(Namakamu) menangis tertahan sambil meremuk kertas di tangannya. Kertas yang barusan saja dibacanya, kertas yang membuatnya semakin tidak terima dengan kenyataan hidup ini. Kertas itu membuat luka di dalam hatinya semakin melebar. Sakit. Sakit untuk dibaca. Dan hari ini adalah kesekian kalinya gadis itu membaca kertas menyakitkan ini. Selama ini (Namakamu) mencoba sabar dengan kenyataan ini, tapi lama kelamaan, ini semua sungguh membuatnya lelah.
(Namakamu) keluar dari kamarnya sambil membawa kertas itu, diperhatikannya keadaan sekitar. Gadis itu beelari kencang menghampiri kamar ibunya yang berada di lantai bawah. Membuka pintu dengan kasar, mengejutkan dua orang di dalam sana.
"Ada apa sayang?"Ucap Ibu (Namakamu) sambil tersenyum.
"Kamu ngejutin tau."Dengus Papa (Namakamu) sambil menggelengkan kepalanya diiringi dengan kekehan kecil.
(Namakamu) menangis lagi sambil menutup matanya, berjalan cepat lalu menyerahkan kertas itu ke hadapan papanya yang sedang sibuk dengan laptopnya.
Gadis itu mengerang ketika melihat wajah kaget papanya. "(Namakamu) udah tau pahh. Udah tau apa yang papa sama mama sembunyiin dari (Namakamu). Ternyata benar kan kecurigaan (Namakamu) selama ini, kenapa papa sama mama ga bolehin (Namakamu) keluar rumah sedangkan Karel boleh kemana-mana."
"Sejak kapan kamu tau?"Wajah papa (Namakamu) mengeras.
"Sejak (Namakamu) kelas satu SMA."Sambil mengelap air matanya gadis itu menjawab. Menghiraukan mamanya yang sudah menangis secara diam diam.
"Udah... Udah lama banget."
"Iya emang udah lama banget. Asal papa tau, (Namakamu) selalu nahan beban ini sendiri. Cape pahhh. Sampai (Namakamu) ngejauh dari semua temen (Namakamu), biar mereka ga ketular juga. Tapi akhirnya, (Namakamu) nyerah. (Namakamu) kasih tau papa biar papa tau kalau misalnya (Namakamu) udah tau kalau (Namakamu) pengidap penyakit HIV."
"Maafin papa ya sayanggg. Papa yang buat kamu kaya gini. Ini salah papa. Papa ga pantas jadi orangtua yang baik untuk kamu. Pergaulan papa itu dulu bebas banget. Salah papa yang selalu nyuntik narkoba. Papa nyesel sayang."
"Emang udah takdir dari Tuhan kalau (Namakamu) hidup dengan penyakit berbahaya, bukan salah papa."Gadis itu mengeluarkan tangisan tertahannya. Sampai akhirnya dia merasakan pelukan hangat dari mamanya.
"Mama selalu sayang sama (Namakamu)."Bisik mama (Namakamu) tepat disamping telinga (Namakamu) membuat gadis itu lebih tenang dari sebelumnya.
*
Jam sudah menunjukkan pukul 1 tengah malam. Hanya diterangi oleh lampu tidur kuning, (Namakamu) masih tetap menangis. Tangisannya sempat berhenti ketika dia berhasil ditenangkan oleh orangtuanya, namun kembali berlanjut ketika gadis itu sudah berada di kamarnya, lebih bebas melakukannya. Perasaan dalam hatinya masih belum bisa menerima.
Dan dari setahun yang lalu, ini yang gadis itu lakukan. Menangis sambil menahan suaranya. Namun kali ini berbeda, lebih menyakitkan. Orang mana yang ga bakalan nangis ketika dia tau dia mengidap penyakit berbahaya. HIV. Bisa dikatakan penyakit menjijikkan.
"Kenapa gue harus hidup kalau gue dikasih penyakit kaya gini?"Diangkatnya jempol kanannya, menggit keras untuk menahan erangan dari bibirnya yang kini semakin terdengar jelas. "Mendingan gue mati."Gadis itu mengusap wajahnya sambil menjambak kencang rambutnya.
'For all the times that you rain on my parade
And all the clubs you get in using my name
You think you broke my heart oh girl for goodness sake
You think i''m crying oh my oh...'(Namakamu) menatap layar ponselnya. Menampilkan sebuah nama yang tak lagi asing.
'Iqbaal💚'
(Namakamu) tersenyum sekilas. Namun tangannya bergerak mereject panggilan dari Iqbaal. Pria itu selalu menghubunginya tengah malam begini. Biasanya jam segini gadis itu sudah tidur, jadi ga pernah mengangkat telepon dari Iqbaal.

ŞİMDİ OKUDUĞUN
Lie
Teen FictionEmang susah meyakinkan seseorang bahwa kita mencintainya. Benar-benar mencintainya. Kita mengganggunya karena ingin menunjukkan bahwa kita benar-benar mencintainya namun ketika dia menyuruh kita menjauh. Kita bisa apa? Hanya menjauh. Menjauh sedikit...