Tiba2 timbul pikirannya, cepat ia bertanya "Apakah Locianpwe yang menolong diriku?"
"Akupun tidak tahu siapa yang telah menolong kau, tapi memang akulah yang membantu menyadarkan kau. Tian-siauhiap, coba ceritakan kemana saja setelah kita berpisah tempo hari?"
Tian Pek lantas menceritakan semua pengalamannya semenjak berpisah dengan kedua orang itu.
Habis mendengar penuturan itu, manusia aneh tadi menghela napas, ucapnya: "Ai...rupanya takdir menghendaki demikian, aku gagal membunuh diri sehingga sekarang malah bisa menyumbangkan sedikit tenagaku bagi keturunan In-jin!"
Pe|ahan ia bangkit dan mengajak Tian Pek kedepan meja abu Tian In-thian, kata-katanya kemudian: "Tuan penolong kami yang kumaksudkan ialah ayahmu sendiri!"
Memandang meja abu ayahnya, tanpa terasa air mata Tian Pek bercucuran, ia berlutut dan menyembah beberapa kali.
Ketika itulah semua penderitaan lahir batin yang dideritanya selama ini terbayang kembali, tak kuasa lagi anak muda itu menangis tersedu-sedan.
Watak Tian Pek memang keras, belasan tahun hidup terluntang-lantung seatangkara, sudah banyak penderitaan dan siksaan yang dialaminya, tapi belum pernah dia meneteskan air mata atau mengerutkan dahi. Tapi sekarang berhadapan dengan meja abu ayahnya, ia tak dapat membendung rasa sedihnya yang selama ini mengganjal dalam hatinya.
Apalagi bila terbayang kegagalannya selama ini untuk mencari tahu musuh besar ayahnya, bukan saja dendam belum dapat dituntut, siapa pembunuhnya pun tak tahu, kesedihan ini membuat ia tak mampu menahan diri lagi dan menangislah dia ter-gerung2.
Tiba2 manusia aneh itupun ikut menangis sambil memukuli dada sendiri, rupanya iapun terbayang pada penderitaan sendiri dan usahanya yang sia2 mencari pembunuh tuan penolongnya.
Setengah barian lamanya kedua orang itu menangis, akhirnya manusia aneh itu menengadah dan bersuit panjang se-olah2 hendak melimpahkan segenap rasa sedih yang dideritanya selama ini.
Sambil mengusap air mata katanya dengan lantang: "Air mata seorang Enghiong tak akan menetes dengan percuma, Siau-in-kong! Jangan menangis lagi, ada beberapa patah kata hendak kubicarakan denganmu!"
Sesudah menangis, rasa sedih Tian Pek yang bertumpuk selama ini jauh berkurang, mendengar perkataan itu, ia berhenti menangis, ia berbangkit dan berkata: "Locianpwe jangan sungkan2 padaku, bila ingin mengatakan sesuatu, silakan bicara saja."
Hoat-si-jin (orang hidup mati) menghela napas sedih, ucapnya: "Ai, bila dibicarakan sungguh memalukan sekali, terlalu besar budi yang kami peroleh dari In-jin, begitu besar budi kebaikan tersebut sehingga sulit rasanya untuk membalasnya. Sungguh tak tersangka setelah kematian In-kong, bukan saja kami tak dapat balaskan dendamnya, malah siapakah pembunuhnya juga sama sekali tidak tahu, lalu apakah kami punya muka untuk tetap hidup di dunia ini? Waktu itu sebenarnya kami hendak bunuh diri dan menyusul In-kong ke alam baka, tapi kami pikir perlu juga mencari tahu siada pembunuh In-kong serta membalaskan dendamnya, maka kami terima hidup menderita sampai sekarang, kami bersumpah akan merabalaskan dendam kematian In- kong, sebelum berhasil kami takkan berhenti berusaha!"
Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan: "Sejak itu, kami menghapuskan nama kami yang asli dan menggunakan nama Hoat-si-jin serta Si-hoat-jin, sehari dendam In-koog belum terbalas, sehari pula kami tak akan menggunakan nama asli kami. Tapi pembunuh In-kong memang terlampau keji dan licik, gerak-geriknya amat rahasia dan cermat sekali, setelah melakukan penyelidikan yang seksama, akhirnya kami hanya tahu bahwa pembunuh In-kong ada enam orang banyaknya dan keenam orang ini merupakan tokoh kenamaan di dunia persilatan sekarang."
Sampai disini Hoat-si-jin berhenti pula dan mengembus napas panjang.
Tergetar hati Tian Pek mendengar nama musuh yang hampir disebutkan itu. dengan tubuh gemetar dan suara serak ia berseru: "'Lanjutkan ceritamu Locianpwe, lanjutkan . . . ."

KAMU SEDANG MEMBACA
Hikmah Pedang Hijau (Swordman Journey) - Gu Long
Narrativa generaleTian Pek dalam rangka menuntut balas kematian ayahnya pada mulanya bekerja sebagai piausu. Untuk meningkatkan kepandaian silatnya ia mendapat kitab silat maha aneh dari salah seorang pamannya yang disamarkan dalam gambar-gambar yang "hot". Untuk da...