Kutentukan Ini Adalah Awal

166 6 0
                                        

Ia berada di sini tidak lain hanya untuk seorang gadis, ia bukan Emma.

***

Sebersit cahaya melintas bagai membelah bumi, lurus, cepat, dan bergerak tanpa hambatan. Rasanya hangat dan menyenangkan namun terlalu singkat. Lay akhirnya sampai di Northland setelah menempuh perjalanan beberapa detik, ia sampai tepat di ruangan rumahnya, rasanya seperti memakai mesin waktu. Sulit dipercaya tapi ini nyata, ajaib sekali. Garis pintu rumah miliknya pun kelihatan begitu nyata, Lay melangkah mendekat dan menyentuhnya. Ia sepertinya masih sulit percaya dengan apa yang baru saja terjadi padanya.

"Aku benar-benar pulang." Seru Lay terharu. Tak ingin kisahnya sia-sia ia lalu pergi untuk menemui Silly, Lay ingin menceritakan semuanya pada Silly.
.
.
.
"Benarkah? Lalu setelah itu apa yang terjadi?" Pekik Silly histeris.

Lay menghirup udara sebanyak mungkin, saking antusiasnya kini tingkahnya tak jauh seperti anak kecil. "Ayah Mate membawaku ke ruangannya dan menyentuh pundak ku, tau bagaimana rasanya? Rasa aku seperti terbang dengan kecepatan super, bahkan Apolo atau pesawat turbopun kalah cepat dibanding perjalananku. Ini gila kan?"

"Maksudmu? Apa ayah Mate itu ilmuwan?"

"Tidak, bukan, dia lebih hebat, tentu saja penyihir pasti jauh lebih hebat!" Ups apa yang barusan ia katakan.

Diam

Detik kemudian mereka diam.

Tak ada yang berkomentar. Hanya ruang kosong yang menggantung diantara mereka.

Lay menyesal, sebenarnya ia tidak ingin membicarakan yang itu tapi kenapa mulutnya malah enteng bicara. Ia lalu mencari alasan."Emm maksudku, ayah Mate sudah seperti penyihir, ya kau tau? Penyihir sungguhan. Hebat kan?" Lay merasa bodoh karena ucapannya, tapi ia juga merasa kalau Mate atau ayahnya tidak bicara menyinggung soal larangan memberitahukan identitas mereka pada orang lain. Lagipula ini hanya Silly, diakan orang yang lebih dulu mengenal Mate jadi mungkin tak masalah. Pikir Lay.

***

Lonceng besar yang berkarat bertengger megah di tiang utama. Suara bising menggulung menjadi gema. Mate saat ini hanya duduk di balkon sekolah sambil menatap kosong orang-orang di sekitarnya.

Brugg

Sebuah bola karet terpantul kearahnya.

"Hey kau... bisa kau ambilkan bola itu?" Seseorang berteriak dari tengah lapangan.

Mate menengok bola itu lalu setelah beberapa detik ia beranjak mengambilnya. "Ini." ia melemparkan bolanya ketengah lapang.

"Terimakasih." Teriak orang itu.

Mate kembali duduk. Ia tampak sedang memikirkan sesuatu.

"Hey tau tidak? Jessy besok mulai sekolah, katanya sehabis shooting di Amerika dia akan vakum dari dunia hiburan."

"Whoa kenapa?"

"Em.. mungkin dia ingin fokus belajar."

Beberapa orang perempuan melintas di depan Mate, tentu saja Mate sudah pasang telinga sejak kalimat pertama mereka.

"Maaf." Kata Mate, menghentikan mereka.

Mereka sedikit terkejut saat tiba-tiba saja Mate menghadang mereka. "Emm ya..?"

Mate berdiri dihadapan mereka, dengan nada sedingin mungkin ia mencoba mengklarifikasi apa yang didengarnya."Maaf aku sempat menguping pembicaraan kalian, apa kalian tahu siapa teman yang sedang kalian bicarakan?"

Mereka tampak salah tingkah dan kebingungan di depan Mate.

"I iya, jelas kami tahu, dia itu top model dan juga artis layar lebar. Dia sekolah disini."

The Dolls GodCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang