PENTING :: CHAPTER SELANJUTNYA SAMPAI ENDING, DI-PRIVATE. silakan follow akun ini terlebih dahulu, jika ingin membaca :)
o0o
Seijuro berdecak ketika menyadari cairan hitam di dalam cangkir pesanannya telah habis, bahkan sebelum dirinya memulai percakapan. Astaga, ia tidak mau mengeluarkan selembar uang lagi hanya untuj membeli cairan pahit tersebut.
Melihat kekhawatiran pemuda dihadapannya, Gaara tersenyum tipis, ia tahu persis apa yang ada di otak Sei. Menjadi sahabat pemuda itu selama enam tahun membuatnya mengerti betul sifat Sei. Pemuda itu masih saja hemat, atau bisa dibilang pelit sampai sekarang. Maklum, anak rantauan.
Gaara mengangkat tangannya, memanggil salah satu pelayan yang berlalu lalang lalu memberitahu pesanannya, "Kopi, satu."
Menyadari secangkir kopi milik Gaara di meja masih terisi, bahkan belum tersentuh membuat alis Sei menyatu. Apa sahabatnya itu buta? Eum ... atau memang kehausan? Entahlah.
"Silahkan tuan," ucapan pelayan tersebut membuyarkan lamunan Sei. Pelayan tersebut sedikit menunduk ketika ingin menaruh secangkir kopi di depan Gaara. Sei yakin, wanita itu sama bingungnya dengannya.
Gaara mengibaskan tangannya, "Berikan itu pada temanku," ucapnya cepat, dan dijawab anggukan mengerti dari pelayan tersebut.
Setelah pelayan tersebut pergi, Sei melayangkan tatapan tak suka pada Gaara, "Aku tak menyuruhmu memesan ini," ucapnya kesal.
Gaara terkekeh lalu menepuk bahu Sei, "Tenang saja, kopi ini dan kopimu yang sebelumnya, aku yang traktir."
Sedetik kemudian, Sei tersenyum lebar. "Wow, kau memang sahabatku."
**
Sasuke berlari tanpa tujuan, pikirannya berputar kemana-kemana. Beribu pertanyaan berputar dikepalanya: apakah Sakura sudah mengetahui segalanya? Jika iya, dari mana Sakura tahu itu? Apa ia tahu dari Naruto? Sial, apa Naruto sebegitu brengseknya? Apa itu yang namanya sahabat? Setidaknya jika Naruto tidak menganggapnya sebagai sahabat, bagaimana jika teman saja? Oh fuck! Sepertinya Naruto sudah tidak menganggapnya apapun, atau mungkin musuh? Ya, tentu saja. Mengapa ia terlalu bodoh untuk menyadari itu?
Argh, kepalanya kembali berdenyut. Brengsek!
Semua tempat di sekitar sekolah sudah ia kelilingi, tapi tak sekalipun ia melihat helai merah muda yang sedang ia cari. Katakan ia bodoh karena mencari seseorang yang sudah jelas tidak ada di sini. Masa bodoh dengan itu.
Tidak ada cara lain, ia sudah menelpon Sakura namun tak diangkat, nge-chat Sakura dari segala akun milik gadis itu, tapi jangankan dibalas, dibaca saja tidak. Sial. Cara terakhir yang ada di dalam pikirannya adalah bertanya langsung pada ibu kekasihnya itu.
"Apa Tsunade-sama ada di ruangan?" tanya Sasuke pada sekretaris kepala sekolah yang ia ketahui bernama Shizune yng juga dokter di sekolah ini.
Wanita berambut coklat itu mengangguk ringan, "Jika kau ada perlu, beritahu aku saja. Aku yang akan membantumu. Dia sedang sibuk."
Sasuke menggeleng cepat, "Aku perlu bertemu dengannya langsung, ini penting."
Keringat yang membanjiri dahi Sasuke meyakinkan Shizune bahwa itu memang benar-benar penting, tapi ... mau bagaimana lagi, wanita berdada besar itu sudah memperingatkannya agar tidak menganggunya sampai ia sendiri yang keluar dari ruangannya. "Maaf, Sasuke, Tsunade-sama benar-benar sibuk. Tenang saja, aku akan membantumu dengan baik. Katakan apa masalahnya?"
Sasuke melihat jamnya gelisah. Ia hanya akan membuang waktu jika ini terus terjadi, "Aku benar-benar harus bertemu dengannya. Kumohon, hanya sebentar," suara Sasuke melemah, dia juga memohon. Astaga~ betapa beruntungnya dokter itu bisa melihat wajah sedih Uchiha Sasuke.
KAMU SEDANG MEMBACA
Between Hate and Love
Fanfiction[C O M P L E T E D - S S S] Haruno Sakura. Guru baru yang memiliki pesona luar biasa, tak pernah menyangka jika ciuman pertamanya akan begitu mudah direbut oleh seorang pria berkelakuan buruk yang notabennya adalah siswanya sendiri. Namun, lagi-lagi...
