Berada dipelukanmu, mengajarkanku apa artinya kenyamanan, kesempurnaan cinta.
Berdua bersamamu, mengajarkanku apa artinya kenyamanan, kesempurnan cinta.Lagu kesempurnaan cinta milik Rizky itu mengalun indah dari tangan dan mulut Putra. Aku menganga tak percaya. Malam ini, Putta mengajakku dinner disebuah cafe. Tiba-tiba, ia naik ke panggung live music dan menyanyikan lagu untukku.
"Ini cafe milik papa aku." jelasnya setelah ia sudah kembali dihadapanku.
"Oh.." aku memainkan sedotanku. "Jadi ini yang kamu maksud waktu itu?"
Putra mengangguk. "Nah, semua udah terwujud." Ia bangkit dari duduknya. "Ayo. Kita harus siapin barang buat ke panti besok." Ajaknya. Ia mengulurkan tangannya. Aku tersenyum lalu meraih tangan Putra.
Kami menemui papa Putra sebelum berangkat. Baru kali ini aku bertemu dengan papanya. dan baru kali ini, Putra memperkenalkanku sebagai pacarnya pada papanya.
Aku kembali tersenyum ketika Om Arga memujiku, sama seperti Tante Mia.
"Putra itu sering cerita tentang kamu. Tapi, sayang, Om baru sempat kenalan langsung sama kamu hari ini." Ucapnya. Sebatang rokok diantara jari telunjuk dan jari tengahnya ia letakkan pada asbak.
"Putra minta bantuan Om buat kasih surprise ke kamu. Dan Om tau banget, Putra kalau bener-bener sayang, pasti akan melakukan hal sesulit apapun itu."
Aku mengangguk. "Tasha tau, Om. Anak Om sudah sering berkorban untuk saya." Ucapku dengan nada sopan. Om Arga tersenyum. Ia mengelus puncak kepalaku.
"Om percaya kamu cewek baik buat Putra." Ucap Om Arga. Aku tersenyum.
"Papa sama Bunda sama aja. Nggak bisa woles kalau kenalan sama Tasha." Sewot Putra
"Biar, dong, Put. Papa juga pingin tau, kaya gimana pujaan hatimu. Eh, nggak taunya secantik bidadari."
aku tersipu. Namun, Putra malah tertawa.
"Pa, kasihan Tasha nya papa buat malu mulu," ucap Putra. Om Arga ikut tertawa.
"Ya udah, gih, kalian mau kemana?" Tanya Om Arga
"Tasha ngajak Putra buat ke panti asuhan, Pa." Jawab Putra
Om Arga mendecak kagum. "Kamu itu, baru kenal Om sehari udah bikin Om bangga anak Om punya pacar kamu."
"Papa.." Putra mengingatkan.
"Ya udah. Gitu aja. Hati-hati ya kalian." Ucap Om Arga. Aku dan Putra mengangguk lalu keluar dari cafe ini. seprtti biasa, aku dan Putra selalu ngomongin keluarga kita kalau udah keluar gini.
****
Aku dan Putra mulai berjalan menyusuri lorong panti asuhan. Bu Andin, pemimpin sekaligus pendiri yayasan, mengantar kami. Aku mendengus kesal ketika semua barang aku yang bawa.
Bu Andin memberitahukan maksud kedatangan kami kesini. Para anak panti yang telah dikumpulkan jadi satu itu bersorak gembira. Melihat mereka membuatku sedikit terenyuh. Sebelum membagikan barang yang aku akan berikan, Putra kembali menghibur dengan permainan gitar dan suara merdunya itu. Sesekali aku ikut bernyanyi bersama anak-anak.
"Gimana suaranya Kak Putra? Bagus kan?" Tanyaku pada anak-anak panti ini.
"Bagus,"
Putra tersenyum. "Suara Kak Tasha juga bagus kan anak-anak?"
Kembali anak-anak manis ini menjawab bagus. Putra mulai membagikan satu kantong plastik besar yang berisi sarung dan mukena. kantong plastik satunya, kami serahkan pada bu Andin.
