Hallo, aku Lalice Wibawa Tama, anak tunggal semata wayang dari Joe Tama dan Aom. Kedua orangtuaku berprofesi sebagai Dokter. Ayahku dokter beda jantung sekaligus pemilik rumah sakit yang terbesar di Jakarta. Tama Hospital. Sementara Ibuku, dokter dermatology.
Jadi bisa dibilang aku terlahir dari sendok emas. Meskipun terlahir dari keluarga dokter, kedua orangtuaku tidak mengharuskanku untuk menjadi dokter juga, mereka membebaskanku untuk memilih profesi yang aku mau.
Namun sayangnya, mereka tidak membebaskanku untuk memilih pasangan, ck.
Ya, dari sebelum aku lahir, Ayahku sudah berjanji kepada sahabat karibnya —Zhao Tian Yu agar menjodohkanku dengan anaknya,
Zhao Jennie Ruby Jane
Gadis itu hanya lebih tua dua tahun dariku. Ia sangat cantik seperti namanya.
Sejak kecil keluarga kami sering mengunjungi satu sama lain di waktu senggang yang membuat kita berdua sudah diberi tahu jika kami akan menikah ketika sudah matang.
Tahun ini, memasuki ajaran baru, aku akhirnya resmi menjadi mahasiswa baru di Elite University jurusan teknik mesin. Sementara gadisku sudah memasuki semester 4 jurusan hukum di kampus yang sama.
Sudah kubilang dia sangat cantik seperti namanya, selain cantik, gadisku juga sangat imut dan sexy, sehingga ia selalu menjadi pusat perhatian orang-orang! Terlebih lagi pintar dan kini ia juga menjadi sekretaris BEM.
Laki-laki pasti akan terpanah sementara perempuan akan iri kepadanya!
Tidak perduli seberapa besar kalian pada lelaki menyukai Jennie... ia sudah menjadi milikku!
AUTHOR POV
“Sayang?”
“.....”
Panggil Lisa kepada sang kekasih. Ia saat ini sedang berada di kamar Jennie yang sibuk berkutat pada laptop di meja belajar sementara ia rebahan di atas kasur.
“Baby?"
"......"
"Cantik? Cantiknya aku?"
"....."
"Ck!"
Lisa berdecak karena Jennie tidak menyaut sama sekali terlalu fokus dengan urusan huru-hara BEM. Jadi ia turun, melangkah pergi menghampiri lalu menutup benda segiempat itu membuat mata gadisnya membulat.
“Aduh Lisa! Aku lagi buat laporan kenapa malah main tutup-tutup aja ih!"
Mata Lisa menyipit, “Lisa? Siapa Lisa?"
“Booboo, sayang, cinta, maksudku aku bentar lagi selesai, tolong sabar sebentar ya?" Bujuk Jennie selembut mungkin.
Lisa menarik kursi, duduk disamping gadisnya dengan muka sebal, memprotes. "Kamu bilang sebentar - sebentar terus daritadi! Aku panggil ga nyaut-nyaut! Sebentar kamu udah tiga jam tau!"
Jennie mengusap-usap punggung sang kekasih, “Sabar, sayang. Beneran ini bentar lagi kok. Boleh ya?"
"Ah kamu mah—hmph!"
Cup!
Lisa tidak menyelesaikan perkataannya karena bibirnya dikecup oleh sang kekasih.
“Boleh ya, booboo?" Tanya Jennie lagi sambil mengedip-ngedipkan matanya
Cup!
Lisa menarik dagu Jennie, kembali menempelkan bibirnya ke bibir gadisnya itu. Mengajak berciuman dalam sampai gadisnya melenguh.
"Ngh! Aah~ jjajgan dihigit um!"
Ia tidak mendengarkan, terus saja mengemut, memasukkan lidahnya mengabsen deretan gigi Jennie sampai akhirnya ciumannya terpaksa berhenti karena mendengar nafas gadisnya yang sudah ngos-ngosan.
