Angel Part 8

82 8 0
                                    


"Shafa, lo kenapa?" tanya salah satu teman Shafa yang duduk di dekatnya. Dan itu membuat semua pandangan mata tertuju kearah Shafa.

"Aku nggak papa!" ucap Shafa.

"Joe, Sela." ucap Rangga.

"Ah iya." ucap Joe dan Sela bersamaan. Mereka berdua bergegas mengambil alat medis yang di perlukan dan segera menangani Shafa.

"Maaf!" ucap Sela kemudian menyentuh kepala Shafa.

Joe menyentuh tangan Shafa yang bergetar. Menekan saraf yang ada ditangan Shafa, berharap itu bisa meredakan getarannya.

Rafael beranjak dari bangkunya dan memposisikan dirinya dihadapan Shafa. Ia menyentuh pundak Shafa dan menatapnya lekat-lekat.

"Tatap aku!" perintah Rafael. "Cepat tatap aku!"
Shafa menurutinya dam menatap kedua mata Rafael.

"Tenangkan dirimu, aku ada disini. Tenanglah! Lemaskan ototmu, buang pikiran yang membebanimu." ucap Rafael dengan lembut.

Perlahan getaran ditangan Shafa berkurang hingga tidak lagi bergetar. Rafael melepaskan genggaman tangannya pada bahu Shafa.
Shafa menundukkan kepalanya. "Maaf, aku mengacaukan suasana belajar!" lirihnya.

"Shaga, buat apa kita belajar medis tapi kita nggak menggunakannya? Ilmu yang kita dapat akan sia-sia." ucap Joe.

"Tidak ada kata beban untuk seorang teman. Bukan hanya kamu, jika yang lain kesulitan kita akan membantu. Karna seorang teman, tidak akan meninggalkan temannya dalam keadaan terpuruk." ucap Sela.

Rafael menyentuh pipi Shafa, mengusapnya pelan dan sedikit mengangkat kepala Shafa.
"Kamu dengar itu kan? Kita semua adalah anggota tubuh. Jika salah satu bagian tubuh sakit, maka semua akan merasakannya. Jangan pernah menyalahkan dirimu lagi." ucap Rafael.

"Terimakasih, teman-teman." ucap Shafa.

"Kalau lo nggak kuat disini, lo bisa tiduran di belakang." ucap Joe.

"Joe, emangnya lo guru." protes Yola.

"Benar kata Joe. Kamu boleh tidur di belakang." sahut pak Heru.

Shafa menggelengkan kepalanya. "Nggak pak. Aku mau tetap disini. Aku nggak papa kok." ucap Shafa.

"Jangan ngeyel!" marah Rafael.

"Nggak papa Fa. Bapak mengerti keadaanmu. Sebagai seorang guru, sudah seharusnya menjagamu. Jadi, jangan paksakan dirimu." ucap Pak Heru.

"Beneran pak, aku nggak papa. Nanti, kalau aku nggak kuat, aku langsung kebelakang." ucap Shafa.

"Baiklah. Tapi ingat, jangan memaksakan diri." ucap Pak Heru.

Shafa menganggukkan kepalanya.
Rafael tersenyum lembut, sedikit mencubit hidung Shafa kemudian kembali ke bangkunya yang ada dibelakang.

~

Rafael duduk diujung meja dengan kedua tangan ia lipat didepan dada dan kaki yang ia luruskan. Ia berada di dalam aula bersama dengan Dicky.

"Lo semakin dekat dengan Shafa ya." ucap Dicky.

Rafael hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas perkataan Dicky barusan.

"Gue khawatir. Identitas lo." ucap Dicky.

"Akhir-akhir ini, gue merasa gue benar-benar masih hidup. Gue akui gue bahagia dengannya. Tapi, mengingat gue sudah meninggal itu sangat menyakitkan." ucap Rafael tersenyum getir.

"Apa lo nggak mau ngasih tau dia?" tanya Dicky.

"Seperti yang pernah gue katakan. Gue akan memberitahunya setelah dia sembuh. Dan dengan itu......" Rafael menggantungkan kata-katanya.

AngelTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang