1

1.2K 117 3
                                    

"Anjing."

Pria itu langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya bersamaan dengan matanya yang terbuka lebar. Astaga! Kenapa harus keceplosan disini sih! Erangnya dalam hati.

Pria itu mengangkat wajahnya untuk menatap seseorang yang telah menabraknya di koridor sekolah ini. Kalau saja gadis itu tidak menabraknya dia tidak akan keceplosan ngomong kata kata kasar itu di sini, koridor majelis guru.

Pria itu mencibir gadis itu lalu menatap ke kaca jendela yang tembus kedalamnya. Aman. Tidak ada satu pun guru yang melihatnya dengan tatapan aneh dan sebagainya. "Lo apaan sih. Maen nabrak nabrak aja. Lo kira gue apaan? Tiang listrik?"Umpatnya pada gadis di hadapannya.

"Maaf. Gue gak sengaja."

"Hhhhhishhh."Geram cowok tersebut lalu masuk keruangan guru, masih mempertahankan wajah kesalnya.

"Ibu? Manggil saya?"Ucap pria tersebut sambil berdiri menatap wajah wanita hamil berusia diatas 30 tahun itu. Wajahnya yang lembut membuat pria tersebut sangat betah memandanginya. Hm ya bisa dibilang wanita itu persis mirip dengan ibunya yang sudah tiada.

"Eh iya Iqbaal."Wanita tersebut menengadah dan tersenyum sejenak. Berdiri dari duduknya dan berjalan menuju luar sesudah memberi kode kepada Iqbaal agar pria tersebut mengikutinya.

"Nahhh. Ini temen baru kita. Ajak bawa ke kelas ya. Kamu kan ketua kelas, jangan lupa sekalian dikenalin sama temen-temennya. Bentar lagi guru pada rapat untuk bahas nilai. Jadi ibu ga sempet ngenalin murid barunya ke kelas. Mewakili kamu aja ya."Ucap Bu Nia sembari mengelus pundak gadis yang sedari tadi menunggu diluar majelis guru. Iqbaal menatap gadis itu sekilas sambil mengernyitkan keningnya kemudian mengangguk kepada Bu Nia.

"Yaudah kalian ke kelas ya. Ibu mau masuk dulu."

"Ya bu."

Iqbaal kembali mengernyitkan keningnya setelah Bu Nia menunggalkan mereka. Menatap gadis manis itu yang dari tadi sudah menatapnya. "Nama lo siapa?"Tanya Iqbaal.

"Zidny Imam Lathifa. Lo bisa panggil gue Zidny."Katanya sambil tersenyum. Iqbaal mengangguk sekilas kemudian berjalan diikuti Zidny. "Muka lo rada orang luar?"Zidny mengangguk. "Bokap gue orang Belanda dan gue sempat tinggal disana."

"Lancar banget bahasa Indonesianya."

"Nyokap gue Manado. Nama lo?"

"Gue Iqbaal Dhiafakhri. Panggil aja Iqbaal."

"Nama lo keren."

"Sekeren muka gue kan? Haha."Katanya diselingi tawa kecil. Zidny tersenyum manis. "Kelas kita disini. Masuk."Ucap Iqbaal sambil membuka pintu kelas membuat seisi kelas terdiam menatap ke arah mereka aneh.

'Anjir gue kira guru tadi'

'Iqbaal sialan'

'Wihhhhh murid baru'

'Mayannnn gewla'

"Woi. Duduk dulu bisa kali ya semua"Cibir Iqbaal ketika melihat satu kelasnya pada jalan jalan. "Bu Nia nyuruh gue ngenalin nih murid baru ke kalian. Jadi gue mohon banget sama kalian untuk duduk di tempat masing-masing. Atau gak gue bakalan manggil guru piket."Ucap Iqbaal sekaligus mengancam anak kelas membuat seisi kelas terdiam sambil mendengus mengumpat Iqbaal.

"Kenalin diri lo."Kata Iqbaal.

"Hallo. Nama gue Zidny Imam Lathifa. Kalian bisa panggil gue Zidny. Gue pindahan dari Belanda. I hope we can be a friends."Ucap Zidny diakhiri senyuman kecil.

"Lo duduk aja di tempat yang kosong. Seinget gue masih ada dua bangku kosong disini. Di bagian tengah sono juga ada."Ucap Iqbaal sambil menunjuk bangku tengah yang hanya diduduki oleh satu orang. Zidny mengangguk lalu berjalan menuju tempat kosong yang ditunjuk Iqbaal tadi dan berkenalan sekilas dengan seorang gadis disampingnya.

LieHikayelerin yaşadığı yer. Şimdi keşfedin