Aku terbangun dengan tubuh yang di kelilingi oleh buku yang berantakan, dengan mata yang masih berat ku buka, aku meraih smartphoneku di samping meja. Alarm terakhirku berbunyi dengan nyaring. Alarm pukul 07:00 menandakan aku sudah melewati 4 alarm yang lainnya. Aku mulai menyetel alarm dari pukul 05:00 lalu pukul 05:30 kemudian pukul 06:00, 06:30 dan terakhir pukul 07:00. Baiklah aku sudah terlambat. Dengan malas, aku bangun dan bersiap untuk berangkat. Gak Mandi ni? jangan deh.
Hari ini kan ujian matematika, bisa - bisanya aku lupa. Momi kemana lagi.
"Bi Nay, momi mana?" Dia bi Nay. Seorang asisten rumah tangga yang telah menjadi bagian dari keluargaku.
"Momi telah berpesan pada bibi untuk menjaga El selama momi El pergi ke Jogja," sahutnya seraya menyiapkan sarapan pagi. Roti bakar keju mozi. Sebutan keju favorit aku -keju mozarella-
"Kenapa momi gak kasih kabar dulu si ke aku? apa momi gak pernah membayangkan bagaimana perihnya hati anaknya ini ditinggal sama dia."
"Neng, udah. Di makan dulu atuh," ucapnya membenarkan seragamku.
"Bukannya tadi malam kami semua sudah berusaha untuk bicara dengan El? El saja yang sama sekali tidak mau keluar dari kamar."
Aku itu tidur, bukan tidak mau keluar. Apa tidak ada yang mencoba mengetuk pintu, mendobrak munngkin. Tadi malem aku sudah kaya batu. Tidur sampai gak tau waktu.
"Neng El?" Bi Nay bersuara.
"Mau berangkat dengan siapa?"
Aku diam. Benar juga.
"Aku bisa naik ojek online bi. Sebentar aku pesen dulu," sambil membuka aplikasi ojol aku dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang tidak lain adalah Justin. Suara bel rumah memecah kesunyian saat itu. Aku dengan cepat berlari ke depan berharap ada tumpangan gratis pagi ini.
"Siapaa?"
"Hiii girl, how are you?" Sahutnya ramah.
Justin? Lagi?
"What's up?" sahutnya lagi.
Pagi itu aku seperti seorang putri. Justin mengantarku ke sekolah dengan mobil mewahnya.
"Berhenti disini aja," mobil mewah ini gak boleh terlihat di sekolah. Setidaknya jangan sampai aku yang terlihat keluar dari dalamnya.
Justin pamit pergi setelah mengantarku dengan selamat. Ia bergegas pergi karena Braun sudah menunggunya di hotel.
Di hotel berbintang lima ini. Aku dan para kru menjalani syuting video klip untuk beberapa pekan. Disini seperti di penjara. Akses keluar sangat sulit. Setidaknya aku bisa sekali keluar dari sini tanpa pengawalan. Namun, berakhir di rumah seorang gadis yang sampai saat ini aku tidak tahu siapa namanya.
"Kamu dari mana Justin?" Suara berat Braun memecah moodku.
"Aku hanya mencari angin sebentar."
Setelah menjauh dari para kru, aku berhasil ditahan kembali di depan pintu.
"Cari angin pagi - pagi? Nanti siang kita akan mengadakan jumpa pers untuk album terbarumu. Kau harus siap!" Pinta Braun yang lebih dulu pergi menjauh. Iya aku tahu, dan aku siap. Mudah-mudahan saja.
Aku begitu tidak bersemangat hari ini. Ada sesuatu yang menganggu pikiranku. Ada kejadian yang menggangu konsentrasiku. Kali ini benar-benar tidak bisa di maafkan. Aku berbaring sebentar sebelum Braun kembali memanggilku.
Sepagi ini, aku tidak biasanya pergi ke luar. Tidak untuk seorang gadis yang menyelamatkanku kemarin.
"Kenapa berhenti? Sekolahku bukan disini, tadi kan aku sudah bilang kalau-"
"Husss, bisakah kau tutup mulutmu itu sebentar!"
Aku tidak yakin dengan apa yang aku lihat. Sementara gadis ini terus bertanya hal yang tidak penting. Menambah runyam pikiranku pagi ini.
"Shut up." Satu kata yang memperjelas semuanya.
Ia tertegun, lalu diam seribu bahasa. Ia lekas keluar dari mobil tanpa berbicara apa-apa. Aku tetap melihat pada satu arah. Pada sepasang kekasih di ujung pintu sebuah kedai kopi.
"Justin wake up," Braun berteriak. Kini semakin keras.
"Apa kamu lupa? Cepat bersiap, kita akan jumpa pers sekarang, Move!" Pinta Braun dengan memaksa.
"iyaaa, aku segera keluar."
Jumpa pers pun berlangsung. Seperti biasanya aku menjawab satu demi satu pertanyaan dari para pers itu seolah aku telah lupa dengan kejadian yang sedang aku hadapi. Namun, aku sejenak terdiam saat salah satu pers menanyakan hal tentang Sayna.
Bersikaplah semanis mungkin untuk para BELIEBERS
"Dia baik-baik saja. Dia juga lagi sibuk dengan pekerjaannya sendiri," jawab ku dengan manis, sedikit grogi. Sayna yang bekerja sebagai Aktris membuat ku sangat jarang bertemu.
Sementara di sekolah. Elma mendapatkan hal yang tidak menyenangkan.
"Baik, kalian kerjakan PR nya ya!" Pinta Mrs. Maya. Aku berjalan di koridor pertama sekolah menunggu jemputan datang. Oh bukan, menunggu pangeran datang. Kenapa Justin bisa se tega itu tadi pagi? Membiarkan aku jalan ke sekolah sementara dia tidak berkata apa-apa. Di parkiran yang sudah mulai sepi, aku melihat seorang laki-laki berjalan ke arahku.
Luthfi datang dengan wajah nakalnya. Ia mencoba menghiburku, karena dia tahu aku sedang sangat marah dengannya.
"Kenapa?" Luthfi bertanya heran. Ia sepertinya lebih mengerti raut wajah sedihku daripada wajah kesal yang ku tunjukkan padanya. Kamipun pulang bersama.
Di rumah Elma, seseorang mengetuk pintu di luar.
Ia mengetuk lagi.
Tampaknya ia mulai frustasi, karena tak ada yang menjawab. Lalu kemudian Luthfi masuk begitu saja. Ia telah diterima baik oleh keluargaku. Justin yang melihat orang asing masuk seenaknya, hanya memandang dengan bingung.
Luthfi memanggilku seperti anak kecil. Aku mengerti, Justin pasti bertanya-tanya siapa laki-laki bringas ini. Datang tidak pakai salam, tidak juga dipersilahkan makan makanan di meja.
"Heii, kau ini kan Justin Bieber?
Penyanyi terkenal itu kan?
Kenapa kamu ada di sini?" Tanya Luthfi saat melewatinya.
"Kamu bicara dengan siapa Fi?"
"Kalau ngobrol, makanan dihabisin dulu di mulut."
"Elma?" Suara Justin berseru.
"Justin? Kamu lagi?" Aku tidak lupa ya Justin. Aku ingat dengan perlakuan kamu tadi pagi. Justin mengacuhkanku saat ia tiba - tiba saja memberhentikan mobilnya dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjelaskan tingkahnya itu.
"Sejak kapan kalian berteman?" Suara Luthfi menyelinap.
"Pertemuan yang sangat tidak di harapkan. Lagian, ceritanya panjang Fi kapan - kapan saja aku menceritakannya ya," Aku merangkul Luthfi yang masih saja melahap makanannya. Sementara Justin yang melihat kedekatan kami mulai merasa tidak nyaman.
Dia juga belum mengatakan terimakasih sejauh ini.
Justin berdehem mengambil perhatian.
Ia sepertinya mulai merasa terabaikan, atau mulai merasakan benih-benih cinta. Ah, bisa aja lu El.
KAMU SEDANG MEMBACA
STUCK ON YOU (COMPLETED)
FanfictionBertemu dengan Justin adalah mimpi pahit Elma. Ia bahagia sekaligus berduka. Ketika masalah semakin membuatnya harus melepaskan Justin, Elma memilih bertahan menderita dengan sikap Justin yang kian berubah. Bila waktu dapat berputar, ia tidak ingi...
