***
Gigi menatap whiteboard yang penuh dengan catatan itu dengan tatapan kosong.
Beberapa bagian dari pikirannya melayang ke malam dimana ia pertama kali membawa Gaga ke rumahnya.
Malam itu, Gaga benar-benar dalam keadaan mabuk. Benar-benar kehilangan kesadarannya.
Saat Gigi tengah menggantikan baju anak laki-laki itu, ia mendengar ucapan yang keluar tanpa sadar dari mulut laki-laki itu.
"Will you stay? With me in here," ucap laki-laki itu seraya menahan lengan Gigi.
Memang, ucapan itu diucap oleh laki-laki yang tengah kehilangan kesadarannya. Namun, entah mengapa, Gigi tidak pernah bisa melupakan ucapan pertama yang keluar dari mulut laki-laki itu.
Sejujurnya, Gaga memiliki kharisma yang luar biasa. Diluar sisinya yang pemabuk, Gaga memiliki pesona yang dapat memikat wanita manapun yang menatap matanya.
Termasuk, Gigi.
Namun, sejak kedatangan laki-laki itu dalam hidupnya, Gigi menolak dengan keras apa yang disebut cinta pada pandangan pertama. Terlebih, Gaga adalah seorang pemabuk berat.
Ini akan menjadi jalannya menuju kepedihan jika ia memang jatuh cinta.
Nyatanya, pikiran bisa mengelak. Namun, tidak dengan hati.
Semakin ia berusaha menolak, semakin besar pula perasaan nyaman yang ia rasakan saat berada disamping laki-laki itu.
"Gi, lo sakit apa?" kedatangan Anne yang tiba-tiba membuyarkan lamunan Gigi. "Lo demam? Pusing? Sakit gigi? Apa? Apa yang sakit?"
"Ck, ah. Anne." Gigi menghindar dari tangan Anne yang sejak tadi menempel di keningnya. "Gue gak apa-apa."
Anne terdiam. Ia duduk disebuah bangku kosong di depan Gigi.
"Lo cabut, ya?" Anne kembali menghujani Gigi dengan pertanyaan. "Lo cabut kemana? Sama siapa? Gi, jawab!"
Gigi meletakkan pulpennya dengan kesal. "Iya, gue cabut," jawabnya geregetan.
Anne memberikan tatapan seolah bertanya sama siapa?
"Sama Gaga."
"WHAT? Sama si tukang mabuk itu?"
"Sssh. Jangan keras-keras dong." Gigi membungkam mulut temannya itu.
"Are you gotta be kidding to me?"
Gigi mengangkat kedua bahunya.
"Gi.."
"I'm okay, right? Apapun yang ada dipikiran lo saat ini, pokoknya gue gak apa-apa. Dia anak baik," sambar Gigi.
"Tapi, lo baru aja kenal sama dia beberapa hari yang lalu."
"Iya, tapi gue yakin dia anak baik."
"Anak baik macam mana yang keluar dengan mabuk dari pub malam."
Gigi melayangkan tatapan tajamnya ke arah Anne yang tidak henti-hentinya memojokkan dirinya.
"Oke, oke. I am quiet."
-
Gigi berjalan menghampiri Dion yang tengah bermain basket. Ia duduk di pinggir lapangan. Menyaksikan laki-laki itu dengan asiknya 'menari' di tengah lapangan dan mencetak angka.
Dari tengah lapangan, Dion melihat perempuan itu sedang menatapnya.
Ia berjalan menghampiri perempuan yang mengikat rambutnya itu. Dan, duduk disampingnya dengan nafas ngos-ngosan.
"Did you miss me?" Gigi menyenggol pundak anak laki-laki itu dengan manja, seraya menyodorkan sebotol air mineral dari tangannya.
Dion meneguk minuman itu. Dan, melirik ke arah perempuan yang ada disampingnya dengan mengenakan t-shir putih polos.
"Yes, i already missing you everyday," ucap Dion cuek.
"Uh, you're so cute." Gigi merangkul Dion dengan tangan kanannya. "I miss you, too, buddy."
"You know what?"
"Hmm?"
"Banyak orang diluar sana yang bilang kalo kita bakal saling jatuh cinta. Cuma karena pepatah yang bilang kalo gak ada cewe dan cowo yang bisa temenan gak pake perasaan."
"Hu uh?"
"Padahal 'kan kita gak bakal begitu. Kita gak mungkin 'kan mau cinta-cintaan, Yon? Iya 'kan?"
Dion terperanjak. Lidahnya kelu. Ia hanya membalas Gigi dengan senyuman.
Saat mereka tengah asik berbincang, sebuah dering telfon dari ponsel Gigi membuyarkan semuanya.
Gigi menatap layar ponselnya.
GAGA CALLING.
"Bentar ya, nyokap telfon." Gigi pun menjauh untuk mengangkat telfon dari Gaga.
"Ha –"
"Hallo, Gi. Gi. Lo dimana?"
"Di kampus. Lo kenapa? Kok suaranya kayak –"
"Tolongin gue, Gi. Tolong. Gue butuh lo."
"I-iya, lo dimana? Lo kenapa?"
"..."
"Ga. Hallo?"
"..."
"Ga, jawab. Hallo?"
Tak ada jawaban dari Gaga, beberapa saat kemudian terdengar suara sirine ambulans.
Gigi masih dengan mendengarkan telfonnya. Sampai akhirnya, suara berat disebrang sana angkat bicara.
"Hallo?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Unforgiven
Teen Fiction"Aku punya seribu keinginan, salah satunya adalah membahagiakanmu."
