Jilid 10 : Dijamu Siang-lin Kongcu

3.2K 48 0
                                    

Lain keadaannya dengan sekarang, pemuda itu berada dalam keadaan sadar, pikirannya seratus persen segar waras, sekalipun dia dapat menangkap maksud kerlingan mata keempat dayang itu, namun untuk sesaat dia tak mempunyai keberanian untuk melepaskan pakaian sendiri.

Pada saat itulah tiba2 di luar ruangan itu menggema suara langkah orang, menyusul seorang berseru dengan suara merdu: "Perjamuan telah di siapkan di ruangan depan, selesai bersihkan badan tamu agung dipersilakan untuk menghadiri perjamuan!"

"Hihihi . . . dia. . .dia belum lagi membuka pakaiannya . . . ." seru keempat dayang itu sambil tertawa cekikikan.

"Ah, masa? Sudah sekian lama kalian tidak melayani . . .." berkata sampai disini, orang di luar itu tiba2 mendorong pintu dau melangkah masuk,

Ketika dilihatnya Tian Pek masih berdiri terkesima dengan pakaian lengkap, sambil tertawa ia lantas mengomel: "Ah, kalian berempat memang keterlaluan, bukannya membukakan pakaian tamu, kalian malahan ter-buru2 melepaskan pakaian sendiri, makin lama kalian memang semakin tak becus bekerja .

Yang masuk ini juga seorang dayang muda, tapi kalau dibandingkan keempat dayang cilik tadi usianya lebih tua sedikit. bukan saja pakaiannya lebih indah dandanan pun lebih terpelihara, dari sini bisa diketahui kalau kedudukannya pasti jauh lebih tinggi dibandingkan keempat dayang cilik itu.

Sambil mengomel, dayang itu lantas menghampiri Tian Pek dan hendak membuka pakaian anak muda itu.

Keruan Tian Pek tercengang, untuk sesaat ia menjadi bingung dan tak tahu apa yang mesti dilakukan. Sementara tangan gadis itu sudah hampir menempel dadanya, Tian Pek terkejut, cepat dia berusaha mengelak kesamping.

Tapi gadis itu ternyata tidak lemah dan juga cerdik, agaknya sebelum melakukan gerakan tersebut ia telah memperhitungkan ke arah mana anak muda itu mungkin akan menghindar, maka baru saja Tian Pek berkelit ke samping, cepat ia menghadang di depan anak muda itu, sementara jari jemari yang lentik langsung menyambar leher baju dan membuka kancing pakaian Tian Pek.

"Hihihi, mungkin tuan tamu baru pertama kali ini berkunjung kemari!" kata dayang itu sambil tertawa cekikikan, " makanya engkau tidak terbiasa dengan pelayanan kami, maaf jika kami bekerja bagimu!"

Sambil bicara dayang itu, tidak berhenti bekerja setelah sebuah kancing baju Tian Pek dapat dilepaskan, dengan suatu gerakan yang manis dan lincah dia putar badan untuk melepaskan pakaian yang dikenakan anak muda itu.

Pakaian yang dikenakan Tian Pek ini adalah mantel hitam perkampungan Pah-to-san-ceng yang berlambangkan seekor macan tutul, mantel tersebut cuma mempunyai sebuah kancing pada bagian pinggang maka begitu ditarik oleh dayang itu, sebagian baju yang dikenakan itupun tersingkap.

Terperanjat Tian Pek menghadapi kejadian itu, tak terduga seorang dayang dari keluarga Kim saja memiliki Kungfu yang begini tangguh,

Sementara itu dayang tadi telah menarik pakaian Tian Pek kemudian putar ke belakang, andaikata pemuda itu bermaksud mencelakai dayang ini, maka pekerjaan tersebut bisa dilakukan dengan mudah sekali.

Tentu saja Tian Pek tak ingin berbuat demikian, sekarang dia adalah tamu, biarpun sudah diketahui Kim Kiu, ayah Siang-lin Kongcu adalah musuhnya, tapi sebelum terjadi pertikaian ia tak sudi melukai seorang dayang lebih dahulu.

Oleh karena pertimbangan inilah, walaupun perbuatan davang itu membikin Tian Pek merasa malu sehingga mukanya berubah merah padam, namun ia tidak berusaha untuk melepaskan tangan dayang itu, hanya dengan gelagapan ia berkata: "Nona, lebih baik kalian keluar saja dari sini, biarlah aku mandi sendiri saja.

"Plok!" belum habis dia berkata, tiba2 sejilid kitab berwarna warni terjatuh dari dalam baju anak muda itu.

"Ha, buku bacaan apa itu?" seru dayang tadi dengan mata melirik, "wah, tampaknya menarik sekali, coba kulihat, apa isinya!"

Hikmah Pedang Hijau (Swordman Journey) - Gu LongTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang