Mate menangis. "Kenapa bukan aku saja yang merasakan kesakitan ini. Bertahanlah... aku mencintaimu." Mate menangis meratapi Emma.
***
Dari tangan yang bergetar tumbuhlah kecambah balas dendam. Kemarahan yang terangkat dari dalam mulai berkobar bagai api merangkak di jalur berbensin. Dari hati yang gelap gulita ia bersumpah, ia bersumpah akan membalasnya.
***
"Mate." Mr.Trainor menghampiri Mate dikamarnya.
Lay langsung keluar dari kamar Mate begitu melihat Mr.Trainor.
Mr.Trainor duduk disebelah Mate dan menyentuh pundaknya. "Apa dia baik-baik saja?" Pandangannya mengarah pada tubuh dan luka bakar Emma. "Ini sudah dua hari dan dia belum juga pulih."
"Apa mantra para penyihir dan obat luka dari dokter pribadimu tidak dapat menyembuhkannya?" Mate terus menatap Emma, tangannya terus menggenggam tangan gadis malang itu.
"Butuh waktu untuk itu, ini bukan luka bakar biasa, api yang keluar dari tangan Magenta mengandung racun dan mantra yang akan menghambat proses penyembuhan. Secara medis ia akan sembuh dalam waktu dua Minggu tapi melihat banyaknya luka bakar sepertinya waktunya akan jauh lebih panjang."
"Tapi, apa selama itu juga Emma akan tetap tak sadarkan diri?" Wajah Mate iba melihat gadis yang berada di genggamannya itu.
Mr.Trainor menyentuh tangan Emma yang melepuh. "Ia akan baik-baik saja."
Suara Mr.Trainor membekukan suasana, seketika suasana berubah menjadi canggung. Berbagai macam pikiran masuk kedalam kepala Mate dan membuat pikirannya keruh.
Mate diam seperti teringat sesuatu. "Ayah. Apa boleh aku melakukan sesuatu? Seperti memulihkan kehidupan Emma? Aku ingin mencari kebenaran tentang kehidupannya yang sempat ayah ceritakan padaku, aku juga ingin memastikan bahwa orang tua Emma benar-benar ada."
"Untuk apa?" Jawab Mr Trainor singkat.
"Aku ingin semua ini berakhir. Aku ingin mengembalikan kehidupan normal Emma yang sempat hilang, ini adalah salahku dia begini juga salahku, aku harus bertanggung jawab. Aku akan mencari keberadaan ibunya terlebih dahulu setelah itu aku akan membiarkan mereka bertemu dengan begitu aku telah menghilangkan satu bebannya."
Debu-debu kecil beterbangan di sekeliling mereka, mereka ikut menentukan, begitu banyak namun tak kasat mata.
"Mate, putraku. Apa ucapanmu itu semudah yang kau pikir? Jelas semuanya tidak semudah yang kau bayangkan."
Mate menatap wajah Emma, gadis itu terlihat begitu mengkhawatirkan. "Itu memang akan sulit, tapi bukan berarti tidak mungkin. Aku akan melakukan apapun untuknya." Mate menatap tajam ayahnya.
"Hmm.Begitu ya?"
***
Northland cerah hari ini, matahari bertengger diatas, terlihat hampir tak ada selembar awanpun yang menutupi. Begitupun dengan rumah kecil di tengah halaman yang luas itu, berbeda dari hari-hari sebelumnya rumah itupun kini tampak terlihat terang.
Tak lebih seratus meter dari tempat itu terdapat seseorang yang sedang mengawasi. Silly, gadis itu duduk sembari iseng mencabuti rumput liar di sekitarnya. Entah apa yang dia lakukan namun tentu pasti ada maksudnya. Matanya sesekali beredar ke penjuru sungai namun tak lama kembali lagi ke rumah itu.
.
.
.
"Apa kau yakin dengan apa yang kau katakan Mate?" Lay berbisik pada Mate saat makan malam.
"Aku harus yakin. Kalau tidak begitu aku hanya akan berakhir bodoh."
Lay menuang air kedalam gelasnya. "Aku akan membantumu selagi aku bisa. Tapi tentu aku butuh informasi yang lebih darimu."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Dolls God
FantezieBagaimana jika seseorang memiliki hobi mengoleksi roh manusia? bagaimana hal itu bisa terjadi? Mr. Felix memiliki hobi gila itu, ia mulai menemukan hobinya pada tahun 1937, berawal dari tewasnya seorang gelandangan di depan rumahnya ia mulai merasa...
