Thirteen

12.7K 591 27
                                    

Daisy P.O.V

Sudah hari ke 2 aku di rumah yang baru aku ketahui ternyata ini mansion. Setelah pernyataan itu aku di suruh menandatangani sebuah kontrak berisi tentang perjanjian kami yaitu berisi :

1. Pihak pertama dan pihak kedua harus menikah pada tanggal yang di tetapkan.

2. Pihak kedua tidak berhak membantah perkataan pihak pertama dan harus menuruti perintah pihak pertama.

3. Pernikahan ini hanya dapat diselesaikan oleh pihak pertama.

4. Kedua belah pihak dilarang untuk berselingkuh.

5. Jika kedua belah pihak ada yang melanggar hukuman telah ditentukan.

Aku sangat sadar perjanjian itu hanyalah menguntungkan Dave. Namun, aku bisa apa jika terus menerus di ancam melukai Gabriel.

Aku tidak ingin seperti ini, tapi aku tidak mungkin membiarkan Dave melukai Gabriel.

Aku berhenti dari pekerjaanku di Cafe, tapi kata Dave untuk pekerjaanku di social media boleh di lanjutkan ada syaratnya yaitu, dia yang berhak memilih produk apa saja dan gambar seperti apa.

Aku tidak boleh ini dan itu semuanya diatur dengannya. Aku hanya pasrah menurutinya. Demi Gabriel.

Aku sekarang hanya diam di kamar memandangi keluar jendela karena handphoneku di pegang oleh Dave. Aku boleh menggunakannya saat di dekatnya. Aku benar-benar tidak dapat meminta pertolongan siapapun.

Bahkan untuk kabur dari mansionnya ini saja aku tidak bisa. Kamera CCTV bertebaran dimana-mana bahkan di kamar mandi aku rasa ada. Dia selalu mengintaiku di bantu pelayan-pelayannya dan di luar mansion ini banyak penjaga dengan badan kekar membawa anjing pelacak. Benar-benar mengerikan.

"Sugar..." panggil seseorang. Oh tidak sang pemilik mansion telah datang.

Tiba-tiba dari belakang Dave memelukku. Dia menciumi leherku. "Aku merindukanmu." ucapnya. Aku hanya diam tidak membalas apapun.

"Nanti sore aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat." ucapnya lagi. Aku hanya terus diam dan mendengarkan apa yang dia bicarakan.

"Apa kau tidak merindukanku?" tanyanya kembali menciumi leherku.

"Tidak." Jawabku cepat. Aku mencoba menghindar Dave yang terlihat sangat berbahaya.

"Kau menggemaskan, Sugar." ucapnya membalikkan badanku dan menciumi wajahku. Aku mencoba mundur, tetapi ia memeluk pinggangku dengan erat. 

"Dave berhenti." kesalku karena dia semakin mencium kemana-mana.

"Kenapa harus berhenti? Kau milikku." Lelaki ini kenapa selalu saja berucap seperti ini. Dia sekarang malah menciumi bibirku. Aku bukan jalang! Kenapa dia sangat mengesalkan? Aku terus memukuli dadanya yang keras mencoba melepaskan ciumannya.

Tokk... Tokk... Tokk...

Dia melepas ciumannya itu dan melihat ke arah pintu dengan wajah datar sedatar-datarnya. Terima kasih pada seseorang yang telah mengetuk pintu. Aku langsung menjaga jarak dengan Dave.

"Masuk." titahnya ketika menjadi tegas tidak seperti tadi yang terdengar manja. Dia terlihat keren sebenarnya namun dia pemaksa aku tidak suka.

Seorang lelaki memasuki kamar Dave. Lelaki itu tampan wajahnya datar tapi terlihat dia sepertinya lembut pada perempuan tidak seperti Dave.

"Jika tidak penting aku akan menghukummu, Deyes." ucap Dave terdengar sangat mengerikan. Jadi lelaki itu Deyes. Kurasa dia asisten Dave. Aku sering mendengar nama Deyes disebut oleh Dave.

Deyes terlihat seperti Gabriel jika di lihat sekilas dan aku menyukainya. Karena aku jadi tidak terlalu merindukan Gabriel.

"Tuan Christian datang kemari ingin berbicara dengan anda dan Ms. Mayric." lapor Deyes pada Dave. Aku dan Dave sama-sama menggunakan wajah bingung.

Tian ? Kenapa dia datang sih? Apa mungkin dia bisa membantuku pergi dari kehidupan Dave? Tidak mungkin. Aku hanya menggali kuburanku sendiri jika meminta bantuan Tian. Karena jelas ia adalah orang gila.

"Kami akan turun." ucap Dave dan setelah itu Deyes langsung menutup pintunya kembali. Dave sedikit melamun saat aku lihat. 

"Ganti bajumu dengan yang lebih tertutup." perintah Dave. Kenapa memangnya keluar dengan baju begini saja? Baju ini masih tertutup kok.

"Ini masih bajunya tertutup kok." ucapku berusaha untuk membantah perkataannya. Dia benar-benar semakin suka memerintah.

"Kau ingin memamerkan lehermu dan kakimu yang jenjang itu?" tanya Dave sambil menatapku marah. Kenapa dia jadi marah-marah?

"Baiklah, Dave." ucapku pasrah menurutinya dan berjalan ke walk in closet. Walk in closet ini banyak sekali pakaian perempuan bermerk dan aku tidak tau kenapa dia membeli semuanya. Dia bisa saja mengambil bajuku yang berada di apartemen.

Aku memilih mengganti baju dengan sweater yang terdapat turtlenecknya dan celana panjang yang aku yakin sudah sangat tertutup bukan?

Saat aku keluar dari walk in closet Dave setia menungguku duduk di kursi dekat ranjangnya. Dia melihatku dari atas hingga ke bawah dan dia menaikan bibirnya tapi sangatlah pendek.

"Ayo." ajaknya dan memeluk erat pinggangku untuk berjalan ke ruang tamu. Aku merasa tidak nyaman berada di dekat Dave seperti ini. Jantungku berdebar sangat keras. Aku tidak menyukainya.

Sampainya di ruang tamu aku melihat Christian duduk sambil meminum tehnya dengan tata cara kerajaan. Dia memang pangeran di salah satu kerajaan di Eropa.

Aku menghembuskan nafas kasar. Gelarnya itu yang mengubah semuanya. Kenapa dunia ini terasa sangat kecil?

"Oh! Selamat siang Dave dan calon adik ipar." sapanya yang sebenarnya sedikit membuatku tersinggung. Baiklah, aku benar-benar tidak mau berurusan dengan dia.

Aku hanya memandanginya dengan wajah datar. Aku membenci hal yang berbau kerajaan terutama orang yang berkuasanya

"Ada apa kau datang kemari?" tanya Dave to the point. Bagus Dave cepat selesaikan ini agar aku bisa kembali tenang tanpa gangguannya.

"Aku hanya ingin menyapa  gadisku, dan sedikit membicarakan pekerjaan denganmu Dave." ucapnya penuh penekanan pada kata gadisku. Sialan! Dia mau mati apa?

Aku merasakan pelukan Dave semakin mengerat. "Apa maksudmu dengan kata gadismu?" tanya Dave dengan suara yang sangat berat.

"Apa kau penasaran Dave?" tanya Christian balik. Sialan kau, Tian! Kau benar-benar mencari mati. Aku melirik Dave dia tengah memandangi Christian dengan sangat tajam.

Aku menelan ludahku. Aura di ruang tamu ini sangat tidak enak. Aku merasakan sangat sesak sekarang.

"Kau bisa tanyakan pada gadisku." jawaban Christian membuatku sedikit kaget dan langsung memandanginya. Aku merasakan Dave mencengkram pinggangku kuat. Sakit sekali. Jantung berdebar keras karena terlalu takut.

Christian brengsek! umpatku dalam hati. "Kurasa nanti saja kita membicarakan pekerjaan kita. Aku harus menjemput KQ dulu. Aku pergi!" pamit Christian. Sialan! Dia sengaja!

"Apa yang dia maksud sayang?" tanya Dave dengan suara yang sangat menyeramkan dan pinggangku terasa sakit kurasa bisa remuk. Dia meremas pinggangku.

"Dave sakit." rintihku pelan sedikit memberontak ke Dave. Sungguh sakit sekali rasanya.

"Cepat katakan, Daisy!" bentaknya dengan sangat keras dan pinggangku semakin di cengkram kuat. Aku takut kenapa harus ia yang marah?

"Dave lepaskan sakit." rintihku lagi dengan suara bergetar Tanpa sadar aku menangis.

Semua karena Christian!

Perlahan-lahan cengkraman di pinggangku mulai melonggar. Aku tanpa sadar sudah sesegukkan. Dave langsung memelukku erat dan menyembunyikan wajahku di dadanya. Aku hanya menangis menahan sakit di pinggangku.

To Be Continued

My Man is RichTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang