7ji 12fun no Hatsukoi

2.3K 129 34
                                        

Tak ada habisnya lekuk goresan karya sang pencipta mengindahkan setiap insan yang dilahirkan untuk dipuja kecantikannya. Tak ayal kaum adam hanya bisa berdecak memuji keagungan-Nya kala kedua mata ini hanya dapat menatap dan mengucilkan keberanian untuk mendorong kedua kaki memapah bergerak mendekati salah satu karya terbaik ciptaan-Mu.

Dia, si gadis dengan rambut hitam pekat terurai, kedua mata indahnya terbingkai oleh sebuah kacamata dengan setelan blazer hitam dan rok span yang tidak terlalu kecil mengapit sebuah tas jinjing pada lipatan lengan sementara tangan lainnya meraih pegangan kereta yang menggantung dengan kedua kaki yang sedikit berjinjit.


Aku selalu menyebutnya... si gadis kereta.


Alasan yang kubuat sangat sederhana, hanya karena aku dan dia selalu bertemu di kereta, mungkin lebih tepatnya karena aku yang selalu memandangi dengan penuh rasa kekaguman, maka kusebut dia demikian.

Aku hanya seorang pekerja freelance dari salah satu perusahaan koran yang menyediakan berita-berita aktual setiap paginya, dan sekaligus menjadi pria yang sangat-sangat beruntung karena aku selalu pergi di jadwal jam kereta yang sama dengannya. Keberangkatan kereta pagi, jam tujuh lewat dua belas.

Mungkin jarak antara aku dan dia saat ini sekitar sepuluh langkah, dalam gerbong yang sama, dalam keterbatasan jarak pandangku karena banyaknya manusia-manusia lain yang juga mempunyai segudang kesibukan, hanya sesekali aku melihatnya risih akibat desakan tubuh lain di sekitarnya. Jika saja keberanianku lebih bulat dari tahu bulat, aku tidak akan mematung dan hanya memandanginya seperti pecundang di tempat ini. Jika saja diizinkan,


Aku ingin melindunginya, aku ingin membuat perjalanannya terasa nyaman hingga tiba di tempat tujuan, aku ingin menjadi tameng diantara banyaknya orang yang mendesak tubuhnya disana, menjadi orang yang bisa menjaganya di saat-saat seperti ini.


Laju kereta yang perlahan berhenti, menggaungkan nama stasiun berikutnya yang akan disinggahi sebelum kembali melaju membawa ratusan penumpang menuju tempat tujuan mereka masing-masing. Harapku, hanya ingin bisa melihat wanita itu bernapas lega, memamerkan senyum semanis sukrosa kala pandang matanya akhirnya menemukan kursi kosong. Earphone berwarna putih itu selalu menggantung disana, mengusir rasa jenuh dan bosan yang hinggap setiap kali dirinya kehabisan akal agar tetap membuat kesadarannya terjaga.

Ada satu hal yang harus kalian ketahui, aku selalu menyukai ketika wanita itu menguap tanda protes tubuhnya yang masih sangat ingin berselimutkan kain tebal di atas tempat tidur, mungkin. Sangat lucu sekali, jarang mendapat kesempatan secara langsung untuk melihatnya melepaskan kacamata sambil menyeka sudut matanya yang sedikit mengeluarkan air mata.

Beberapa kali aku melihat kepalanya terjatuh karena tak kuasa menahan kantuk. Lalu dengan polosnya dia terbangun ketika lagi-lagi speaker itu menyebutkan nama stasiun yang akan disinggahi, kemudian dia akan bersiap untuk turun. Dan aku, turun berbeda satu stasiun dengan dia. Naas, karena hingga detik ini, meski name tag dengan tali berwarna biru itu menggantung pada lehernya, aku tetap tidak dapat mengetahui nama dan tempat dirinya bekerja.

Sudah kubilang, aku hanya pria dengan pekerjaan freelance dan juga tidak lebih buruk daripada pecundang yang hanya harus puas memandangi kaum hawa tanpa pernah ada rasa keberanian untuk mendekat. Keberanianku hanya sebesar biji wijen.



*****


ONE SHOOT!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang