Najwa tak bisa menahan sakit yang begitu menjerat kepalanya itu. Hingga sebuah badan yang tegap itu menyambutnya. Penglihatannya pun mengabur. Kegelapan menidurkannya.
" Fai. Ada apa dengan mu ?"
Ia meletakan punggung tangannya kekening yang tertutup ciput putih itu.
"Oh shit, Kau sangat panas".
Sontak menggendong Najwa dengan gaya briddle dan berlari keUKS. Semua siswa yang melihat dilorong kelas itu benar benar kaget bahkan ada yang sampai mulutny menganga dengan deretan gigi yang agak keluar.
"Sudah mendingan ?"
"Awa dimana?"
"Ini di UKS, kalau memang sakit jangan kesekolah. Menyusahkan orang saja".
Najwa terkejut, siapa orang yang sedang berbicara dengannya sekarang. Dia hanya berdiri di pintu sambil memperlihatkan punggung gagah nya itu. Bagaimana ia bisa disini. Seingatnya ia menabrak seseorang dan tak ingat apa-apa lagi.
"Istirahatlah, gue pergi"
"Tunggu, trima.. "
Padahal Najwa ingin berterima kasih namun naas Dia sudah berlari meninggalkan ruang UKS.
Siapa dia .
*
Disela lamunan Najwa. Datang seorang membawakan bubur ayam.
Tok! Tok! "Najwa gimana keadaan mu ?" Sambil membuka pintu dengan sedikit teriak.
"Ih Syfa. Jangan ngagetin dong. Entar copot ini jantung." Ketus Najwa.
"Gak pakai salam lagi". Terusnya
"Ia ia maaf buk ustadzah, perlu nih aku ulangin lagi." Mencoba keluar UKS.
"Gk usah fa. Tapi lain kali jangan lupa ya." menarik tangan Syfa.
"Ok siip" memberikan penghormatan bak Najwa Komandannya.
" Ehem Najwa baru kamu beberapa minggu disini, eh udah bikin tranding topik disekolah." Meletakan bubur yang ia beli di depan tadi. Dan duduk disamping tempat tidur Najwa.
"Loh, awa ? Emangnya ngapain awa?"
Seingatnya, Najwa tidai mencolok disekolah, bahkan ia sakit saja masih bisa dijadikan tranding topic. Ia heran.
" Tapi tunggu kamu beli ini buat awa kan?. Tau banget awa belum makan". Sambil membuka bungkus bubur. Dengan senyum sumringah menanda kan kelaparannya berakhir.
"Enak aja tu buat Buk Rina, tadi dia suruh beli"
"Serius??".Najwa terhenti memasukan bubur itu kedalam sistem pencernaannya.
"Ckckckck. Bercanda kali Wa. Tadi emang Buk Rina nyuruh beli itu, tapi katanya buat kamu. Aku disuruh anterin ini." Sambil memasukan paksa sendok yang terhenti didepan mulut Najwa.
"Aw, hati hati donk Fa, kena gigi ni."mengambil sendok yang dipaksa masuk kemulutnya sama Syfa.
Mereka tertawa bersama. Walaupun Najwa masih pucat. Keceriaanya tak pernah turun sedikit.
Mereka memang sudah dekat, bak sikat gigi dan odol.
Walau baru beberapa minggu Najwa memang terkenal dengan kepandaian bergaulnya. Semua orang yang bertemu dengannya selalu ia dibarengi dengan senyum simpulnya.
Mereka pun berbincang-bincang membahas apa yang terjadi tadi pagi.
"Ah, serius kamu fa?. Si batu es itu yang gendong awa sampai UKS." Merona. Tampak antusias itu tergambar di wajahnya.
"Accie, udah ada panggilan sayangnya. Dan sekarang yang wajahnya udah kayak udang rebus. Ehem dia juga kayak panik gitu lo wa " goda syfa lagi.
"Kalo kamu pacaran sama tu batu es. Aku orang pertama yang harus kamu traktir bakso. Hemm itu kyaknya murah deh. Apa yaa.." mencoba berpikir makanan apa yang harus ditraktir sama Najwa.
"Husss, kamu itu apaan sih fa! Kan pacaran itu.."
"Mendekatai zina, dan kamu gak bakalan mau pacaran. Itukan yang mau kamu bilang" potong syfa.
Najwapun mencubit pipi syfa karena saking tembem dan alhasil Syfa murka.
Mereka terus mengobrol sampai obrolan tersebut terhenti karna bel jam pelajaran ke-3 berbunyi.
Syfa membantu Najwa untuk melangkah kekelas. Najwa bersikeras untuk masuk kelas walaupun dirinya masih di kerumuni oleh sakit kepala.
"Kita sampai." Masuk kedalam kelas sambil menuntum Najwa.
"Ehem ehem" semua siswa berpura pura batuk melihat Najwa yang sedang duduk dibangku belakang nya itu.
Salah satu siswa perempuan didepan bangku Najwa berbalik.
"Najwa, gimana keadaanmu ? Udah mendingan?"
"Alhamdulillah ike, udah mendingan." Sembari tersenyum, terlihat wajah pucatnya masih tergambar jelas.
"Trus gimana rasanya digendong sama si Kharim. Ohh so sweet banget kalian tadi". Tanya Romi dari samping kanan meja kelas Najwa. Memasang muka yang so imutt . Sebenarnya lebih terlihat menjijikan.
Ehh, seketika Najwa melengah kesamping kirinya. Tepatnya melihat Kharim yang duduk disampingnya. Tak disangka ia pun menoleh kearah Najwa.
Degg.
