-EPILOG-

2.8K 69 13
                                    

Tiga tahun berlalu..

Nggak terasa, aku sudah lulus dengan hasil yang memuaskan. Aku memutuskan untuk berhenti pada dunia boga. berbagai tawaran job menumpuk di kamar mama.

Aku memilih fokus pada karir yang ku mulai atas usul Putra dulu.

Putra?

Kami sudah putus hampir satu tahun yang lalu. Suatu konflik yang tidak bisa kuceritakan dalam kata-kata. Ku dengar, Putra sudah sukses dengan membuka usaha rumah makan yang kadang ia handle sendiri. Namanya sudah terdengar kemana-mana sejak ia lulus. Ia juga menjadi vokalis dari band yang sedang naik daun selama setahun belakangan ini. Dan sejak itu, kami tidak pernah bertemu maupun kontak lagi.

****

"Jadi, kamu bingung mau ambil job yang mana?" Tanya Rayhan. Sejak ia dan Sesil putus untuk yang kedua kalinya, hubunganku dan Rayhan semakin dekat. Lebih dekat daripada temanku yang lain.

Aku memijat keningku seraya mengangguk. Rayhan menyeruput satu gelas starbucks nya.

"Menurut aku, mending kamu ambil layar lebar. Nggak begitu berat, juga pasti bakal meledak." Ucap Rayhan. Aku menatapnya. "Fans mu lumayan banyak. Nggak lumayan lagi, emang udah banyak. Jadi, ambil aja.."

Aku mengambil proposal mengenai kerja sama itu. Aku membacanya dengan teliti. Dan beberapa saat kemudian, aku memutuskan bahwa film layar lebar ber genre keluarga ini akan aku setujui kontraknya.

Aku meraih hpku, menghubungi mamaku untuk membicarakan kontrak ini. Mama setuju dengan pilihanku.

"Anterin aku ketemu sutradaranya, Ray," pintaku. Rayhan mengangguk. Ia bergegas bangkit dan menuju parkiran. Aku mengikutinya.

****

Aku menjabat tangan Pak Andri, sutradara dari film yang akan kubintangi setelah aku menandatangani kontrak.

"Kamu bisa mulai shooting minggu depan, Tasha." Ucap Pak Andri. Aku mengangguk lalu berpamitan.

Aku menjumpai Rayhan yang menungguku di depan gedung. Entah kenapa dia nggak mau masuk.

"Gimana?" Tanya Rayhan

"Mulai shooting minggu depan," jawabku

"Syukurlah," ucap Rayhan. "Mau kemana kita?" tanya Rayhan

"Ke apartement mu yuk!" Ajakku. Rayhan hanya mengangguk.

Sampai di apartement Rayhan, seperti biasa, aku duduk di sofanya dan menyalakan TV.

Mama sering memarahiku. Rayhan juga sering melarangku untuk ke apartementnya terlalu sering. Dengan alasan yang sama, takut ada skandal yang melibatkan aku dan Rayhan.

"Kali ini kita punya berita baru nih dari seorang vokalis band Amsterdam."

Aku mendongak. Mendengar nama band Putra disebut. Aku menegakkan tubuhku, bersiap mendengarkan.

"Kemarin, kita memergoki Putra, vokalis dari grup band Amsterdam ini sedang makan malam dengan seorang wanita yang diakui teman lamanya."

Jantungku berdegup. Teman lama? Otakku tak mampu mencerna. Semua terasa blank.
"dan setelah kami wawancara lebih lanjut, sang wanita mengaku bahwa ia dan Putra telah bersahabat sejak kecil. Wanita itu bernama Jessica, seorang model dari KK managemant. namun, akankah kisah persahabatan mereka berubah menjadi kisah cinta? Saksikan wawancara kami setelah....."

TV mati. Aku menatap Rayhan yang telah berdiri di sebelahku dengan membawa remote di tangannya.

"Rayhan!" Pekikku

"Ngapain masih diliat?" Tanya Rayhan seraya duduk di sebelahku. Aku menyenderkan tubuhku pada sofa.

"Entahlah..." aku menarik nafas panjangku. "Aku susah untuk move on."

"Kenapa nggak balik?" Tanya Rayhan

Aku menggeleng. "Tuh, dia udah punya Jessica kan?"

Rayhan menyentuh tanganku lembut lalu menggenggamnya. "Tash, ada aku disini. Aku tau, kamu belum bisa move on dari dia.."

"Terus aku harus gimana?" Tanyaku, memotong ucapan Rayhan.

"Tolong kamu coba buat terima aku." Jawabnya. Aku menatap matanya terlebih dulu sebelum aku mengangguk.

Aku mengalihkan pandanganku, menatap sebuah dinding putih. Aku mencoba untuk berpikir. Putra sudah nggak peduli lagi. Dia nggak peduli aku dimana? Dia juga nggak pernah hubungin aku selama ini.

Kisah pahitku dengan Odi, berlanjut sampai di Putra. Aku mengalami beberapa hal yang nggak bisa aku masukkan dalam otak. berbagai pertanyaan nggak jelas muncul. Namun hanya satu yang jelas diotakku. Kenapa dunia itu sempit?

Rayhan. Hampir 5 tahun dia menunggu. Menunggu ku dengan sabar. Nggak peduli ia harus dibully karena menyukai kakak dari mantan pacarnya. Dan sudah saatnya aku mencoba membuka hatiku untuk Rayhan. Sahabat yang mungkin akan aku cintai kelak. meskipun, nanti aku tau kalau kami berpisah, semua akan berakhir. Tidak ada lagi kata sahabat. Dan aku harus menerima itu.

-----

END.

15++Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang