Bonus Chapter ✔

6.7K 321 119
                                        

o0o

Gaara mengeram, kesal. Ia sudah berkali-kali membunyikan bel apartemen Sei, tapi pria itu tak juga membukakan pintu untuknya.

Dia keluar? Tidak mungkin, Sei tak mungkin keluar pada malam hari seperti ini. Gaara hapal betul jika Sei pantang keluar lewat pukul 7 malam. Mungkin saja, pria itu
sudah tidur. Yeah, mungkin saja. Maka dari itu Gaara kembali membunyikan bel untuk membangunkan Ssi dari waktu hibernasinya.

"Apa dia tak ada?"

Pertanyaan Matsuri membuat Gaara berhenti menekan kasar benda tak bersalah itu. Dia menatap Matsuri seraya menggelengkan kepala.
"Pasti dia ada!" jawabnya yakin.

Pandangannya kini beralih ke kunci otomatis di sisi dinding. Menatap huruf dan angka-angka itu sejenak. Setelah sekian lama berpikir, ia memasukan pasword "seitamvan" di sana.

Sebelum menekan enter, ia berdoa agar Sei belum merubah pasword-nya selama empat tahun ini.

Dan,

TARAAA!

Pintunya terbuka. Ia tersenyum lebar.

"Jika kau tau pasword-nya, mengapa tidak kaubuka sejak awal?" sarkasme Matsuri membuat Gaara melihat Matsuri yang terlihat kesal seraya memijit kakinya.

Diam-diam Gaara membetulkan ucapan Matsuri. Mengapa ia tidak mencobanya sejak awal? Bodohnya ia."Ck, sudahlah, ayo masuk, dan jangan bersuara, kita akan memberikannya kejutan!"

Matsuri menghela napas, menyerah. Ia tahu Gaara merupakan tipe pria yang sangat mudah mengalihkan pembicaraan. "Baiklah."

Mereka memasuki apartemen sederhana itu dengan mengendap-ngendap. Namun, langkah keduanya terhenti di balik tembok ruang utama ketika mendengar teriakan Sei yang terdengar panik.

"Sakura, tidak! Jangan lakukan itu!"

Dahi Gaara mengernyit mendengar nama Sakura disebut oleh Sei.

Apa yang sedang Sakura lakukan hingga Sei berteriak seperti itu? Sakura tidak mencova memperkosa Sei, kan?

Dengan perasaan amat khawatir, ia menyuruh Matsuri tetap menunggunya di sini melalui gerakan tangan, kemudian ia mendekati sumber suara.

Mulutnya terbuka disertai mata membesar melihat darah memenuhi tangan Sakura, bahkan sampai berceceran di lantai.
"Bodoh!" desisnya tajam ketika melihat Sakura memeruskan aksinya. Ia berlari ke sana dan,

Bruk

"Argh!"

Sakura sedikit terpelanting ke belakang hingga jatuh ke lantai saat Gaara tiba-tiba menabrak bahunya, pria bersurai merah itu segera merebut paksa pisau berlumuran darah dari tangan Sakura.
"Kau sadar apa yang telah kau lakukan, Sakura ?!" bentaknya, penuh amarah.

Sakura tak fokus mendengar kemarahan Gaara, ia masih mengerjap-ngerjapkan matanya, syok dengan dorongan Gaara. Ia merintih seraya mengusap bahunya yang baru saja menabrak lantai cukup keras. Namun tak sengaja, emerald-nya
menangkap darah di pergelangan tangannya.

Seolah baru sadar jika dia telah melukai dirinya sendiri, mata Sakura melebar. "A-apa yang telah kulakukan ...?" tanyanya kebingungan, menatap Gaara dan Sei bergantian, meminta jawaban.
"argh, perih sekali," ringisnya sembari meniup-niup lukanya yang semakin banyak mengeluarkan darah.

Gaara menatap luka Sakura, khawatir. Takutnya tangan gadis itu infeksi. Ia melupakan kemarahannya sejenak dan menarik tangan Sakura lembut, untuk ia bantu tiupkan. "Tolong bawa kotak P3K ke sini, Sei," pintanya.

Between Hate and LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang