#8

23.2K 876 4
                                        

***

Gaga mengantarkan Gigi sampai ke depan pintu rumahnya. Sebelum Gaga melangkahkan kakinya menjauh, Gigi menahan lengan laki-laki itu.

"Will you comeback here?"

Gaga menghentikan langkahnya. Menoleh ke arah perempuan yang lebih pendek darinya itu.

"What's up?"

Gigi melepaskan tangannya dari lengan laki-laki itu. Ia menundukkan kepalanya.

"Nothing," ucapnya lirih. Lalu, ia mengangkat kembali kepalanya,"Nevermind."

Gigi tersenyum. Namun, yang terlihat bukanlah senyuman seperti biasanya. Melainkan senyuman dalam makna lain. Kedua matanya memancarkan sorot sendu, namun berusaha ia tutupi.

Gaga maju beberapa langkah. Memposisikan dirinya tepat dihadapan perempuan itu.

Perlahan, ia mendekatkan wajahnya. Mengecup kening perempuan itu. Kali ini, dalam tempo yang sangat lambat. Sepersekian detik Gaga membiarkan bibirnya singgah di kening perempuan yang ada didepannya itu.

Waktu memberi kesempatan Gigi untuk menghindar. Tapi, ia tidak melakukannya. Membiarkan waktu terus berlalu, menikmati perasaan aneh yang dirasa kala keningnya dikecup.

Bahkan, jika bisa. Perempuan itu akan meminta waktu untuk berhenti disini.

Gaga menarik tubuhnya. Mengangkat wajah Gigi dengan kedua tangannya yang dingin. "Kalo ada apa-apa, call me. I'll be there."

Suara lirih yang barusan didengar berhasil membuat Gigi ingin terus menahan laki-laki itu agar tetap disini.

Namun, apa daya. Ia hanya dapat melihat bayangan laki-laki itu semakin menjauh. Dan, mobilnya pun melaju.

Entah apa yang dirasa, tapi jelas Gigi merasakan sesuatu yang asing dalam dirinya.

-

Baru beberapa langkah Gigi masuk ke dalam rumahnya. Ia sudah terkejut dengan kedatangan Dion yang berdiri disamping jendela dekat pintu rumahnya.

Yang diyakini bahwa Dion melihat kejadian beberapa detik yang lalu.

"Di-Dion?"

Dengan pandangan yang sulit diartikan, laki-laki itu tersenyum. Mendekati Gigi.

"Are you okay? Gue denger lo tadi izin sakit," ucap Dion dengan nada sedikit gemetar.

Gigi tersentak kaget, ia bingung harus jawab apa. Pasalnya, itu hanyalah alasan yang ia buat-buat agar dapat menemai Gaga pergi.

"Hm, gue sebenernya gak sakit." Gigi menggaruk tengkuknya, berusaha menghilangkan rasa bersalah yang singgah. "Gue tadi pergi sama temen gue sebenernya."

Dion menganggukkan kepalanya, "Oh, yang tadi itu?"

Gigi menjawab hanya dengan anggukkan.

"Yaudah, lo istirahat deh. Kasian baru balik, capek." Dion melangkahkan kakinya mendekat, dan membelai pucuk kepala perempuan yang berhasil memenuhi pikirannya seharian penuh.

"Gue balik, ya."

"Iya, hati-hati."

Beberapa saat, setelah Dion membuka pintu rumah, Gigi kembali berucap dengan perasaan bersalahnya,"Maaf, ya, Dion."

Beberapa detik kemudian, ia hanya mendengar suara pintu tertutup. Tanpa mendengar ucapan balasan atas permintaan maafnya.

DING

LINE

Ponsel perempuan itu berbunyi. Menampilkan pesan popup di layar. Bibirnya menarik sebuah garis senyuman.

Gaga; have a sweet dream, Gi.

UnforgivenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang