Shafa membuka kotak bekalnya. Hanya ada nasi dan juga sayuran yang di rebus. Shafa memang tidak boleh sembarangan makan. Ia harus menghindari bumbu-bumbu, terutama yang berbentuk kemasan.
Rafael tersenyum melihat bekal yang dibawa Shafa. Ia membuka kotak bekal yang ia bawa. Dan ia juga hanya membawa nasi dan juga sayuran yang direbus. Shafa terkejut melihat makanan yang dibawa Rafael. Walau sayurnya berbeda, tapi kenapa Rafael bisa membawa bekal seperti itu."Jangan menyiksa dirimu hanya untuk membuatku senang." ucap Shafa dengan raut wajah sedih.
Rafael tersenyum miring kemudian memakan bekalnya. "Rasa yang alami itu lebih nikmat, dan juga menyehatkan." ucap Rafael sembari mengunyah.
Shafa memandangi bekal yang ia bawa. Menggenggam gagang sendok, sedikit mengambil makanannya dan memakannya.
"Aku ingin menjaga pola makanku. Sekarang ini banyak sekali bahan makanan yang tidak sehat." ucap Rafael yang makan dengan lahap walau makanannya tidak ada rasa, hanya rasa alami dari sayuran yang di rebus itu.
Shafa menatap Rafael sedih. Ia tau Rafael melakukan semua ini untuk menghiburnya. Demi membuatnya senang dan tidak merasa dikucilkan. Tapi sikap Rafael yang seperti ini malah membuatnya menjadi merasa bersalah. Karnanya, Rafael dan juga teman-temannya harus mengorbankan apa yang mereka miliki.
~
Jam olahraga di mulai. Semua siswa kelas 11.B berganti pakaian olahraga, termasuk Shafa . Tapi Shafa tidak bisa ikut dalam kegiatannya. Seperti biasa, ia hanya duduk ditepi lapangan dan memperhatikan teman-temannya. Berolahraga memang membuat tubuh menjadi sehat. Tapi sistem kerja otot tubuh Shafa yang tidak bisa terlalu kelelahan. Atau ia akan pingsan seketika dan sangat berbahaya untuknya.
Rafael meregangkan otot-otot kakinya. Hari ini pengambilan nilai untuk cabang lari. Rafael memandang Shafa yang ada ditepi lapangan dan tersenyum miring. Setelahnya ia memandang lurus kedepan. Dan segera berlari setelah pluit di bunyikan.
"Ayo!" teriak Shafa dari tepi lapangan.
Entahlah, ia merasa bahagia melihat Rafael tersenyum dengan sangat manis padanya. Perhatian Rafael juga mulai membuatnya luluh. Mungkin dirinya mulai menyukai Rafael. Ah tidak! Senyum diwajah Shafa seketika menghilang. Percuma juga ia menyukai Rafael, ia tidak akan bisa terus bersama Rafael. Itu hanya akan menyakiti Rafael kan, jika tiba-tiba dirinya pergi dari dunia ini.
Shafa tersadar dari lamunannya saat mendengar suara nafas terengah-engah. Dan ia mendapati Rafael berdiri dihadapannya dengan peluh diwajah dan juga badannya.
Rafael membuka botol minuman dan menyiramkannya ke atas kepalanya yang terasa panas dan mengacak-acak rambutnya.
Ya Tuhan, kenapa ini? Jantung Shafa berdetak lebih kencang. Sumpah demi apapun, Rafael terlihat sangat mempesona dengan rambut basah yang berantakan seperti itu. Kalau boleh, ia tidak mau moment ini cepat berlalu. Ia mau waktu berhenti sejenak supaya bisa menikmati ciptaan Tuhan sedikit lebih lama.
"Kenapa?" tanya Rafael.
"Ah nggak!" Shafa segera mengalihkan pandangannya.
"Kenapa kamu disini?" tanya Shafa .
"Aku udah selesai ngambil nilai, giliran yang lain. Dan aku liat kamu sendirian disini, jadi aku kesini." ucap Rafael yang kini duduk dengan kedua kaki yang diluruskan.
"Aku udah biasa sendiri kok." ucap Shafa menopangkan dagunya diatas tangannya.
Rafael tertawa kecil. Kedua tangannya ia arahkan kebelakang dan menopang tubuhnya. Matanya terpejam dan menghirup nafas dalam-dalam. Berlari 200m sangat melelahkan.

KAMU SEDANG MEMBACA
Angel
ФэнтезиSeorang pria meninggal akibat kecelakaan. Tapi arwahnya masih bergentayangan dan bisa dilihat oleh semua orang termasuk teman-teman sekolahnya. Itu semua karna ia memiliki satu harapan besar. Apa harapan itu? Ketahui jawabannya dengan membaca cerita...