"Heii Justin, mau ikut ke secret place kami?" Tanya Luthfi ramah. Ia lalu merangkul pundak Justin dan mengerdipkan mata padanya.
"That is a secret. You should not to tell him!" Gerutuku saat mendengar pernyataan Luthfi. Aku menepi, membiarkan mereka berdua dengan urusannya. Ku rapikan sedikit rambutku di kaca dan memberi sedikit lipstik di bibirku. Hari ini seharusnya aku pergi menuju museum. Disana sedang ada pameran. Dengan muka masam, aku memalingkan wajah ketika Luthfi mencoba menghampiri.
"El, kamu harusnya senang bisa bertemu dengan Justin Bieber." Luthfi mengucapkan nama Justin dengan jelas. Cukup jelas untuk membuatku menyodor jidadnya sampai ia terjungkit ke belakang.
"Aduhh, bukannya ini impian mu? Setiap malam kamu selau menangis di bahuku, disini ni-" Luthfi menunjuk bahunya. Bahu yang selalu menjadi sandaranku ketika sedang merasa sedih. Entah karena nilai matematika buruk, atau karena tidak bisa menonton konser Justin. Ah, aku tidak ingin mengakui itu semua.
Sebelum Luthfi membuka semua pernyataan yang akan membuatku malu sendiri, aku berusaha untuk menghentikannya. Aku tidak ingin membiarkan mulut embernya itu bocor kemana-mana. Setelah memberi sedikit riasan di pipi, aku berjalan menuju dapur.
Dan gagal!! Luthfi bicara semuanya.
"Dan kamu juga selalu memutar lagunya, dan selalu menangis bukan?" Ucap Luthfi lepas. Ia memandangiku lalu memandang Justin, dan aku, dan Justin, begitu terus sampai aku ingin sekali membuang wajahnya. Mematahkan lehernya dan membawanya ke kandang Serigala.
"Luthfi stopp please!" Kataku berbisik menghampiri dia yang mulai bertingkah. Mataku memicing, lenganku tidak bisa diam menutup mulut nakalnya itu. Justin yang memandanginya tersenyum bangga. Sementara aku tersenyum malu. Aku tak bisa menyembunyikan perasaanku sekarang, semuanya terbongkar.
Sebuah tempat rahasia, dimana hanya aku dan Luthfi yang menempatinya. Namun, hari ini tepat jam 5 sore kami telah menambah personil baru. Tempat kami terletak tidak jauh dari perumahan kami. Letaknya di atas bukit. Rumah yang berukuran 2x3 ini menjadi tempat favorit kami.
"Banyak debunya. Kamu gak pernah membersihkan tempat ini El?" Tanya Luthfi.
"Aku tidak pernah kesini semenjak kamu pergi." Sahutku sembari menaiki tangga. Mereka sudah berada di atas. Justin terus melihatku. Ia tidak berkata-kata. Namun, matanya seolah ingin bercerita. Di ambilnya lonceng yang tergantung di daun pintu.
"Kalau gitu kita bersihkan semuanya!" Sela Justin
"Kalau gitu kamu bersihkan saja Justin!" Aku bersahut. Ini bisa menjadi bentuk terimakasihmu karena sudah ku selamatkan.
"Aku? Sendiri? Oke, aku akan membereskan semuanya." Jawabnya penuh semangat. Di luar dugaan. Dia mulai meraih dedaunan yang jatuh, lalu membereskan pernak-pernik yang berserakan. Belum sempat Justin mengambil langkah pemberessan yang lebih, smartphonenya tiba - tiba berdering. Dia mendapatkan panggilan dari Braun, manajernya untuk segera kembali ke basecamp.
"Liat, belum apa - apa sudah mau pergi begitu saja." Aku menggerutu lagi, rasanya aku tidak pernah sekesal ini dengan orang lain. Aku memilih turun untuk pulang. Ku raih lonceng di tangannya dan membawanya bersamaku. Aku turun dengan perlahan, angin sore itu meniup kencang hingga hampir membuka drees putihku yang terurai selutut.
"Ohh, shit." Tanganku sigap menutup agar dreesku tidak tersingkap. Aku menoleh ke belakang, Justin memperhatikan.
"I must going now, sorry guys." Sebelum Justin pergi, ia sempat melirik ke arahku. Di saat melewatiku ia berkata pelan.
"Jangan pakai pakaian ini, terlalu menggoda." Bisiknya.
Ia melihat raut muka yang penuh dengan kekesallan. Lebih kesal daripada drees penuh resiko di bawah deraian angin yang cukup kencang.
Dia tau semua wanita menginginkannya. Tapi aku mau dia tahu bahwa segalanya tidak semudah yang ia bayangkan. Aku masih murung dan melamun sendirian. Sampai tingkahku itu membuat Luthfi sadar.
"El? Kamu kenapa? Memikirkan Justin?"
"Aah, tidak. Mana mungkin aku memirkannya." Jawabku menegaskan, sebelum aku kembali berjalan menuruni anak tangga.
"Sudah, kamu tidak usah berbohong. Aku tau semua tentangmu. Aku tau kamu sedang memikirkan sesuatu."
Orang tua ku entah mengapa belum menyampaikan kabar. Aku harus pulang, dan mengganti drees putih ini.
Di hotel, Braun menceramahiku saat tiba disana. Dia meraih jaket dan menyuruhku untuk bersiap bertemu dengan seseorang. Aku kira untuk urusan pekerjaan. Siapapun bisa bertemu denganku saat ini, hanya perlu meminta izin pada Braun. Dunia ini bukan duniaku dan kini, dia mengambil alih semuanya. Ku raih jaket di lengannya dan berdiri tanpa semangat.
"Akhir - akhir ini kamu sering pergi sendiri. Kalau kamu perlu sesuatu tinggal bilang saja. Sudah ada yang akan mengurus itu. Sekarang, ada yang menunggumu. Sana temui dia!"
Siapa lagi yang ingin menemui ku kalau bukan dia. Sayna datang dengan blouse coklatnya. Itu tandanya ia baru saja pulang syuting film. Aku seharusnya mendapatkan kabar darinya semenjak dua hari yang lalu. Bukannya penampakan dia dengan laki-laki lain di ujung pintu kedai.
Apa yang telah aku lihat itu sudah cukup menjelaskan permasalahan ini. Kata - kata dari mulut Sayna tidak ada yang ku pedulikan.
Aku melangkah meninggalkan Sayna yang terus mencoba mengelak. Terus berjalan ke arah jendela besar di kamarku.
Membukanya.
Membiarkan angin malam sedikit mengelus tengkukku.
Hanya satu perempuan yang melintas di pikiranku. Elma jessica Rudial. Gadis manis yang ku temui dengan tidak sengaja. Sore tadi, aku melihat wajahnya semakin manis saja. Setiap ia terlihat marah, aku tidak akan bisa berhenti menatapnya. Menatap pancaran mata birunya itu. Sudah seperti ombak yang ingin menghantam karang.
Malam itu aku menghubungi Luthfi. Dengan harapan, dia bisa menyambungkanku dengan Elma. Berbaring di balkon akan membuatku lebih leluasa bergerak tanpa awasan Braun, ataupun pengawal yang lain.
Malam itu kami mengobrol banyak hal. Walaupun aku selalu memintanya lebih sabar agar dapat menahan telphone itu hingga aku berhenti bertanya.
Kami berdua terlihat lebih akrab dari tadi sore. Aku mengingatkannya untuk tidak menggunakan pakaian putih itu. Aku bilang dia terlalu menggoda. Dia tidak perlu memakai pakaian seperti itu untuk menarik perhatianku. Dan juga bibirnya terlalu merah. Walaupun ia selalu membela diri dan mengatakan, jika itu sudah sangat tipis.
***

KAMU SEDANG MEMBACA
STUCK ON YOU (COMPLETED)
FanfikceBertemu dengan Justin adalah mimpi pahit Elma. Ia bahagia sekaligus berduka. Ketika masalah semakin membuatnya harus melepaskan Justin, Elma memilih bertahan menderita dengan sikap Justin yang kian berubah. Bila waktu dapat berputar, ia tidak ingi...