o0o
Naruto berjalan santai sambil meletakan kedua tangannya di belakang kepala. Walau terlihat santai, hatinya terus menggerutu dan mengumpati ayahnya Hinata—Hiashi Hyuga.
Astaga, bapak tua itu selalu saja memiliki alasan untuk membatalkan kencannya dengan Hinata. Padahalkan, ia sudah mendapatkan restu dari kakak kembar Hinata yang paling menolak hubungan mereka dengan alasan Naruto itu bodoh. Hyuga Neji, entah karena apa cowok cantik itu justru menyuruh Hinata untuk mengajaknya berkencan.
Eh, tetapi, di saat ia menjemput kekasih bidadarinya di manssion Hyuga, ia bertemu dengan bapak tua yang gregetin—panggilan favorit Naruto untuk Hiashi—di pintu utama. Pria paruh baya yang masih tetap tampan itu, menunggu mereka berdua di depan pintu bagai seorang satpam.
Bapak tua yang gregetin itu bilang pada Hinata agar putri bungsu keluarga Hyuga itu menemaninya makan malam. Dengan alasan, ia tak biasa makan sendiri dan bahkan Naruto tidak diajak, betapa sakitnya hati abang, dek, pikir Naruto. Dengan berat hati, Hinata pun menyetujuinya agar tak di cap anak durhaka. Gadis itu meminta maaf pada dirinya. Dan dia harus apa? Tentu saja ia tak bisa menolak calon bapak mertuanya.
Satu kesempatan pun pupus.Kapan lagi cowok cantik itu membiarkan Hinata pergi dengannya. Kan fuck banget! umpat Naruto.
Namun, sebelum ia meninggalkan manssion mewah tersebut. Beruntunglah, Hinata memberi tahunya bahwa kakak kembarnya berada di rumah si mayat hidup.
Alhasih, sekarang ia berada di koridor manssion Shimura.
Kakinya berhenti bergerak ketika telah sampai di depan kamar mewah Shimura Sai. Cowok tampan yang sangat beruntung mendapati model majalah remaja seperti Yamanaka Ino itu terdengar tengah berbincang dengan kedua sahabatnya di balik pintu berlapis pernis yang amat mengilat dan licin.
Sial. Mereka tidak mengajak dirinya! Lagi-lagi, Naruto mengumpat.
Tangannyapun bergerak untuk mengetuk benda berbentuk persegi panjang besar dihadapannya. Namun, ia urungkan ketika mendengar topik yang mereka bicarakan.
"Sebenarnya, aku tak ingin ikut melakukan ini."
Ikut apa? Sial. Ia tak mengerti apa yang dikatakan calon kakak iparnya itu.
"Aku juga merasa begitu. Aku rasa, Sasuke terlalu egois."
Sasuke egois? Maksudnya? Bukannya memang pemuda pantat ayam itu selalu egois? Dan, kenapa terdengar serius sekali pembicaraan mereka? Sebenarnya apa yang mereka bicarakan?
"Sakura-sensei sudah cukup menderita karena diputuskan kakaknya Temari, dan Sasuke ingin menambah penderitaan tersebut dengan membohongi perasaan gadis secantik dan sepolos dir—"
Tunggu! Ada apa ini? Membohongi? Maksudnya? Apa hanya ia yang tak tahu apa-apa. Sial! Atau, jangan-jangan ... Sasuke hanya mempermainkan gurunya?
Ceklek
Blam
"Apa yang Sasuke rencana, 'kan?!"
"Naruto?!"
Mata ketiganya terbelalak saat menatapnya, persis seperti melihat setan.
"Katakan padaku! Apa yang kalian sembunyikan?!"
Mereka bertiga saling berpandangan lalu menundukan kepalanya takut. Sial! Kenapa mereka tak menyadari kehadiran Naruto? Dan di mana Hinata? Bukankah mereka sudah berjanji akan berkencan, pikir Neji, kesal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Between Hate and Love
Fanfiction[C O M P L E T E D - S S S] Haruno Sakura. Guru baru yang memiliki pesona luar biasa, tak pernah menyangka jika ciuman pertamanya akan begitu mudah direbut oleh seorang pria berkelakuan buruk yang notabennya adalah siswanya sendiri. Namun, lagi-lagi...
