HD [18]

697 41 19
                                        

Tolong tandai typo ya sengg 📌

Ramaikan komen kalian di tiap paragaf ya 🫶

Ramaikan komen kalian di tiap paragaf ya 🫶

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bagian 18

Satu minggu berlalu, sejak Citra memutuskan tinggal di kediaman Candra. Tidak ada banyak hal yang Citra lakukan di sana, bahkan rasanya hari-hari yang gadis itu jalanin terasa membosankan. Entah mengapa tanpa kehadiran Juan selama seminggu ini, membuat Citra jadi merindukan cowok itu.

Citra tak bisa mengelak, sekeras apapun logikanya menolak. Namun pada kenyataannya Citra memang mencintai Juan. Perasaan itu tumbuh begitu saja tanpa Citra sadari. Bahkan perasaan itu ada jauh sebelum Juan terang-terangan mengatakan menyukainya.

Selama ini Citra bukan denial, melainkan dia tak ingin melibatkan Juan. Maka dari itu Citra lebih memilih memendam perasaannya. Sebelum misi balas dendamnya tercapai, Citra akan mengesampingkan hal apapun termaksud urusan hati dan hubungan asmara.

Sore ini Citra hanya duduk bersila di atas hamparan rumput hijau, tepat di halaman samping kediaman Candra. Ujung jari gadis itu memetik tiap helai rumput tanpa tujuan. Sementara pandangan matanya menatap lurus ke arah danau buatan, terbentang tenang di hadapan gadis itu. Permukaan air danau tersebut memantulkan langit biru pucat, sesekali beriak pelan kala angin menyapu atau ketika ikan-ikan kecil bergerak di bawahnya.

Citra menghela napas sejenak, lalu memeluk kedua lutut, membiarkan bermukaan wajahnya tersapu oleh angin. Seolah kenyamanan itu dapat sedikit mengusir rasa rindunya terhadap Juan.

Rasa dingin yang tiba-tiba menyentuh permukaan pipi gadis itu, membuat Citra sentak. Sontak saja ia menoleh dan mendapati Ervan berada di sebelahnya. Sejak kapan cowok itu datang?

"Ngelamunin apa?" Suara cowok itu terdengar halus, maniknya menatap Citra lurus. Serta sebelah tangannya mengasurkan sebotol kaleng minuman bersoda.

"Bukan apa-apa." Citra menerima uluran minuman itu, tersenyum kecil. Sebelum pandangannya kembali menatap danau. Kehadiran Ervan menambah moodnya makin buruk. Citra benar-benar tak ada gairah untuk bersikap sok bucin seperti biasanya.

Di sisi lain, Ervan yang mendengar jawaban Citra acuh tak acuh tersebut. Mengepalkan sebelah tangan kuat, dengan rahang mengeras. Tanpa bertanya pun Ervan tau siapa yang sedang gadis itu pikirkan.

"Ikut gue!" Nada suara Ervan meninggi, seolah enggan menerima penolakan.

"Eh----kemana?!" Belum sempat Citra mendapatkan jawaban dari Ervan, sosok menyebalkan itu justru berjalan lebih dulu dengan kursi roda-nya. Citra mendengkus kesal, tanpa bisa menolak dia mengekori cowok itu.

Setelah berjalan cukup jauh dari kediaman utama, keduanya tiba di sebuah Pavilliun. Citra nampak mengeryit bingung sekaligus was-was. Untuk apa cowok itu membawanya kemari?!

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 23 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Heavily DamagedCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang