Troy menatap kesembilan penyihir yang tak berdaya itu didepannya. "Kita tak boleh membuang-buang waktu, kita harus memanfaatkan kesembilan penyihir ini." Troy mendekat pada penyihir. "Dimana gadis itu?" Para penyihir memilih bungkam. Troy menggulum bibirnya dan dalam sekejap kakinya menendang perut mereka satu-persatu, membuat mereka pasrah. "Sekali lagi katakan padaku, dimana gadis itu?" Bisik Troy.
Dengan pasrah dan tak berdaya seorang penyihir mengantakan tempat Mate dan Emma sekarang.
"Bodoh apa yang dia lakukan? Pengkhianat." Bisik penyihir lain tak berdaya.
Troy menyeringai puas. "Aku akan pergi kesana."
***
Guluman benda putih di langit membuat kesatuan kuat, menghitam dan bergemuruh. Awan comolusnimbus bergerak ke selatan rumah kediaman Mate dan Emma.
"Aku masih belum selesai membuat adonan donat, bisa kau bantu aku menyapu halaman depan Mate?" Emma menyeru Mate dari dapur.
Mate dengan malas dan canggung berjalan ke luar mengambil sapu dan melakukan apa yang Emma suruh, sejujurnya Mate masih merasa bersalah akan kejadian pagi tadi, ia ingin meminta maaf pada Emma tapi rasanya hal itu terlalu memalukan, ia harus mencari ide yang lebih bagus agar momen meminta maafnya tidak terkesan memalukan. Mate menatap gumpalan hitam di atas genting rumah kediamannya. Selesai menyapu, Mate kembali masuk ke dalam, ia mencium harum lezat dari arah dapur, karamel yang melumer dan adonan yang mengembang membuat perut Mate keroncongan.
Emma menyiapkan piring besar untuk menyimpan donat-donat buatannya. Setetes, dua tetes, sesuatu jatuh dari atas membuat piring besar itu basah. Emma menangis, ia tiba-tiba teringat pada ibunya. Hal itu membuat hatinya gamang. Emma merasakan hatinya terbakar rasa rindu pada ibunya, ia sangat merindukan Hannah, terakhir kali ia berbicara dengan ibunya yaitu saat ia bermimpi buruk dan bahkan Emma sudah hampir lupa bagaimana rasa dekapan ibunya yang biasanya selalu ibunya lakukan setiap Emma akan tidur.
"EMMA APA YANG KAU LAKUKAN?" Teriak Mate mengejutkan Emma, ia langsung mematikan kompor yang sudah mengepulkan asap. "Apa yang terjadi?" Emma berbalik dengan mata basahnya. "Emma.. kau menangis?" Ucap Mate bingung.
Emma seperti kehilangan kesadarannya, matanya lurus kedepan, telinganya seperti tidak mendengarkan apapun.
"Emma apa yang terjadi?" Mate menyentuh pundak Emma dan spontan Emma menatap Mate.
"Mate? Ada apa?" Detik kemudian ia sadar kalau donat-donatnya sudah gosong. "Ya ampun donat-donatku." Ia cepat-cepat mencari serbet untuk mengambil donat-donat itu sambil menghapus air mata. Emma menggigit bibir bawahnya, "Bagaimana ini Mate?"
Emma pontang-panting mencari serbet namun tidak ia temukan.
Mate menatap tingkah Emma dengan malas. "Dasar ceroboh." Mate melempar serbet pada wajah Emma. "Apa kau tidak melihatnya? Serbet itu ada di dekatmu."
Emma hanya diam dan canggung mendekat pada kompor. Ia mengangkat donat-donat gosong dari kuali.
Mate menatap donat-donat gosong itu. "Jadi aku menunggu dua jam hanya untuk donat gosong ini? Apa kau tidak tahu kalau aku belum sarapan dari pagi? Aku menunggumu membuat sesuatu sampai jam segini dan ini makan siangku?" Mate bertepuk tangan. "Karya yang bagus gadis...."
Emma gelagapan, ia merasa bersalah. "Ma-maafkan aku, aku tidak sengaja."
"Terserah, sekarang aku akan pergi ke kota, aku akan beli makanan. Dan kau tunggu disini." Mate melengos membawa jaketnya. Ia tidak peduli dengan cuaca mendung di luar, Mate segera masuk kedalam PW tua dan meluncur ke jalanan.
Emma bingung, "Apa yang telah aku lakukan? Aku menghancurkan semuanya." Ia menatap dona-donat itu. "Ini semua salahku." Ia membersihkan semua peralatan dan menyimpan donat gosong itu diatas meja makan.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Dolls God
FantasyBagaimana jika seseorang memiliki hobi mengoleksi roh manusia? bagaimana hal itu bisa terjadi? Mr. Felix memiliki hobi gila itu, ia mulai menemukan hobinya pada tahun 1937, berawal dari tewasnya seorang gelandangan di depan rumahnya ia mulai merasa...
