#11

19.6K 758 4
                                        

***

Tepat beberapa hari setelah kepulangan Gaga dari rumah sakit. Hari ini, Gigi diantar oleh Gaga menuju kampus. ia mendapatkan sebuah kecupan hangat sebelum akhirnya ia keluar dari mobil jazz merah milik Gaga.

Disana, diujung jalan. Dion memperhatikan perempuan yang ia cinta disentuh laki-laki lain.

Bukan hanya cemburu, melainkan perasaan perih lainnya yang hinggap di dadanya kali ini.

"Gi.." panggil Gaga sebelum Gigi menutup pintu mobilnya.

"Iya, kenapa?"

Gaga terdiam sepersekian detik. "I love you."

Kedua pipi perempuan itu memerah. Tersipu malu. Gaga masih melihat senyum dari perempuan itu dari balik kaca mobil, sebelum akhirnya bayangannya menghilang.

Yang kemudian, Gaga melajukan mobilnya.

_

"Hai, guys." Gigi menyapa kedua temannya dengan senyum yang tak henti-hentinya merekah. Anne dan Vika hanya saling menatap bingung.

"Lo kenapa? Abis nangkep pikachu?"

Belum sempat Gigi duduk, Dion sudah menarik lengan Gigi. Membawa perempuan itu menjauh dari kedua temannya.

"Apa-apaan sih, Yon? Sakit tau," keluh Gigi seraya mengelus lengan tangannya yang memerah akibat genggaman erat Dion.

"Dia siapa? Lo jadian sama dia?" tanya Dion dengan mata memanas. Tatapannya garang. Rahangnya saling bertautan.

Gigi tersentak. Dengan ragu, ia menatap Dion.

"Si-siapa?"

Dion tersenyum tipis. Mengusap wajahya, berharap dapat mengontrol emosi yang mulai merasuki dirinya. "Perlu gue jelasin?" katanya dengan bergetar.

Gigi tidak menjawab.

"Laki-laki yang cium kening lo waktu malem dimana lo abis cabut, laki-laki yang buat lo bohong kalo nyokap lo telfon, laki-laki yang bikin lo khawatir segitunya di rumah sakit, dan laki-laki pemabuk yang sering nginep di rumah lo. Itu pacar lo?"

Mendengar Dion berbicara dengan nada tinggi, Gigi tersentak. Matanya memanas. Bibirnya mengatup rapat. Ia bahkan tidak tau harus bicara apa pada teman laki-laki yang tengah tersulut emosi saat ini.

"JAWAB, GI. JAWAB!" bentak Dion.

Gigi meremas ujung bajunya, takut. Ia memundurkan satu langkah tubuhnya, menjauhi Dion yang benar-benar menatapnya garang.

"Oke, kalo lo gak mau jawab." Dion membalikkan badannya. Kembali mengusap wajahnya dengan keputus asaan tanpa jawaban.

Dengan berat dan diselimuti perasaan takut, Gigi berusah angkat bicara. "I love him.," ucapnya lirih.

Dion terdiam. Masih membelakangi Gigi. "Did you fallin' in love with him?"

"Ya, i did."

Jawaban yang ia dengar barusan, bak sebuah tank yang meluluh-lantahkan pertahanannya.

Dion mengambil nafas dengan berat. Menatap Gigi, tatapannya tak segarang tadi, kini tatapannya berubah menjadi sendu.

"But, i love you."

Gigi terkejut. Kedua alisnya saling bertautan.

"I love you, Gigi. Did you see?"

"..."

"Gue adalah orang pertama yang khawatir ketika lo sakit. Gue adalah orang pertama yang selalu nyariin lo ketika lo gak ada. Gue adalah orang pertama yang selalu berusaha buat selalu ada. Apa gak ada sedikit pun perasaan buat gue, Gi? Kenapa lo bisa jatuh cinta sama orang yang bahkan baru lo kenal beberapa hari? Kenapa, Gi?"

Gigi tidak menjawab.

Tidak ada yang angkat bicara diantara keduanya. Keduanya saling terdiam. Mata Gigi memanas. Ia masih tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.

Sampai akhirnya, Dion yang lebih dulu memutuskan untuk melangkahkan kakinya pergi. "Percaya atau gak, lo bakal jadi milik gue."

Meninggalkan Gigi dengan perasaan bersalahnya, lagi.

UnforgivenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang