"Tugas seni lo udah belum?" Tanya Willy. Memancing Nova untuk terjebak dalam perangkapnya.
"Belum, gue pusing," jawab Nova
"Lo tinggal ngerjain aja ribet, Nov," balas Willy.
"Nggak paham maksudnya, gue,"
Pak Ilham yang di depan kelas, menatap Nova dan Willy terus-menerus. Rupanya, mereka nggak sadar kalau diperhatikan seorang guru muda yang mengajar bahasa Indonesia itu.
"Ngomongin apa, Willy? Nova?" Tanya Pak Ilham. Willy dan Nova mendongak. Mereka cukup kaget. Pak Ilham menatapku, ia memberi kode melalui matanya untuk menyuruhku keluar. Aku mengerti dan segera berpura-pura izin ke kamar kecil.
Aku mendapati Nayra dan Feby yang mengurus kue tartnya di depan kelas. Aku duduk di sebeleah mereka dengan mengutak-atik korek api.
"gimana, Nova?" Tanya Nayra
"Pak Ilham marahin Nova sama Willy. Terus gue disuruh nyusul kalian." Jawabku. Nayra melongok, ia melihat suasana kelas. Aku ikut melongok di belakang Nayra. Andre dan Rayhan memberi kode untukku dan Nayra supaya tidak menampakkan diri.
"Gue kasihan sama Nova. Omg, Pak, jangan galak-galak sama Nova," gumam Nayra. Aku dan Feby tertawa. Jihan dan Fian keluar kelas. Mereka cukup shock melihat aku, Feby, dan Nayra ada di depan kelas.
"Jadi ini sandiwara?" Tanya Jihan saat aku selesai menceritakan rencana surprise ulang tahun ini. Aku mengangguk. "Terus kita ngambil kabel roll nya sandiwara atau beneran, Fi?" Tanya Jihan pada Fian.
"Ambil aja yuk, biar meyakinkan," jawab Fian. Jihan mengangguk dan keduanya pun berlalu.
Aku, Nayra, dan Feby menunggu kode dari pak Ilham dengan kesal. Lama. Aku melongok lagi. Kali ini, Nova menunduk. terlihat dari sini, kalau wajahnya merah. Sedangkan Willy, ia bersiap seperti orang mau pergi. Setelah Willy menggendong tas, ia berjalan keluar kelas.
"Nova gimana, Wil?" Tanya Nayra.
"Liat aja sendiri," jawab Willy. Ia duduk di sebelah Feby dengan tas yang sudah ia lepas.
Tiba-tiba, Andre keluar. Bertepatan dengan Jihan dan Fian yang kembali. Andre menyuruh kami masuk namun stand by di depan pintu. Aku menyuruh Andre untuk membawa kue tartnya. Feby membantu untuk menyalakan lilin.
"Kamu mau keluar atau saya yang keluar?" Tanya Pak Ilham. Ia terus memancing Nova agar ia mendongak.
"Nov, keluar dong..." seru teman-teman kelasku.
"Saya hitung sampai tiga, kalau Nova nggak keluar, saya yang keluar," Pak Ilham melirik arlojinya. Teman-temanku riuh. Menyoraki Nova untuk segera keluar. "Satu..." sorot mata Pak Ilham tetlihat tenang. "Dua...." kali ini Pak Ilham mulai resah, karena kalau rencana ini gagal, maka ia harus menyusun rencana lagi. "Ti..."
Berhasil. Nova berdiri. Ia mengambil tasnya tanpa menoleh kearah pintu.
1...
2...
3...Lagu happy birthday mulai terlantur disetiap bibir anak kelas ini. Nova menangis sekencang-kencangnya dengan berteriak kalau kita jahat. Andre membawa kue nya bersama Nova dan menyuruh Nova tiup lilin saat lagu berakhir.
Momen ini diabadikan oleh teman-temanku. Saat-saat langka, Nova dan Andre bisa berbaikan. Nova memukuli Andre pelan, merasa ia telah dibohongi. Andre segera merangkul Nova dan sorakan teman-teman langsung terdengar. Nova menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Andre menggerakkan tangan Nova untuk memotong kuenya. Nova hanya diam dan menunduk. Mungkin ia malu. Aku menuju tempat duduk Nova dan menyelipkan kadoku disana.
