14

643 96 6
                                    

"Cewe lo ya?"Kata Arbani sambil menatap Bella.

Iqbaal mengernyit lalu menatap Bella kemudian beralih menatap teman-temannya yang sepertinya menunggu jawaban darinya.

"Haa, eng----"

"Iyaa, baru jadian."Ucapan Iqbaal dicela oleh Bella yang saat ini sedang tersenyum.

"Ohhh. Yaudah bagus. Kita ngerti kok. Sana gih."Iqbaal mengangguk walaupun dia juga rada kesal sama Bella.

"Maksud lo ngomong kayak gitu apaan coba Bell?"Tanya Iqbaal ketika mereka sudah duduk di meja yang jaraknya lumayan jauh dari tempat teman-temannya.

"Jadi itu temen-temen lo? Keren keren banget yaa. Kalau kayak gitu mah, lo emang harus ngenalin gue sama mereka."

"Belllll! Jangan ngalihin pembicaraan!"Bella mendengus, kemudian menoleh menatap Iqbaal yang saat ini juga sedang menatapnya garang.

"Biar si (Namakamu) tau kalau lo udah move on. Jadi dia ga perlu takut kalau misalnya lo masih nekat deketin dia."

Iqbaal memutar bola matanya, "Bellaaaaa, gue emang bener bener bakal jauhin dia dan gabakalan deketin dia. Gue bisa ngelakuin itu sendiri tanpa bantuan lo. Lagian lo sok tau banget sih."

"Baal, gue tau kali kalo misalnya lo masih suka sama dia. Jangan bohongin gue deh."

"Lo tau, Bell?"Bella mengangguk malas.

"Menurut lo, cinta itu harus diperjuangin kan?"Bella mengangguk lagi. "Gue harus gimana?"Tanya Iqbaal.

"Gue capek tapi gue gamau nyerah."Ucap Iqbaal lagi.

"Gue tau! Pertama, lo harus mulai dengan cara sok jual mahal. Karena biasanya, yang pendiam, cuek, dan seolah-olah ga perhatian yang bikin cewek klepek-klepek."

Iqbaal ternganga, "lo serius nyet? Gue perhatian aja dia gamau, gimana kalau gue ga perhatian."

"Btw ini maksudnya, lo nyuruh gue buat deketin dia lagi gitu ya?"Iqbaal menaikkan alis kanannya. Sebenarnya dia masih ga ngerti apa maksud Bella yang mengatakan bagaimana caranya membuat seorang cewek klepek-klepek.

Bella mengangguk, "Lo-nya aja masih suka, gimana gue gak ngedukung? Menurut gue ya Baal, kalau dia suruh lo ngejauh gitu, dia cuma mau lihat gimana keseriusan lo sama dia. Tapi begonya elo, lo malah ngejauh gitu aja."

Iqbaal berdecak, "lo ga ngerti, Bell! Dia emang serius. Nyatanya dia emang selalu ga nyaman kalo ada gue didekatnya."

Iqbaal mengalihkan pandangannya ketika pembicaraan mereka memang harus terhenti sejenak karena seorang pelayan darang memberikan pesanan mereka yang sudah dipesan sejak tadi. Setelah pelayan tersebut pergi, Iqbaal kembali menatap Bella yang sedang menyedot minumannya.

"Nohh lihat aja tuh, kalo sama cowo lain dia selalu care, lah sama gue? Boro-boro care, senyum aja gamau."

"Iqbaal yang katanya ganteng, plisss deh. Sama cewe aja nyerah! Cewek itu maunya diperjuangin, bukan ditinggalin.... Hmmm Bella teguh."Kata Bella diiringi dengan kekehan dan guyonan diakhir kalimatnya. Apalagi wajah memuakkan Bella diakhir kalimatnya itu benar-benar membuat Iqbaal muak.

"Begaya lo!"Ketus Iqbaal sambil melempar pipet yang tadi digigitnya.

*

Kebetulan yang menyenangkan bagi Iqbaal ketika pagi ini dirinya menemukan (Namakamu) didepan gerbang sekolah yang sudah terkunci dan hanya (Namakamu) seorang diri.

Iqbaal melajukan motornya menuju gerbang sekolah ketika dirinya sempat memberhentikan motornya saat cowok itu ingin memastikan jika itu benar-benar (Namakamu).

LieHikayelerin yaşadığı yer. Şimdi keşfedin