Chapter 14

136 2 0
                                    

Selama sarapan, El tak banyak bicara.

"Ayyo, Fi" Ucapnya lalu pergi. Aku yang tidak mengucapkan sepatah kata pun daritadi, hanya bisa memandangi mereka sampai keduanya menghilang dari ambang pintu. "Kalau gitu aku juga bisa pergi sekarang. Benar kata El, pasti orang - orang sedang mencari ku." Timpalku lagi. "Iya. terimakasih sudah mau menginap. Tidak usah sungkan - sungkan kalau mau berkunjung kembali!" Jawab mama El.

###

"Sudah??" Aku mengangguk. Kami berniat untuk kembali kerumah, namun seseorang terlihat mendatangi kami dengan wajah yang sengaja ia tutupi. Ia menyuruh kami untuk keluar. Kuturuti apa maunya sejauh ini. Luthfi memilih tidak keluar dari mobil. Hanya aku. "Kau?" Kini ia seperti mengintimidasi ku dengan berbagai pertanyaan tentang Justin. Braun. Ia pikir aku pelaku dari kerusuhan konser Justin kemarin malam. Ia datang dengan beberapa lelaki berbadan besar yang sangat kukenali tampangnya.

"Maaf, kenapa ya?" Aku berusaha tenang. "Siapa El?" Sahut Luthfi, dari dalam mobil. "Justin ada dimana sekarang?" Tanyanya semakin mendesak.

Tak ada pilihan lain. Aku dan Luthfi menuntun Braun menuju tempat tinggal ku. "Ia sudah pulang." Ucap mama ku pada kami. "Dia sudah pulang." Ku ulangi sekali lagi, walau Braun pasti sudah mendengarnya. "Baiklah, terimakasih. Maaf telah mengganggu." Braun pun pergi dengan beberapa orang yang terus mengekorinya dari belakang. Baguslah ia sudah pulang.

###

Langit yang kulihat, kini semakin menampakkan kegelapannya. Angin pun tak mau kalah untuk menghembuskan raganya yang begitu terasa menusuk. Aku tak lagi memakai baju T- shirt dan celana pendek andalanku. Akhir - akhir ini, aku lebih suka memakai baju terusan selutut yang dilapisi oleh sweeter hangat. Aku juga tak lupa mengenakan syal saat akan bepergian keluar. Secangkir teh hangat memang selalu menjadi menu utama ku di saat suasana seperti ini, tak terlewat dengan kebiasaan aneh ku . Menghitung setiap rintikkan air hujan yang turun dengan seksama, walau kadang aku sering terlewat saat ia jatuh bersamaan. Aku tak menganggap itu aneh. Sebagian orang saja. Entah, saat - saat seperti ini semua masalah seakan hilang. Tak lupa dengan suara petir yang sesekali menambah keragaman dengan suara yang dihasilkannya.

Setelah semua terasa nyaman. Masih tidak lengkap kalau tidak langsung keluar menikmati suasana itu sendiri. ~16:58~ Waktu yang kulihat di layar handphone ku. Hujan mulai reda. Walau hembusan dinginnya angin masih sangat terasa, tapi tak masalah bagi ku. Cold is one of the favorite thing for me right?

Ku raih syal ku dan bergegas menuju taman kota. Aku tak berniat mengajak Luthfi kali ini. Sepanjang jalan yang kulalui tak terlihat banyak orang yang berkeliaran. Mungkin mereka lebih memilih berada di dalam rumah dan mencari kehangatan di dekat perapian mereka. Beda dengan ku. Aku sangat jarang menggunakan perapian. Sekarang saja, hanya aku yang berdiri ditaman ini. Sulur - sulur rumput taman yang basah sangat terasa menyentuh jemari kaki ku. Jika ada yang menemani ku, tapi sayang tak ada. Aku juga tak ingin ditemani, Sungguhh.

Drett..Drett.."Hallo?"

