lima belas - mereka yang bingung soal perasaan

66 1 5
                                        

PART KELIMA BELAS : mereka yang bingung soal perasaan

***

"Namun kau tahu, cinta tak bisa, tak bisa kau salahkan. Jangan kau pilih dia, pilihlah aku. Yang mampu mencintamu lebih dari dia."
-cinta dan rahasia, yura.

***

Mata Gani melotot kala merasakan tangannya yang sedang membawa bungkusan cilok tiba-tiba terasa dingin.

Saat Gani menoleh, ia mendapatkan Mosi yang membawa sebungkus chips dan botol air mineral dingin, lalu dengan santainya duduk di sebelah Gani. Gadis itu berteriak kencang, "sialan! Gue kaget tau! Kalo gue jantungan gimana? Lo mau tanggung jawab, hah?"

"Santai dulu, woi." Ucap Mosi seraya membuka bungkusan chips berwarna hijau itu.

Gani mendengus dan ikut membuka bungkusan cilok yang dibawanya.

Mereka kali ini sedang berada di rooftop sekolah. Gani memang sering kesini, bersama Ira. Namun, Ira sekarang sedang berada di perpustakaan. Ingin mencari bahan untuk membuat tugas, katanya. Kalau Gani, boro-boro, deh ke perpustakaan. Kata Gani, sih, mending lihat pemandangan dari atas dan menikmati semilir angin daripada penglihatannya dipenuhi oleh buku, buku, dan buku. Semakin stress.

Walaupun Gani tahu, perpustakaan itu penting. Banget malahan. Tapi, Gani ya Gani.

"Lo ngapain kesini?" Tanya Gani, memejamkan matanya, menikmati angin yang sedari tadi berhembus kencang, menyebabkan rambutnya yang dikuncir kuda sedikit berantakan.

Mosi menoleh, "nyariin lo."

"Gue serius, Mos."

"Iya, gue serius. Gue tadi di perpus. Nemenin Ira. Tapi gue bosen. Gue tanya Ira, lo dimana, katanya di rooftop." Jelas Mosi.

Gani mengangguk tanda mengerti. "Tumben," gumamnya.
"Btw, kok lo nggak sama temen-temen cowok, sih? Udah pada kenalan 'kan?" Tanya Gani.

Mosi itu gampang bergaul. Ia SKSD. Jadi lebih gampang mencari teman. Ia juga sudah akrab dengan semua teman sekelas lelakinya. Juga teman eksulnya.

"Lagi males. Mereka katanya mau tauran. Gue nggak mau deh ikut gitu-gituan."

Gani tersenyum. Tumben ada lelaki macam Mosi yang pernah ia temui. Walaupun Mosi memang menyebalkan, tapi jujur, Gani terpukau dengan Mosi. Katakanlah Gani munafik. Ia sering marah-marah tidak jelas kepada lelaki itu, semua itu karena ia tidak bisa menahan gejolak hatinya yang berirama kencang saat berada di dekat Mosi. Hanya kata-kata mencibirlah yang bisa keluar dari mulut Gani saat bersama Mosi.

"Polos banget sih lo," ujar Gani seraya tertawa kecil.

Mosi menaikkan alisnya, "tumben muji gue."

"Hah? Gue bermaksud ngejek lo, lho. Bukan memuji. Sorry." Elak Gani, membuang mukanya.

"Gue anggep lo tadi muji gue."

"Iya deh, terserah lo. Lagi males debat." Ucap Gani.

Mosi terkekeh. Seketika ia bangkit. Melihat itu, Gani langsung memanggilnya."lo kemana?"

Mosi menoleh, "mau buang sampah. Takut banget gue tinggal, ya?"

Wajah Gani memerah. Sial. Dirinya terlalu khawatir.

Setelah membuang sampah, Mosi pun duduk lagi di samping Gani yang masih memakan ciloknya.

"Gani," panggil Mosi.

Kedai IramaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang