Volanum's PoV
Lelaki yang berdiri disana bertubuh sebesar-- tidak.. mungkin lebih besar dari Gabriel maupun Rory..
Urat-urat di ototnya itu terlihat amat jelas, di tangan kanannya ia memegang sebuah gergaji mesin, sementara di tangan satunya ia memegang sebuah senapan
Dan ketika aku melihat wajahnya itu..
Pucat, matanya pun telah memutih, dan juga ia memakai semacam masker aneh seperti yang digunakan para penyelam atau apalah itu..
Ia.. apakah ia Zombie?
Eh? Tunggu.. ia nampaknya menyadari keberadaanku..
Oh tidak! Dia sekarang berlari ke arahku..
Kecepatannya itu sama seperti para Zombie itu, dan lagi.. tubuhku masih terasa lemas..
Ia melemparkan shotgunnya lalu memegang gergaji mesinnya itu dengan kedua tangannya.
Suara mesin dari gergaji itu terdengar dengan nyaringnya mendekatiku, sementara aku hanya bisa mencoba menghindarinya.
Namun, terlambat.. gergaji itu melesat dengan cepatnya ke arah kepalaku, dan dengan cepat aku memejamkan mataku sembari melindungi kepalaku dengan telapak tanganku itu, walau aku tahu itu akan sia-sia..
Drrrttt
Suara gergaji mesin itu terdengar amat dekat, namun aku tak merasakan apapun, kuberanikan membuka mataku, dan rupanya lelaki ini menghentikkan serangannya padaku itu.
"Eh? Kau.. ketakutan?.." terdengar suara yang berasal dari masker lelaki itu, suara yang terdengar robotik.
Aku yang masih shock karena serangannya itu hanya mengangguk pelan.
"K-kau.. mengerti apa yang kukatakan?" Ucap lelaki itu lagi, dan aku hanya mengangguk pelan untuk menjawabnya.
"Woaahhh! Akhirnya.. aku bertemu dengan Zombie lain diluar organisasi yang masih memiliki kesadaran.." ucapnya sembari mematikan gergaji mesinnya itu.
"Ah, perkenalkan.. namaku Professor Gharvan Reamur.., kau dapat memanggilku Gharvan saja.." Ucapnya ramah sembari mengulurkan tangannya padaku.
Aku menyambut uluran tangannya itu.
"Nggrh.."
Sialan! Kupikir aku membutuhkan masker yang ia gunakan itu juga -_-
"Eh? Kau juga tak bisa berbicara ya? Hmm.. kalau begitu.." ucap lelaki itu sembari terlihat memikirkan sesuatu.
"Ah! Gunakan kode morse!" Ucapnya sembari menjetikkan jarinya.
"Ngrh?" Geramku tak mengerti maksudnya.
"Kau.. tau sandi morse kan? Nah untuk berbicara, kau gunakan 'Nggrrhh' untuk garis, dan 'Ngrh' untuk titik, setiap kau selesai menguncapkan 1 huruf, kau diam 1 detik, dan ketika kau selesai mengucapkan 1 kata, kau diam 2 detik, mengerti? kita coba dengan namamu.." ucapnya menjelaskan ide 'cemerlang'nya itu -_-
Ya, mengingat dia satu-satunya orang yang bisa kuajak bicara, kuturuti saja kemauanya itu, mengingat aku cukup baik dalam kepramukaan..
"Ngrh Ngrh Ngrh Nggrrh!.. Nggrrh Nggrrh Nggrrh!.. Ngrh Nggrrh Ngrh Ngrh!.. Ngrh Nggrrh!.. Nggrrh Ngrh!.. Ngrh Ngrh Nggrrh!.. Nggrrh Nggrh!..."
Sialan! Ini bahkan lebih melelahkan daripada saat berlari mengejar pria malang tadi -_-.
Pria itu terlihat mengeja-eja huruf-huruf yang baru kuberitahukan padanya, lalu ia mengernyitkan dahinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Vegetarian Zombie?! (On Revision)
Ciencia FicciónAku tengah memakan salad kesukaanku di atap sekolah ketika kejadian itu terjadi. Kejadian yang sering disebut- 'Zombie Apocalypse.' Aku dengan beberapa teman sekelasku mencoba survive dari para Zombie ini, namun.. Satu per satu dari kami mulai berja...
