hetalia © hidekazu himaruya
no profit is gained in the making.
.
.
seborga/monaco. au.
.
.
.
Nyatanya, aku tetap melakukan ini.
Aku bahkan berdiri menanti di depan gerbang kedatangan. Tak perlu kudiktekan seluruh hal yang kukorbankan untuk berdiri di dalam Bandara Leonardo da Vinci ini. Salah satunya, ya, aku tidak pulang. Dari tempat magang aku meluncur ke bandara. Lupa bahwa aku seharusnya mandi dan memakai pakaian yang lebih pantas daripada sekadar mantel merah jambu kusut dan kusam yang sudah terlalu tua untuk kupakai, tujuh tahun setelah kubeli.
Aku mendengar dia akan pulang, tujuh hari lalu.
Kukira dia tidak akan menginjak Roma lagi.
Kupikir Swiss sudah mengikat kontrak seumur hidup dengannya.
Orang pertama muncul di gerbang. Aku mendekat, gelisah, seolah aku telah menghabiskan waktu hingga berkemah di dalam sini. Fiorenzo, kuharap berita itu tidak bohong.
Sepuluh-dua puluh orang datang, dan gerbang menjadi arena lepas rindu. Aku memutuskan untuk mundur. Kembali duduk, Fiorenzo setidaknya sudah tahu aku menjemputnya. Dengan nyali setebal Tembok Raksasa China, aku katakan aku tak sibuk dan menjemputnya, dan dia bilang oh bagus, kebetulan sekali karena di rumah tidak ada orang, Papa dan Mama masih bersenang-senang di Athena.
Aku mengetuk-ngetuk kaki dengan jari sambil melongok. Jadi, barangkali butuh waktu selamanya untuk memberitahukan alasan mengapa,
bahwa aku masih jatuh cinta padanya.
Mencoba menyabarkan diri, aku mendongak. Aku benci kegelisahan namun nyatanya aku sering mendorong diriku sendiri ke jurang itu. Sebagai penenang aku mencoba membayangkan cara Monalisa tersenyum, saat aku menatap langit-langit. Da Vinci bagiku selalu berantai dengan Monalisa, dan tentu saja pelarianku atas perasaan tak karuan ini, dan tempatku berada, adalah suatu hal yang pasti.
"Aaah, akhirnya! Monique! Mooon!"
Lihatlah siapa yang kutemukan dan menemukanku. Aku refleks berdiri, mengibas-ngibaskan tanganku di samping celana. "Halo." Aku menaikkan kacamataku. Jelas sekali terlihat, meski dengan alat bantu lihat yang miring maupun yang diletakkan sempurna, dia adalah Fiorenzo.
Tempatku pulang dari segala perasaan jenuh.
"Hampir saja aku tak bisa menemukanmu," dia menurunkan tudung jaket dari kepalanya. "Apa kabar Italia?"
"Masih sama seperti saat terakhir kali kau menginjakkan kaki di sini."
"Mmm hm. Oke, bagus."
Aku harus berkata pada dunia, bahwa romansa satu sisi tak selalu terdiri dari untai-untai gejolak berlabel seribu diksi. Tidak. Ini begitu biasa tetapi juga begitu tak biasa. Aku sudah bosan bergejolak seperti mesin dengan ruas-ruas yang panas dan dinamo yang berkarat. Aku tenang di sisinya, meski terakhir kali aku mengalami itu adalah empat tahun lalu, dan kadang sesekali aku dihinggapi virus-virus ketidakpercayaan.
Jika dunia bertanya mengapa, mudah. Jawabannya adalah karena dia tempatku pulang. Pulang dari segala gejolak keseharian yang membuatku bergolak. Dia tempatku untuk kembali tenang dan memikirkan betapa indahnya dunia orang jatuh cinta.
Mudah.
Seorang Monique Sophie Yvonne Bonnefoy masih jatuh cinta.
Masih.
