sembilan - di mobil kala itu

76 6 0
                                    

PART KESEMBILAN : di mobil kala itu

***

Ira akhirnya bersyukur. Tadi Pak Mario tidak memarahinya karena Bu Dana sudah menghubungi Pak Mario perihal Ira tadi pagi dipanggil oleh Bu Dana.

Alhasil, Ira pun tidak jadi dihukum.

Sekarang Ira sedang di kantin bersama Gani dan Mosi tentunya. Mosi yang biasanya SKSD dengan orang-orang, kali ini lebih diam.

"Raa, lo kok bisa telat sihhh?" Tanya Gani akhirnya. Ia cukup bersyukur karena Mosi pergi meninggalkan mereka berdua di meja kantin untuk membeli sesuatu. Pasalnya, dari tadi mereka bertiga hanya diam. Ira pun tak mau berbicara apa-apa.

"Terus terus, yang cowok itu siapa lagi?" Lanjut Gani dengan rentetan pertanyaannya.

"Aku tadi dipanggil sama Bu Dana, dia izin, kita dikasi tugas." Jelas Ira.

Sedetik kemudian, wajah cantik Gani yang sumringah terlihat. "Yesss! Bu Dana gak ada, free class, nih! Terus, yang cowok itu siapa?"

"Dia Mosi. Yang sering aku ceritain itu lho,"

Gani menjentikkan jari telunjukknya. "Ah! Sahabat lo yang pindah ke Kalimantan dulu itu? Itu namanya Mosi? Gue kira dia jelek lho! Tapi ternyata ganteng juga yaaa! Hihihi, nambah deh stok coga---"

Ucapan Gani terpotong begitu saja saat melihat Mosi yang datang begitu saja sambil membawa satu mangkok soto ayam.

"Nam, mau gue beliin soto juga gak?" Ucapnya santai.

Gani sedikit lega karena Mosi tidak menyadarinya saat ia memuji cowok itu diam-diam.

Ira menggeleng. "Nggak. Aku udah makan di rumah tadi pagi."

Mosi mengangguk dan memulai makan soto ayamnya yang masih berasap itu. Disaat satu suapan telah ia telan, ia berkata sambil melihat ke manik mata Gani, "oh ya, buat lo. Makasi udah bilang gue ganteng."

Gzzzz! Ternyata dugaan Gani salah!

Wajah Gani merah seketika. Sementara, Ira berusaha menahan tawanya.

***

"Gue malu, gue malu, gue malu!" Sudah berapa kali Gani mengucapkan dua kata itu berulang-ulang?

"Santai aja sama Mosi, Ni." Ira mencoba untuk menenangkan sahabatnya yang kini sedang menutup wajahnya dengan kedua tangan itu.

Gani perlahan melepaskan tangannya dari wajahnya yang masih merona merah. "Santai apanya, Ra?! Dia jelas-jelas mukanya songong gitu! Sumpah, gue nyesel bilang dia ganteng."

Ira tertawa sekilas. "Eh, itu Pak Saleh udah ngebel-ngebel. Pulang sana, gih!"

Pak Saleh adalah supir Gani sejak ia SMP, Ira tahu beliau karena Ira dan Gani memang satu SMP. Namun, dulu mereka tak sedekat sekarang.

"Guenya malah diusir!" Gani bangkit dari tempat duduk halte yang ia duduki tadi.

"Oh iya! Gue belum ke kedai lo. Waktu weekend aja yaaa? Buka kan?"

Ira mengangguk. "Ajak keluargamu, Pak Saleh, Mbok Ratna, Mang Jono, juga ya!"

Ira menyebutkan semua pekerja di rumah Gani yang mewah.

"Mereka nggak bakal mau, nggak enak sama bos katanya. Hahaha." Ujar Gani tertawa

Ira pun ikut tertawa. Memang, pekerja di rumah Gani sangat taat dan sopan. "Iya udah ajak keluargamu aja kalo gitu. Biar kedainya ramai pokoknya!"

"Oke, kalau mereka gak sibuk pasti gue ajak. Eh, btw gak tau gue taroh dimana muka gue besok kalo ketemu Mosi. Pasti bakalan cang---"

Tin, tin, tin...

Kedai IramaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang