"Dave.." panggilku ketika traffic light berwarna hijau. Dia diam ini benar-benar terasa mengerikan. Untungnya saja di traffic light ini sepi.
"Daisy ini luka apa?" pertanyaan itu keluar dari mulut Dave dengan nada yang sangat menyeramkan. Saat itu juga aku langsung menegang.
"Dave, sudah hijau." panggilku berharap ia tidak mempertanyataka luka lebam itu, tapi gagal dia masih diam dan menggenggam erat pinggangku. Aku berharap bisa pergi dari hadapan Dave sekarang. Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya.
"Jawab, Daisy." ucapnya membuatku benar-benar tertekan. Aku harus bagaimana sekarang? Aku seharusnya tidak melakukannya di bagian itu tadi. Aku ceroboh sekali. Oh Dewi keberuntungan! Tolonglah aku menemukan alasan.
"Emm..." gumamku pelan sambil mencari jawaban, "tadi saat di kamar tidak sengaja menjatuhkan beberapa buku tebal setelah itu mengenai bahuku." lanjutku berharap dia mempercayai alasanku.
"Kenapa tidak bilang padaku?" tanya Dave dan itu membuatku tersenyum lega. Dia percaya padaku syukurlah.
"Aku tidak ingin merepotkanmu. Lagipula hanya lebam dan lecet sedikit tidak perlu khawatir." jawabku sambil tersenyum. Dia tidak mengeluarkan aura mengerikan seperti tadi dan mulai menjalankan mobilnya lagi.
"Lainkali apapun yang terjadi padamu bilang padaku." perintah Dave aku hanya mengangguk mengerti.
Selama perjalanan aku benar-benar tidak bisa duduk dengan nyaman. Dia benar-benar tidak membiarkanku duduk di tempatku sendiri. Sangat tidak nyaman karena aku dapat merasakan sesuatu milik Dave dan itu membuatku hanya diam tidak bisa memperbaiki posisi yang sangat melelahkan ini.
Akhirnya kami sampai di sebuah bangunan yang terlihat sepi karena ini sudah sore mungkin. Setelah Dave memarkirkan mobil aku segera keluar. Penderitaanku selesai juga! Aku melihati bangunan yang mungkin hanya ada 3 lantai. Aku kembali menelusuri sekitar bangunan ini dan menemukan sebuah plang yang berisi jadwal praktek psikiater. Jangan bilang Dave membawaku ke psikiater.
"Dave." bisikku kecil. Dave langsung menghampiriku setelah mengunci mobilnya.
"Ada apa sayang?" tanya Dave merangkul bahuku. Dia terlihat senang sekali. Mengerikan.
"Kenapa kesini?" tanyaku balik kepadanya. Aku benar-benar tidak nyaman berada di sini. Aku ingin pulang. Apa dia menganggapku gila? Aku tidak gila! Mungkin saja dia mencoba seseorang disini ? Aku tak tahu, tapi aku sangat takut dia mirip dengan petugas itu.
"Lihat saja nanti." ucapnya cuek dan menggandengku masuk. Apa yang sebenarnya ia ingin lakukan disini?
"Dave aku ingin ke toilet." bisikku pelan saat kami sudah berada di dalam gedung ini.
"Ayo aku antar." ajak Dave sambil menggandengku ke sebuah lorong mengarahkan ke toilet.
"Aku sendiri saja kau lebih baik selesaikan urusanmu saja." jawabku. Dia mengerutkan keningnya sambil menyeringai. Kenapa dia selalu mengerikan jika mengeluarkan seringain itu? Seakan seringainnya itu mematikan.
"Tidak, kita harus bersama-sama." tolak Dave dan bersandar di dinding. Aku tidak tau harus melakukan apa lagi sekarang untuk menghindari tempat ini.
"Baiklah." jawabku dengan pasrah. Aku kembali berjalan masuk ke toilet perempuan dan mencoba untuk tenang.
"Aish kenapa pake warna putih ya? Seharusnya tadi pakai warna hitam aja." omelku pada diriku sendiri karena dress putih ini sedikit ternoda. Aku segera merapikan penampilanku dan berjalan keluar. Di sana Dave masih bersandar sambil memainkan handphone mahalnya itu.
"Sudah?" tanyanya ketika aku berjalan mendekatinya. Aku hanya mengangguk pelan. Dia langsung menggandengku berjalan keluar dari lorong menuju toilet. Dia berjalan menyusuri koridor yang panjang dan melelahkan. Ternyata di gedung yang terlihat kecil bisa memiliki koridor yang panjang eh?

KAMU SEDANG MEMBACA
My Man is Rich
RomanceDia sangat berbeda. Dari sikap hingga wajah yang mulus, mata yang menghipnotisku, badan yang montok, dan yang palingku suka! Bibir sexy yang tebal miliknya! Susah sangat susah menyingkirkannya dari pikiranku, sepertinya aku terobsesi dengan gadis i...