###

~Office~

"Ada apa Grayse memanggil kita?" Tanya Luthfi di saat mereka sedang berjalan menuju ruangan salah satu orang penting di perusahaan ini. "Aku tidak tau Fi. Kemarin Grayse tiba - tiba saja menghubungi ku. Ia bilang aku harus ke ruangannya sekarang. " Jawabnya. Dengan penuh percaya diri, El menggenggam lengan pintu dan membukanya. "Dimana?" Ucap Luthfi. Ya, dimana? Dimana mba Grayse? Ia tak ada. Sementara Luthfi berniat untuk pergi keluar mendapati mba Grayse yang tak ada. Elma sebaliknya, ia dibuat heran dengan dekorasi baru ruangan wanita itu. Sofa besar di sudut ruangan ini telah berganti kain. Warnanya tak lagi hitam putih. Tak aneh memang. Hanya, mengapa harus ungu? Bukannya Grayse menyukai warna yang dominan gelap? Bukan hanya sofa. Saat kedua mata El menjelajah lebih jauh. Ia baru menyadari bahwa warna dinding ruangan ini pun telah berganti. Di setiap sudutnya juga banyak di temui ornamen - ornamen bernuansa ungu. Ada apa?

"El, mba Grayse sedang tak ada. Tak baik lama - lama di ruangan orang. Lagian, kenapa kau seperti mendekat ke arah meja? Kamu mau mengambil apa? Hayoo!"

"Huuuttss. Tak ada. Aku tak mau mengambil apa - apa. " El menyangkal sikapnya.Tak lama Luthfi yang berdiri di ambang pintu terkagetkan dengan kehadiran Grayse saat itu. "Hei! Luthfi. Sedang apa?"

"Ehh, lohh, ini. Bukannya mba Grayse manggil kita? Aku dan Elma?" Luthfi terlihat gugup. Eh.

"Iya, silahkan masuk!" Grayse berjalan didepan, yang membuat Elma segera menjauh dari tempatnya tadi. Namun ternyata atasannya itu mengetahui tingkah anehnya. "Ada apa?" Tanyanya dengan senyuman pada El.

"Haa? Tidak. Maaf kami lancang masuk. Kami kira mba ada di sini tadi." Ucap El gelagapan. Uh. "Tidak masalah. Silahkan duduk!" Grayse mempersilahkan.

Selama perbincangan mereka, El semakin terlihat risih dengan dirinya.

"Saya sudah sangat mempercayai kalian. Karena itu, saya mempunyai satu tugas lagi untuk kalian kerjakan." Tidak! Grayse menunjukkan layar laptopnya ke arah kami. El sempat menahan nafanya seketika. Uppss. Tak lama ia lalu menghembuskannya kembali. Grayse menatapnya bingung. "Kenapa El?"

"Aa,,ee,, tid-dak." Ia tersenyum tipis. Jangan bilang aku harus meliputnya lagi. Aku tak mau, bukannya tidak bisa.

"Justin akan menggelar konser terakhirnya untuk albumnya yang terbaru. Kalian tau kan apa yang harus kalian kerjakan?" Ucap Grayse sangat tegas untuk orang sepertinya.

"Tappii, emm. Apa harus kita?" El mencoba menawar. Grayse hanya tersenyum seraya menggeleng. Artinya tak ada yang lain. "Tunggu, ituuu??" Matanya terbelalak saat melihat layar walpaper laptop itu bergambar kan seorang yang sedang ia jauhi segala beritanya. Kau tau? "JUSTIN!" Ucap El kaget. Namun sekali lagi, Grayse hanya tersenyum. "Apa maksudnya ?" Tanya El semakin tak percaya.

"Iya, El. Saya sudah menjadi salah satu dari penggemar seorang Justin Bieber." Ucapnya semakin tegas. Lalu, sekali lagi dia berkata. Namun kali ini ia bersorak sorai." Yee! Beliebers. Beliebers!" Sungguh. Wibawanya hilang seketika itu juga.

El dan Luthfi terus memandanginya. Seolah tak percaya. "Dan mba akan datang ke konsernya besok malam?" Tanya Luthfi kali ini.

"Jelass, saya sudah membeli tiketnya seminggu yang lalu. VVIP lagi, jadi bisa dapet meet and greet. Sekalian foto bareng. " Seru Grayse membuat mereka tak habis pikir, mengapa pengaruh Justin begitu besar pada setiap wanita di dunia ini. El hanya bisa menunduk memikirkan nasibnya nanti. Sedangkan Luthfi sudah tak peduli dengan semua kenyataan yang ada.

***

Keeps read :|

STUCK ON YOU (COMPLETED) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang