Keesokan harinya
Semua orang di gedung ini terlihat sudah bersiap-siap, para anggota AZT menggunakan pakaian yang tingkat perlindungannya sangat jauh diatas Human Squad milik Zombie Hunter.
Ya, AZT memang memiliki perlengkapan dan pasukan yang kualitasnya jauh diatas Zombie Hunter, mungkin itulah penyebab Victor lebih memilih menjalankan misi ini dengan AZT dibanding pasukannya sendiri, Human Squad yang rata-rata anggota-nya tak memiliki pengalaman militer maupun pelatihan khusus untuk melawan Zombie seperti sudah diterima oleh anggota AZT.
"Victor! Katakan sejujurnya! Sebenarnya siapa orang jepang yang selalu berada disisimu itu? Kenapa kau sangat lengket dengannya?!" Teriak Riany dengan nada tinggi, ya sejak kemarin malam memang hanya itu yang ia lakukan, mencurigai hubungan Victor dan Koyuki.
Namun, tentu saja mereka berdua tak dapat mengatakan begitu saja kalau hubungan mereka itu ibu dan anak bukan? Jadi ya begitulah, Victor selalu membuat-buat alasan yang tak pernah diterima oleh Riany.
"D-dia ini Kakakku, Riany!" Sanggah Victor.
"Lihat?! Kau berbohong lagi! Kemarin malam kau bilang ia bukan siapa-siapa, lalu setelah kutanya lagi kau bilang ia sepupumu, dan sekarang kau bilang ia kakakmu?! Kau ini sudah 19 tahun Victor! Dan si jepang itu masih 17 tahun! Alasan bodoh apa yang baru saja kau katakan?!"
Mengerti maksudku 'kan?
"Haha mereka ini, tinggal beberapa menit lagi kita melakukan penyerangan ke persembunyian Charlie dan mereka masih saja seribut ini, ckckck."
Aku menoleh pada orang yang baru saja mengatakan hal itu, ya dialah Leon Timothy, mantan ketua kelasku.
"Yo Vola, bagaimana rasanya menjadi Zombie? Kau seharusnya sudah mati bukan?" Ucapnya dengan nada meledek itu.
"Hahaha, sangat luar biasa. Ah, Leon apakah kau tidak akan kencing dicelana lagi? Ada Zombie dihadapanmu sekarang," balasku.
Leon terlihat kesal, ia kemudian mengambil senapan miliknya dan dengan cepat menembak lenganku.
Darr!!
Seketika hening, semua yang berada disana menatap ke arah kami berdua.
"Aku, sudah tidak selemah Leon yang dulu lagi, catat itu!" Ketusnya sembari berjalan meninggalkanku.
Aku hanya tersenyum masam melihat tingkahnya. Aku lalu mengusap-usap bekas tembakan di lenganku yang perlahan mulai menghilang itu.
"Vola! Kau tak apa-apa?" Ujar Fransisca yang berlari ke arahku itu, wajahnya nampak khawatir.
Ya, sejak kemarin pula Fransisca jadi super perhatian padaku, aku tak bisa mengatakan kalau aku tidak senang karenanya, ini benar-benar momen terbaik dalam hidupku.
"Ah, tidak apa Franz tak usah khawatir," jawabku sembari memperlihatkan luka tembak yang sudah tidak membekas sama sekali itu.
"Hei, sudah kubilang jangan panggil aku 'Franz' aku merasa seperti laki-laki sekarang," gumam Fransisca.
"Ah ya, maaf-ma--"
"Attention Everyone!" Ujar Kalvie dengan pengeras suara di tangannya, di sebelahnya ada Alfian dan Victor.
"Five minutes from now, we are gonna march to Charlie's Hideout, the formation are exactly same like Sir Victor told to us yesterday, so prepare yourself! Get in your position!"
Ah, formasi ya ... kemarin malam Victor memang sempat menjelaskan padaku tentang formasi untuk hari ini.
Alfian, Victor dan Kalvie berada di paling depan dengan aku dan Riany berada tepat di belakang mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Vegetarian Zombie?! (On Revision)
Science FictionAku tengah memakan salad kesukaanku di atap sekolah ketika kejadian itu terjadi. Kejadian yang sering disebut- 'Zombie Apocalypse.' Aku dengan beberapa teman sekelasku mencoba survive dari para Zombie ini, namun.. Satu per satu dari kami mulai berja...
