederhana yang membuatku diam-diam tersenyum.

Jelita fokus pada makanannya, sementara Aro mencoba mengajaknya bicara. "Tita, sekolah gimana? Teman-temanmu—"

"Papa, aku lagi makan. Nggak boleh ngomong."

Aku langsung tertawa. "Ajaran aku itu," jelasku sambil mengangkat tangan.

Aro menghela napas sambil menahan tawa. "Denger Papa dulu, sebentar."

Jelita tetap makan, mengunyah perlahan, seolah hidupnya bergantung pada suapan itu. "Makan sambil dengerin bisa, nak," kataku akhirnya.

Jelita mengangguk tanpa menoleh.

Aro mengusap kepalanya pelan. "Papa mau ke Melbourne. Agak lama."

"Ngapain?" tanya Jelita, akhirnya mengangkat wajah.

"Cari duit," jawab Aro santai.

Aku berpindah ke sofa dan menyalakan TV, tapi tetap memperhatikan mereka dari jauh. Percakapan itu terasa seperti dua dunia. Dunia ayah-anak yang hangat, dan aku yang mengamati dari sisi lain.

"Yang banyak?" tanya Jelita dengan gaya seriusnya yang selalu membuat kami tersenyum.

"Iya dong. Kamu kan mau rumah pakai kolam renang segede gaban."

Jelita terdiam. Wajahnya seperti sedang menghitung sesuatu yang rumit. Lalu, dengan nada tegas, ia berkata, "Oke boleh."

Aro tertawa keras. Jelita ikut tertawa, suaranya ringan dan tulus. Momen itu—sesederhana apa pun—selalu membuatku terenyuh.

Begitu makan selesai, aku meminta Jelita mandi dan bersiap.

"Mau ke mana? Kenapa buru-buru banget?" tanya Aro sambil duduk di sebelahku.

"Pulanglah. Nggak enak lama-lama nitip ke kamu," jawabku, sengaja menekankan kata nitip.

Aro mendengus kecil. "Nggak apa-apa kok," ujarnya pelan, suaranya seperti bilang lebih banyak dari kata-katanya.

Ada jeda. Ada sisa emosi yang menggantung. Tapi juga ada kehangatan tipis—sebuah pengingat bahwa hubungan kami, bagaimanapun bentuknya sekarang, tetaplah sebuah keluarga.

Right HereTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang