Kinal
Aku masih terdiam dibawah rintikan hujan deras itu. Aku membiarkan diriku diterpa hujan deras, sampai seseorang datang memegangi payung untukku.
"Kamu ngapain sih, ujan ujanan, mau sakit besok?"
"Emang lo siapa ngantur ngatur gu.., Vienny?"
"Gue temen lo. Emang kenapa?"
"Vin, sorry gue nggak tau kalo.."
"Iya gapapa. Udah ayo masuk mobil lo, atau lo neduh bareng gue disana."
"Nggak, gue pulang aja. Mau pulang bareng?"
"Boleh."
Aku membukakan pintu untuk Vera.. shit. Vienny dan mengantarkannnya pulang. Hujan deras masih turun dengan indahnya. Suasana malam menjadi lebih indah dan.. sejak Vienny ada disampingku - sekarang, kenapa suasana hatiku lebih menghangat?
Aku memegang tangannya, Vienny melamun menatap air hujan yang menempel dikaca mobil. Sama seperti Ve. Setiap hujan turun, Ia pasti akan melamunkan air hujan itu.
Akhirnya kami sampai di parkiran apartemen Vienny, aku keluar dan membukakan pintu untuk Vienny.
Vienny berdiri bersandar di mobilku, padahal hujan masih turun dengan deras.
"Vienny?"
"Iya?"
"Kamu temennya Veranda?"
"Iya. Kamu sahabatnya, kan?"
"Hm, bukan lagi."
Vienny memegang tanganku erat.
"Jangan sedih, ya? Ada aku disini."
Aku menatap mata indahnya. Dan tak sadar bibirku semakin dekat, dan kami berciuman ditengah hujan deras itu.
Rasanya seperti luka yang basah, lalu kering. Seperti padang pasir ditetesi air.
Aku bahagia.
"I'll see u tomorrow, Vienny."
"Don't call me Vienny. Just Viny. See u!"
Aku pulang ke apartemenku - naik lift - aku sampai di lantai apartementku - berjalan dan melihat Veranda sedang berciuman dengan Boby.
Bodoh sekali kau Kinal. membeli apartement yang dekat dengan apartemen lamamu.
Aku melihat Veranda melepaskan bibirnya saat aku melihatnya.
Boby pergi, tapi Veranda masih berdiri dipintu. Aku masih membeku di depan lift ini.
"Kenapa?" tanya Veranda
"Apanya?"
"Kenapa kau membiarkanku terluka?"
"Siapa yang lebih terluka disini?"
"Kau masih bertanya siapa yang paling terluka disini, Kinal?"
Aku terdiam.
Veranda mendekat dan mencekik leherku.
"MASIHKAH KAU BERTANYA SIAPA YANG PALING TERLUKA DISINI, KINAL?!"
Veranda menangis.
"Kamu lihat tadi? Setiap Boby memperlakukanku, setiap boby menyentuh bibirku, aku hanya selalu berharap itu kau, Kinal. Aku nggak pernah berharap sedikit pun kamu pergi.."
"Tapi ini semua juga untuk kebahagiaanmu, Veranda."
"JANGAN PERNAH MENGATAKAN HAL OMONG KOSONG ITU, KINAL. THAT IS BULLSHIT!"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Forbidden Love Story
Fiksyen PeminatSemakin dewasa, dunia berubah. Namun cinta Kinal pada Veranda tidak akan pernah berubah, sampai suatu kejadian besar merubah segalanya Sekuel kedua dari I'm In Love With My Enemy.
