Asli lah ke sini karena kasian ama pembaca yang gw anggurin🤣
.
.
.
.
Happy reading🙏🤗
.
.
.
.
Erick berjalan santai ke ruang tamu.
Ia melihat Naomi tengah duduk bersama paman dan bibinya.
Sampai pada kata di mana:
"Kalau bisa, jangan memberi tahu kakak mu soal ini... cukup persetujuan darimu saja..."
Erick menebak kalau mereka sudah disini beberapa menit sebelumnya. Melihat gelas teh itu sudah berkurang setengahnya.
"Soal apa yang tak bisa di beri tahu padaku..." selanya dengan santai begitu tiba-tiba.
Semua mata melihat ke arah Erick.
Mereka terkejut.
"Apa kalian berdua merencanakan untuk memakai perkebunan bagian utara?!. Tapi maaf saja, aku sudah mengalokasikan tempat itu untuk kebun teh, terhitung dua bulan mendatang." Lugas Erick santai.
"Tapi bukankah itu akan menghasilkan banyak uang jika di tanam jagung?!, kalian punya banyak lahan, bukankah tak masalah menyewakannya pada kami?!".
"Ah~ menyewakan, kah?! Lalu bagaimana dengan uang senilai 35jt yang kau pinjam dari almarhum orang tua kami, apakah kau berniat mengangsurnya sekarang?!" Tanya Erick .
"Kakak..." Naomi agak takut melihat ekspresi Erick yang mengeras.
Erick lalu duduk di sambing sofa Naomi duduk.
"Selama aku ada, akulah wali dari Naomi. Apapun urusan kalian harus menyampaikannya padaku. Kalian hanya kerabat jauh orang tua kami, lagi pula paman kami yang sedang di kota yang asli kakak kandung ayah kami tak pernah ikut campur masalah tanah apalagi uang. Sadari tempat kalian." Ucap Erick.
Ucapan itu membuat mereka malu, eskpresi mereka seketika berubah menjadi tidak sopan.
"Baiklah jika itu maumu aku akan menelpon paman kalian untuk meminta persetujuannya. Meskipun kami kerabat jauh, setidaknya hal itu lebih layak dari mu yang hanya seorang anak pungut yang berlagak menjadi tuan rum...!".
Sebelum perkataan itu berlanjut, Naomi menyiramkan teh hangat itu ke muka paman.
Membuat mereka kaget kedua kalinya.
"Paman sudah keterlaluan. Tidak peduli status kakak apa di rumah ini, dia adalah bagian dari keluarga inti di rumah ini.
Dari awal aku sudah menolak ide paman secara baik-baik. Jika paman tidak berkenan silahkan keluar saja..." tegas Naomi.
Erick tak menyangka Naomi akan mengambil tindakan yang seperti itu. Namun ia tersenyum puas dengan tatapan yang mengejek ke kedua orang itu.
"Aku tak terima penghinaan ini, sepertinya kehilangan orang tuamu semakin membuat kelakuanmu tak terdidik. Aku akan melaporkan ini ke paman kandungmu Naomi..."
Naomi bangkit dari tempat duduknya.
Ia santai menyuruh mereka keluar tanpa senyum dengan isyarat tangan kirinya.
.
.
.
Setelah mereka pergi
"Hehe... hahahaha" Erick tertawa santai sambil menepuk tangan beberapa kali.
"Kenapa?!" Tanya Naomi dengan jidat berkerut.
"Aku tak menyangka kau akan melakukan tindakan itu, biasanya kau lembut seperti mamah...." lugas Erick.
"Mamah juga bisa marah kalau kita salah..." Jawab Naomi singkat.
"Tapi mereka benar, aku hanya orang luar yang berlagak seperti tuan rumah..." Ucap Erick santai.
Naomi seketika langsung memeluk Erick dengan erat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Brother's Prison
General FictionSejak kecelakaan keluarga Smith, Naomi Smith terpaksa harus kehilangan orangtuanya. Sekaligus menjadi pewaris tunggal sebagai tuan tanah dari perkebunan tanaman pangan seluas 50 hektare di pedesaan. Sayangnya karena umur yang masih 18 tahun, hak as...
