"Naik (Nam..)."Iqbaal menekankan kata-katanya ketika (Namakamu) tak kunjung naik ke motornya.
"Lo jahat banget sih."Ucap (Namakamu), tangannya meraih tangan kiri Iqbaal untuk membantunya menaiki motor Iqbaal yang jok bagian belakangnya tinggi banget. Rada pegel kalau mau naik motor Iqbaal.
Iqbaal mengernyit, ditatapnya (Namakamu) yang sedang menyanggul asal rambutnya melalui kaca spion, "Jahat kenapa?"Tanya Iqbaal sambil menjalankan motornya.
"Dia itu suka tau sama lo, pasti dia kecewa kalau tau lo lebih milih nganter gue dibanding dia."Kata (Namakamu), tangannya refleks memegang pinggang Iqbaal ketika Iqbaal sedikit melajukan kecepatan motornya.
Iqbaal tersenyum singkat di balik helmya, sedikit menurunkan kecepatan motornya, Iqbaal berkata, "Apa bedanya dengan lo ke gue."Skak.
(Namakamu) diam. Matanya menatap mata Iqbaal lewat kaca spion. Iqbaal yang lagi fokus dengan jalanan. (Namakamu) mengalihkan matanya dari kaca spion kemudian mengusap matanya yang mulai mengeluarkan setetes air mata.
Cewek yang tadi dateng ngehampiri Iqbaal pasti beneren suka sama Iqbaal. Dalam hati (Namakamu) tersenyum miris. Pernah ga sih ngerasain gimana rasanya mencintai dan dicintai tapi gak pernah bisa saling memiliki. Sakit banget. Kadang kala, terbesit dipikiran (Namakamu) untuk mengatakan perasaannya yang sebenarnya kepada Iqbaal, tapi pada realitanya (Namakamu) ga sanggup untuk mengutarakan penyebabnya.
"(Nam..) lo ngelamun?"(Namakamu) mengerjapkan matanya beberapa kali untuk berusaha fokus. (Namakamu) menatap Iqbaal yang sudah turun dari motornya membuat gadis itu mengernyit aneh. (Namakamu) mengalihkan pandangannya dari Iqbaal dan menatap ke sekitarnya.
"Kok kesini?"Tanyanya sambil menatap Iqbaal sarkastik.
Iqbaal menyeringai, tidak tau harus menjawab apa. Cowok itu membantu (Namakamu) turun dari motornya kemudian menuntun jalan (Namakamu) menuju taman berbukit yang kosong.
(Namakamu) memberhentikan langkahnya, membuat Iqbaal mengernyit dan menoleh kebelakang untuk menatap gadis itu. "Lo ngapain ngajak gue kesini?"
"Udah ikut aja sih, ntar lo juga bakalan tau."
(Namakamu) diam dan tetap membiarkan Iqbaal kembali menarik tangannya hingga akhirnya mereka berdua berhenti di sebuah bangku taman setelah melewati tanjakan berupa tangga tangga kecil namun lebar.
Setelah (Namakamu) duduk, gadis itu tersenyum singkat sambil menatap pemandangan alam yang jarang disaksikannya. Pemandangan yang menyejukkan mata dan hatinya.
"Gue tau lo lagi ada masalah. Jangan lo kira karna gue terlalu fokus bawa motor, gue ga tau kalau lo sempat nangis."Ucap Iqbaal terdengar sangat manis ditelinga (Namakamu).
"Kalau gue minta satu permintaan dari lo, lo mau ngabulin permintaan gue gak? Gue bakalan seneng banget pasti."
Iqbaal tersenyum, "Apapun permintaan lo, pasti gue kabulin (Nam..)."
"Menjauh dari gue mulai sekarang!"
"Gue ga bisa!"Nafas Iqbaal tercekat.
"LO HARUS BISA!"(Namakamu) berusaha sebisa mungkin agar suaranya tidak terdengar seperti bentakan, sedikit berhasil. Malah terdengar seperti tekanan. Yang harus Iqbaal tau, dada (Namakamu) begitu sakit ketika melihat garis kekecewaan di mata Iqbaal.
"Gue cinta sama lo!"Ucap Iqbaal cepat. Matanya menatap mata (Namakamu) dengan tulus. Benar-benar tulus. Hingga (Namakamu) sangat berusaha untuk mengalihkan pandangannya agar mata mereka tidak bertemu pandang.
"Sayangnya gue engga."
"Gue bakal berusaha untuk buat lo sayang sama gue."
"GAUSAH! Cukup menjauh dari gue, gue bahagia! Lo selalu ganggu hidup gue, gue ga tenang!"(Namakamu) menggigit bibir bawahnya, berusaha sebisa mungkin untuk menahan suaranya yang mulai bergetar.

ŞİMDİ OKUDUĞUN
Lie
Teen FictionEmang susah meyakinkan seseorang bahwa kita mencintainya. Benar-benar mencintainya. Kita mengganggunya karena ingin menunjukkan bahwa kita benar-benar mencintainya namun ketika dia menyuruh kita menjauh. Kita bisa apa? Hanya menjauh. Menjauh sedikit...