Mata Mate terbelalak, "Siapa dia?" Mate menatap punggung lelaki yang menghampiri Emma dari kejauhan. "Mau apa dia?" ingin sekali rasanya ia menghampiri Emma dan menjauhkannya dari orang asing itu, namun apa daya, ia tak bisa melakukannya.
Tiba-tiba saja lelaki yang sedang berada bersama Emma berbalik pada Mate lalu menyeringai.
Mate terbelalak melihat siapa orang itu. "Ka-kakak."
Troy merangkul Emma saat menyadari perubahan wajah Mate dari kejauhan.
"Dia..." Nafas Mate kembang kempis, ia mengepalkan lengannya namun ia sadar akan hukuman itu.
"Ayah.. Ini adalah hukuman yang paling berat untukku." Ia hanya bisa diam melihatnya dari kejauhan.
***
Berbeda dengan hari-hari sebelumnya hari ini di Northland sangat cerah, sinar matahari menyinari kuncup-kuncup daun di semua dataran. Langit biru tampak tersenyum hingga tak nampak selembar awanpun disana. Burung-burung beterbangan mengalunkan lantunan alami yang menyejukan hati.
Emma sibuk menyiapkan minuman untuk tamunya. "Kau kemana saja? Hampir tidak pernah lagi kemari." ia mengocek minuman lalu membawa nampan pada tamunya.
"Maafkan aku, akhir-akhir ini aku sibuk. Aku baru bisa kemari sekarang."
Emma meletakan cangkir diatas meja. "Tidak apa-apa aku hanya bercanda kok."
"Emm.. Ngomong-omong kemana Mate?"
Emma seketika diam. "Aku tidak tahu." jawabnya malas.
"Apa dia melakukan sesuatu padamu?"
Lagi-lagi Emma diam. Dia berfikir apa harus ia bicarakan apa yang telah terjadi antaranya dan Mate. Itu akan terdengar sangat menyedihkan, terlebih Mate pergi setelah itu.
"Mate pasti telah melakukan sesuatu padamu. Apa dia menyakitimu?" tanyanya penuh selidik.
Emma menghela nafas dalam-dalam. Emma berpikir keras untuk memilih antara berbagi cerita atau bungkam, tapi ia sangat penasaran pada tingkah Mate dan karena Sivan ini adalah teman baik Mate siapa tahu dia tahu semua tentang Mate. "Sivan, apa kau tahu sesuatu tentang Mate?" tanya Emma ragu.
Ia menyeruput minuman yang Emma sajikan. "Tentu saja."
"Semuanya?"
"Ya, tentu saja. Kau ingin bertanya apa padaku?"
Emma menelan ludah. "Siapa saja wanita yang pernah Mate campakkan?" tanya Emma frustasi.
"Emma.. Kau.. Apa kau dicampakkan oleh Mate?"
Kata-kata itu memukul jantung Emma. Ia terdiam dan kembali merasa menyesal. "Iya!" jawabnya tiba-tiba sangat frustasi. "Dia pergi setelah melakukan hal bodoh padaku!" nafas Emma tak beraturan.
Troy tersentak. Hal bodoh? Tidak! Ini akan hancur seketika jika si brekngsek itu benar-benar melakukannya. "Apa yang dilakukan padamu? Apa dia?"
"Tidak.. Tidak.. Dia hanya mencium bibirku. Jangan pikirkan hal yang lebih dari itu." sergah Emma.
Bahu Troy merosot seketika. "Syukurlah."
"Kenapa?"
"Emm.. Tidak, bayangkan saja kalau kau benar-benar berbuat bodoh dengan Mate, Mate akan meninggalkanmu dan mencampakkanmu seperti gadis yang tidak punya harga diri."
"Benarkah?"
"Dia melakukan itu pada semua perempuan yang ditemuinya."
Emma benar-benar tak habis pikir kalau ternyata Mate seperti itu. Dia merasa tertipu saat ini, benar-benar tertipu. "Aku.. Aku benci Mate!"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Dolls God
FantasyBagaimana jika seseorang memiliki hobi mengoleksi roh manusia? bagaimana hal itu bisa terjadi? Mr. Felix memiliki hobi gila itu, ia mulai menemukan hobinya pada tahun 1937, berawal dari tewasnya seorang gelandangan di depan rumahnya ia mulai merasa...
