Right Here - 8

391 65 10
                                        

Vanya dan Jelita sudah masuk ke kamar untuk bersiap-siap tidur. Aku dan Damar sibuk membangun benteng kerajaan di kasur Jelita, mengikuti segala permintaan dua bocah itu yang berubah-ubah tiap lima detik.

"Ya maaf ya, kasur Tita kan nggak segede kasur Vanya," ujarku ketika Jelita mendadak protes soal tumpukan bantal—padahal itu permintaan beliau yang mulia sendiri.

Damar hanya tertawa sambil geleng-geleng. "Nanti nginapnya di rumah Om Damar lagi aja ya."

"Ih nggak apa-apa keleus. Kalau luas kayak kamar Nyanya malah serem. Takut ada hantunya," kata Vanya santai, seolah sedang membahas harga sayur.

Damar langsung menatap putrinya dengan ekspresi 'kamu ngomong apa sih'. "Emang kamu pernah dicari hantu waktu tidur di sana?"

"Ya nggak sih..." jawab Vanya, pelan tapi tetap pede.

Kami kembali fokus membangun benteng—entah benteng, istana, atau markas Avengers, aku sudah tidak yakin. Yang jelas setelah beberapa lipatan selimut dan drama bantal, Damar berdiri dan menepuk tangan. "Oke. Selesai. Happy?"

Jelita dan Vanya mengangguk kuat-kuat sambil senyum seolah baru memenangkan undian umrah.

"Ya udah. Papa sama Tante Jelita turun. Jangan begadang. Besok memang Minggu, tapi tetap tidur maksimal jam sepuluh. Kalau jam sepuluh Papa lihat belum tidur, Papa tungguin di sini dan Papa ambil iPad-nya."

Vanya langsung mendorong Damar keluar seperti satpam mall mau tutup. Jelita cuma duduk manis di bean bag sambil cekikikan. "Iyaaa, berisik Papa..."

Jam baru menunjukkan pukul delapan. Tepat waktu untuk jelas, bukan tidur. Netflix pasti sudah menunggu dengan tangan terbuka. Kamar Jelita memang nggak ada TV, tapi Damar sudah menyerahkan iPad ke Vanya tadi, jadi tugasku cuma pasrah.

Kami turun ke ruang tengah. Aku sudah mandi jam enam dan Damar katanya mandi sebelum kumpul dengan klub mobilnya.

"Kalau mau mandi lagi silakan. Nanti aku siapin handuk. Tapi ya, nggak ada baju laki-laki di sini," kataku sambil nyengir.

Damar hanya tersenyum—senyum yang entah kenapa membuat ruangan rasanya jadi lebih... panas? Ah sudahlah.

Tiba-tiba suara pintu gerbang terbuka.

Aku dan Damar saling menatap. Satu alis Damar terangkat, jelas bertanya 'itu siapa?'. Aku menggeleng sambil maju ke pintu. Damar mengikuti di belakang—dekat. Terlalu dekat sebenarnya, tapi aku pura-pura nggak sadar.

"Aro?" panggilku.

Aro menoleh sambil menutup gerbang, ekspresinya penuh tanda tanya sebesar billboard.

Sayangnya tanda tanya itu bukan untukku.

Aku ikut menoleh ke belakang, dan—tentu saja—wajahku hampir nempel dengan wajah Damar. Kami sama-sama kaget, tapi terlambat mundur. Situasinya, ya sangat menjelaskan dirinya sendiri.

Oh. Bagus. Perfect timing, Aro.

"Aro, ini Damar. Damar, ini Aro..." kataku, mencoba terdengar normal padahal jantungku seperti drum marching band.

"Mantan suami aku."

Dan ya, tentu saja keheningan setelahnya sangat dramatis. Dramatis dan agak lucu kalau kupikir sekarang—hanya saja saat itu aku ingin menguap ke udara dan menghilang.

**

"Kamu nggak berhak ya bawa laki-laki ke rumahku." Suara Aro terdengar sengit, tajam, menusuk.

"My house," tegasku. "Rumah aku dan Jelita. Dan bukannya kita sudah sepakat soal itu?" Aku membalas dengan nada sama kerasnya.

Right HereTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang