Ega..lau

361 33 30
                                    

Beberapa ikan koi berwarna merah keemasan sepertinya sangat jengkel dan marah, karena air di dalam kolam berukuran sedang yang menjadi tempat tinggal para ikan sedang diobok-obok oleh cowok berambut hitam bergelombang.

Tangannya memegang sebungkus makanan tetapi dia tidak memberi makan para ikan, malah tak henti-hentinya terus mengobok-obok air kolam tersebut dengan keras, cowok itu lalu memasukkan kakinya ke dalam air kolam membuat penderitaan para ikan itu bertambah karena harus mencium bau tidak sedap.

"Sial..sial..sial," beberapa kali dia mengumamkan kata yang sama. Dia tak menyadari seorang wanita paruh baya kini tengah berada di belakangnya sambil menyilangkan kedua tangannya.

"Ega, Apa-apaan kamu! bukannya ngasih makan ikan, malah main air kayak anak kecil!" teriak Bunda Ega yang geram melihat tingkah anak lelakinya itu.

Ega menoleh ke belakang, Bunda sedang melotot padanya. Dia lalu segera beranjak dari kolam itu, membuat para ikan di sana merasa lega karena tak ada yang menganggu 'rumah' mereka lagi.

"Sekarang udah jam 4 sore, cepetan mandi sana biar nggak bau kecut," perintah ibunya.

"Iya, Bun," jawab Ega sambil mengangguk.

******

Segar rasanya setelah mandi, beban pikiran Ega menjadi hilang sementara setelah mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin. Setelah memakai kaos berwarna abu-abu bertuliskan "Jomblo? Woles Aja" dan celana pendeknya. Dia mematikan televisi yang menyala di kamarnya lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur tanpa memedulikan keaadan kamarnya.

Ega menghela nafas perlahan sembari menatap langit-langit kamarnya, lalu bergumam pelan,

"Sudah dua minggu lo nyuekin gue, Rin. Gue salah apa?"

Bayangan cewek berambut cokelat memenuhi pikirannya saat ini, cewek yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama dan juga cewek yang menjadi penyebab kesedihannya.
Ega yakin Karin bukan tipe cewek yang cuek, buktinya waktu pertama kali berkenalan dengannya Karin langsung bersikap ramah pada Ega.

meskipun sikap ramah-nya emang ke semua orang sih.

Namun, akhir-akhir ini sikapnya berubah dingin pada Ega. Saat Ega meminta maaf tetapi malah mendapat makian dari Karin, begitu pula saat dia menyapa Karin, cewek itu langsung memalingkan mukanya, dan saat Ega berada di sekitarnya, Karin langsung menghindari cowok kelahiran 8 November itu.

Jika Karin marah padanya karena dia memeluknya dihadapan banyak orang, Ega menyadari itu dan ia sudah meminta maaf. Namun, apakah rasa marah bisa sampai lebih dari seminggu hanya karena masalah sepele?

Untung saja Ega hanya memeluknya, bukan menciumnya. Cowok berwajah kebule-bulean itu merasa ngeri membayangkan jika tak sengaja mencium Karin di depan umum, pasti cewek berambut cokelat bukan hanya tak mengacuhkannya tetapi memusuhinya selama berabad-abad.

Meskipun begitu Ega tak akan menyerah, dia berusaha mencari cara untuk mendapatkan perhatian Karin. Karena, rasanya tak dihiraukan dan dibenci oleh orang yang dia cinta itu NGENES.

I'm at payphone trying to call home

All of my change are spend on you~

Ringtone ponsel miliknya berbunyi, Dia lalu bangkit dari tempat tidurnya, dan mencari asal suara itu karena kecerobohannya yang lupa menaruh ponsel.

Ega mencarinya di antara tumpukan baju yang berserakan di karpet lantainya tetapi hasilnya nihil. Dia lalu berdiri lagi dan memperhatikan sekeliling kamarnya.

If happy ever after did exist

I will still be holding you like this.

"Iya bentar, maksa banget sih bentar lagi gue angkat." Ega menggerutu sendiri.

My Girl (just) Friend ?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang